BALI EXPRESS, DENPASAR - Warga dan pangempon Pura Botoh, Panjer, Denpasar, saat piodalan Purnama kemarin menggelar upacara khusus, Mlaspas dan Pasupati Palawatan
yang berbentuk tapel Ratu Gede dan Ida Bhatara Dalem Sidakarya. Bagaimana muasal Pratima ini ada di Pura Botoh?
Prosesi Pamlaspasan umumnya dikenal sebagai penyucian suatu tempat dan diselenggarakan seusai membangun dan merenovasi pura ataupun tempat tinggal. Namun, prosesi Pamlaspasan juga dapat dilakukan untuk menyucikan Palawatan (Pratima) atau benda yang disakralkan yang diyakini sebagai manifestasi dari kekuatan niskala yang berstana di kawasan tersebut. Seperti yang dilakukan di Pura Botoh, Panjer, Denpasar, Purnama (26/8) akhir pekan kemarin.
Pura yang terletak di Jalan Tukad Melangit, Banjar Antap Desa Pakraman Panjer ini, merenovasi Pelawatan (pratima) yang berbentuk tapel Ratu Gede dan Ida Bhatara Dalem Sidakarya.
“Palawatan itu sudah sepuluh tahun tidak direnovasi. Karena kondisinya juga sudah mulai memprihatinkan, maka itu kami putuskan untuk memperbaikinya. Ketika Palawatan tersebut turun dari palinggihannya, otomatis nilai kesakralannya berkurang. Lewat prosesi Pamlaspasan dan Pasupati, kami ingin mengembalikan energi dan kesakralannya,” ujar Pemangku Pura Botoh, Jero Mangku Niang AA Setia Ningsih kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin. “Palawatan itu sudah sepuluh tahun tidak direnovasi. Karena kondisinya juga sudah mulai memprihatinkan, maka itu kami putuskan untuk memperbaikinya. Nah, ketika pelawatan tersebut turun dari palinggihannya, otomatis nilai kesakralannya berkurang. Lewat prosesi Pamlaspasan dan Pasupati kami ingin mengembalikan energi dan kesakralannya,” ujar Jero Mangku Niang.
Dijelaskannya, Mlaspas terdiri dari dua kata, yaitu Mlas yang berarti pisah, dan Pas yang berarti cocok. Jika dijabarkan secara makna, Mlaspas berarti sesuatu baik berupa bangunan, Palawatan ataupun benda sakral lainnya yang dibuat dengan berbagai unsur berbeda dan kemudian disatukan menjadi sesuatu yang berguna atau difungsikan.
"Tujuan dari Mlaspas, lanjutnya, untuk membersihkan dan menyucikan benda ataupun bangunan baru secara niskala agar layak digunakan dan ditempati,” ujarnya.
Ia menjelaskan, seusai melaksanakan Pamlaspasan lantas dilanjutkan dengan prosesi Pasupati Palawatan. "Ketika proses memperbaiki itu, Palawatan itu dinilai sudah tidak suci. Jadi, disucikan dulu lewat prosesi Pamlaspasan, dan setelah itu energi niskalanya akan disisi ulang kembali lewat prosesi Pasupati,” paparnya.
Prosesi diawali dengan ngunggahan banten yang dipimpin dan dipuput langsung Ida Peranda Putra Gede Telabah dari Griya Telabah Tegal Lantang. Setelah itu akan langsung dimulai prosesi Pamlaspasan dan dilanjutkan dengan prosesi Pasupati. "Tengah malam dilakukan prosesi Nganyutin sebagai bentuk penyucian terakhir sebelum Palawatan tersebut dilinggihkan atau distanakan kembali,” paparnya.
Ketika ditanya mengapa di Pura Botoh terdapat sebuah Palawatan Ida Dalem Sidakarya? Jero Mangku yang memiliki dua orang anak ini menuturkan, di Pura Botoh berstana Mpu Manik Angkeran. “Jika dilihat sejarahnya, Ida Manik Angkeran memang memiliki kaitan dengan Pura Dalem Sidakarya. Namun, alasan secara khusus kenapa ada Palawatan Dalem Sidakarya di sini, karena kebetulan bahan baku yang digunaka Tapel Palawatan dari Pura Taman Dalem Sidakarya. Memang pawisik dan paica beliau, setelah diproses menjadi sebuah tapel, secara ajaib berbentuknya seperti yang ada sekarang. Kami tidak pernah berencana atau memesan khusus bentuknya akan seperti itu,”ungkapnya.
Seperti yang diceritakan Jero Mangku Istri, Dang Hyang Bang Manik Angkeran ketika mendengar percakapan ayah dan ibunya bahwa kekayaan yang dimilikinya tidak akan pernah habis karena diberikan oleh sahabatnya, yakni Ida Hyang Naga Basuki yang tinggal di Gunung Tohlangkir.
Karena rasa penasaran yang sangat tinggi, akhirnya diam-diam, Dang Hyang Bang Manik Angkeran pergi ke Gunung Tohlangkir untuk bertemu dengan sahabat ayahnya tersebut. "Dalam perjalanannya menuju Gunung Tohlangkir, Dang Hyang Bang Manik Angkeran harus melewati hutan belantara naik bukit turun jurang. Kemudian, sebagai pegangan agar tidak terjatuh, Dang Hyang Bang Manik Angkeran memotong ranting taru (pohon) sebagai tongkat untuk membantu perjalanan beliau,” jelasnya.
Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya Dang Hyang Bang Manik Angkeran sampai di suatu tempat, namun di tempat tersebut kebingungan tidak tahu arah menuju Gungung Tohlangkir. Tiba-tiba di tengah kebingungan tersebut, terdengar suara gaib yang intinya ingin membantu perjalanan Dang Hyang Bang Manik Angkeran.
Karena hanya suara saja, yang terdengar, Dang Hyang Bang Manik Angkeran tidak percaya sebelum makhluk tersebut menampakan wujud sebenarnya. Kemudian muncullah dua makhluk gaib sejenis Jin yang ternyata makhluk tersebut adalah sahabat ayahnya yang sengaja membuntutinya karena Dang Hyang Bang Manik Angkeran pergi tanpa sepengetahuan ayahnya.
Dikatakannya, Jin tersebut bernama Jin Lekap Sakti dan Jin Jaba Sakti. Setelah melalui pembicaraan panjang, akhirnya kedua Jin itu bersedia mengantarkan Dang Hyang Bang Manik Angkeran sampai ke tempat tujuan, namun dengan satu syarat sebagai bukti bahwa kedua Jin tersebut telah bertemu dan menolongnya, Jin tersebut menohon Dang Hyang Bang Manik Angkeran bersedia menancapkan tongkat yang dibawanya di tempat tersebut.
Dang Hyang Bang Manik Angkeran akhirnya setuju, dan setelah tongkat tersebut ditancapkan, keluarlah sinar merah kekuning-kuningan, dan sinar itulah yang dikatakan Jro Istri sebagai Sinar Botoh (bahasa Sannsekerta).
“ Tempat yang ditancapkan tongkat kemudian tumbuh pohon beringin dan kemudian dinamakan Pura Botoh hingga saat ini. Jadi, pura Botoh bukanlah pura untuk para babotoh, melainkan pura tempat stana dari Dang Hyang Bang Manik Angkeran beserta dengan keturunannya, yakni Ida Bhatara Bang Banyak Wide (Arya Wang Bang Pinatih), Ida Bhatara Bang Tulus Dewa (Arya Wang Bang Sidemen), Ida Bhatara Bang Waya Biya (Arya wang Bang Waya Biya), dan Ida Bhatara Sira Bang Agra Manik (Sira Agra Manikan)," pungkasnya.