Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ngaku Anggih Atasi Erupsi Gunung Agung, Wong Samar Disengker

I Putu Suyatra • Sabtu, 25 Agustus 2018 | 19:19 WIB
Ngaku Anggih Atasi Erupsi Gunung Agung, Wong Samar Disengker
Ngaku Anggih Atasi Erupsi Gunung Agung, Wong Samar Disengker


BALI EXPRESS, AMLAPURA - Gunung Agung yang bergolak hingga statusnya Awas beberapa waktu  lalu, salah satunya ditengarai karena mangkraknya pembangunan Pura Penataran Agung Nangka, yang merupakan palinggihan Ida Bhatara Tohlangkir. Seperti apa kisahnya, dan apa itu Ngaku Anggih?


Pembangunan Pura Penataran Agung Nangka yang sempat mangkrak di tahun 2016 lalu, akhirnya kini berangsur selesai dibangun. Pamlaspasan  pura yang terletak di Desa Pakraman Nangka, Bhuana Giri, Bebandem, Karangasem ini, digelar Sabtu (11/8) lalu.



Pura yang diyakini memiliki kaitan sejarah dengan Gunung Mahameru yang terletak di Pulau Jawa ini, telah ada sejak tahun 1700 – an. Bendesa Adat Desa Pakraman Nangka, Ketut Oka memaparkan, paska erupsinya Gunung Agung  tahun 1963, Pura Penataran Agung Nangka luluh lantah ditimpa material Gunung Agung. “Pura ini termasuk Pura Sad Kahyangan. Nah, setelah hancur karena erupsi, akhirnya Gubernur Bali waktu itu,  Dewa Made Brata  tahun 2004 membantu untuk  merenovasi pura. Namun sayang, renovasi belum selesai  hingga tahun 2006, dan akhirnya mangkrak sampai di penghujung tahun kemarin.


Gunung Agung ngamuk, akhirnya kami Desa Pakraman dan pemerintah daerah Ngaku Anggih atau berjanji untuk melanjutkan renovasi. Setelah renovasi berjalan, percaya atau tidak Gunung Agung malah lebih tenang,” ujarnyabkepada Bali Express ( Jawa Pos Group ) pekan kemarin.



Ngaku Anggih merupakan sebuah janji yang dibuat secara niskala guna menyelesaikan sesuatu masalah.  “ Yang dijanjikan adalah penyelesaian palinggihan beliau berupa Pura Penataran Agung Nangka,” ungkapnya.



Paska Gunung Agung erupsi di penghujung tahun 2017, lanjutnya, banyak sulinggih yang datang dan mengaku mendapatkan petunjuk niskala tentang Pura Penataran Agung Nangka. “Ada pawisik, agar Ida Bhatara Gunung Agung di Pura Penataran Agung diselesaikan segera. Ya wajar saja Gunung Agung mengamuk, pura ini kan milik beliau, pengusungan beliau. Kita manusia yang selama ini terkesan melupakan. Sejatinya tak melupakan karena  kami dari desa adat sempat mengajukan kembali untuk renovasi pura ini ke pemerintah daerah dan provinsi, namun tak pernah direspon,” ungkapnya.



Belum usai direnovasi, gempa terjad.   Beruntung pura yang terletak di punggung Gunung Agung ini tak mengalami rusak  fatal. “Tidak ada kerusakan fatal, hanya Padma Tiga dan lingih Dewi Danu yang sedikit rusak. Namun tidak seluruhnya roboh. Coba perhatikan, kalau dilogikakan seharusnya jatuhnya menimpa hiasan ekornya naga, tapi  jatuhnya ke arah lain,” ungkapnya.


 



Dikatakan Oka, sejarah Pura Penataran Gunung Agung ada kaitannya dengan sejarah adanya Gunung Tohlangkir. “Gunung Tohlangkir atau yang sekarang kita sebut Gunung Agung ini adalah puncaknya Gunung Mahameru yang ada di Jawa,” ungkapnya.


Ia menjelaskan, dahulu di awal penciptaan Pulau Dewata, pulau ini konon terbilang sangat ringa,  sehingga dapat dibawa arus berpindah – pindah lokasi. Untuk mengatasi masalah tersebut, akhirnya Dewa Brahma mengirim anak buahnya memindahkan Puncak Gunung Mahameru ke Pulau Dewata agar tetap ajeg. “ Gunung Mahameu kan sangat besar dan berat, meski hanya ujungnya saja ukurannya dirasa sangat membebani jika dibawa utuh. Akhirnya mereka membawanya dengan cara membagai sedikit demi sedikit,” ungkapnya.



Tak disangka bagian – bagain gunung tersebut  justru jatuh berserakan di beberapa tempat di Pulau Dewata. “ Bagian yang jatuh itu konon kini menjadi bukit – bukit, seperti Puncak Mangu, Puncak Bhur Bwah Swah, dan bukit lainnya. Nah Puncak  dari Gunung Mahameru itulah yang kini kita sebut Gunung Agung,” ungkapnya.



Ketika ditanya  bagaimana kaitannya Pura Penataran Agung Nangka dengan Gunung Agung? Ketut Oka menjelaskan, secara niskala Bhatara yang distanakan di Gunung Agung adalah Bhatara Putran Jaya, putra dari Bhatara Semeru yang diberikan tugas oleh Bhatara Brahma untuk menjaga Pulau Dewata, agar tetap ajeg, tegak, dan tidak lagi berpindah.



"Bhatara Putran Jaya memiliki palinggih di Pura Penataran Agung Nangka, yakni di Lingga Padma Tiga di sebelah timur,” ujarnynya.



Desa Pekraman Nangka yang terletak di Kecamatan Bhuana Giri, Bebandem, Karangasem ini, terbilang unik. Berada tepat di punggung Gunung Agung membuat wilayahnya sedikit terisolasi. Hal itu menjadikan Desa Pakraman Nangka kaya akan peninggalan artefak maupun budaya dari masa lalu.
Salah satu tradisi unik yang masih dipertahankan hingga saat ini adalah Upacara Nyengker Setra. Prosesi ini dimaksudkan untuk membersihkan sekaligus menjaga mereka yang tak terlihat (wong samar) atau Bhutakala yang mengganggu prosesi Karya Agung di Pura Penataran Agung, Nangka yang akan dilaksanakan hingga 24 September mendatang.



“ Dalam upacara Nyengker Setra menggunakan beberapa bebantenan sebagai persembahan untuk mereka yang tak kelihatan agar tidak mengganggu. Setelah itu kita sengker agar mereka tidak bisa masuk ke areal desa dan lingkungan penduduk,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan, Drs. I Putu Arnawa, S. Ag. Msi, pekan lalu.



Ia menambahkan, ada satu aturan unik yang tidak boleh dilanggar masyarakat desa pakraman, yaitu selama prosesi Karya Agung masyarakat tidak boleh menghaturkan banten soda ataupun segala bentuk nitya yadnya di bale. “Jadi, tiak boleh ada yang menghaturan soda untuk leluhurnya. Karena wilayah desa, setra, dan semua sudut desa telah kami sengker. Jika aturan itu dilanggar, dipercaya karya yang akan berlangsung hingga 24 September  terancam gagal,” ujarnya.



Arnawa mengungkapkan, selama prosesi Karya Agung hingga puncak acara, masyarakat diharuskan menghaturkan Banten Danan, Segehan Agung, Cau – cau, Ayunan Putih Kuning dan Pajati. “ Banten itu dihaturkan kepada Ida Bhatara Dalem Peed, sebagai penguasa mereka yang tak terlihat,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketut Oka berharap kedepannya, pura yang diempon 600 kepala keluarga dari dua banjar adat, yakni Banjar Adat Buntus dan Banjar Adat Nangka tetap ajeg. “Memang saat ini diempon 600 KK. Namun, ini pura Sad Kahyangan, artinya semua orang yang ada di Bali maupun luar Bali punya hak untuk sembahyang ataupun ngayah. Saya berharap semoga kedepannya Bali tetap ajeg, dan dijauhkan dari bencana,” tandasnya. (habis)

Editor : I Putu Suyatra
#pura unik #hindu #pura #karangasem #sejarah pura