BALI EXPRESS, DENPASAR - Tantra bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Hindu di Bali. Bahkan, ajaran Tantra telah banyak diaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari umat Hindu.
Master Tantra asal India, Shri, Sri 1008 Shri Pihapem Phitadiswara, Tantrik Yogi Rhames Ji Maharaja, mengatakan, ajaran Tantra adalah sebuah pengetahuan yang mengajarkan tentang inti kehidupan.
Dalam ajaran agama Hindu, lanjut tokoh spiritual dari Allahabad, India Utara ini, Tantra sebagai salah satu jalan yang dapat menuntun manusia untuk mencapai Moksa.
“Di India, Tantra disebut juga sebagai Weda kelima. Weda yang satu ini diturunkan melalui cara – cara khusus yang disebut kehidupan. Ketika zaman Mahabaratha, Tantra diketahui oleh seluruh raja dan penguasa kerajaan sebagai pengetahuan rahasia,” ungkap pria yang selalu memakai pakaian berwarna merah ini, ketika ditemui Bali Express ( Jawa Pos Group) di Ashram Paramadharma, Padanggalak, Sanur, kemarin.
Dikatakan pria brewok yang juga ahli mengobati beragam penyakit, terutama akibat black magic ini,
banyak bukti dan sejarah yang membuktikan Tantra telah dilakukan sejak dahulu. Tantrik Yogi Ramesh yang didampingi Rasa Acharya Prabhuraja Darmayasa ini, mencontohkan kisah sang Rama. "Rama sesungguhnya terlahir dari istimewanya kekuatan Tantra. Rsi Sringgi yang merupakan ayah dari Rama sempat tidak memiliki anak dalam waktu yang lama. Hingga akhirnya ia memiliki beberapa putra yang di antaranya adalah Rama dan Laksmana,” ujarnya.
Ditegaskan pria yang sangat doyan dengan kentang goreng ini, dalam ajaran Tantra tidak memandang sesuatu kotor, baik ataupun buruk. “Dalam Tantra semua hal yang diciptakan Tuhan adalah baik. Tidak ada hal yang buruk dalam Tantra. Tantra juga tidak mengkotak – kotakkan hal baik dan buruk. Yang ada hanya kita sebagai manusia dengan sudut pandang berbeda memandang Tantra berbeda beda Tantra juga dikatakan sebagai inti dari Ilmu Pengetahuan, ” ujarnya.
Ramesh yang juga instruktur yoga dan punya kemampuan untuk membuka mata ketiga dan pengobatan ini, menegaskan, Tantra adalah sebuah inti ilmu yang dapat berkembang dan diperluas seiring berjalannya kehidupan. "Tantra memiliki banyak sudut pandang berbeda sesuai siapa yang memandangnya," bebernya.
Ramesh mencontohkan tukang daging yang menyembelih daging, lalu mempersembahkannya kepada Dewa. Setelah usai pemujaan, daging tersebut ia makan bersama keluarganya. Seiring waktu, giginya sudah tak mungkin memakan daging, dan ia pun tak pernah terlihat lagi melakukan pemujaan dan menghaturkan daging. Alasannya, karena ia tak mampu menggigit daging usai pemujaan.
“Jadi, prosesi pemujaan itu salah satu bentuk Tantra, dan tukang daging adalah manusia yang melihat Tantra dengan caranya. Tuhan tidak meminta kita harus menghaturkan ini dan itu, itu hanya masalah sudut pandangnya. Seperti tukang daging itu, ia melakukan pemujaan dengan menghaturkan daging karena ia ingin makan daging itu setelah prosesi usai. Ketika ia tak lagi dapat memakan daging, ia berhenti melakukan pemujaan dengan daging itu, " terangnya.
Artinya, lanjut Ramesh, Tantra itu hanya sebuah titik dan diperluas sesuai sudut pandang masing – masing yang memandangnya.
Editor : I Putu Suyatra