Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Makna dan Rangkaian Siat Api di Pura Dalem Kahyangan Tuban

I Putu Suyatra • Selasa, 25 September 2018 | 03:41 WIB
Ini Makna dan Rangkaian Siat Api di Pura Dalem Kahyangan Tuban
Ini Makna dan Rangkaian Siat Api di Pura Dalem Kahyangan Tuban

BALI EXPRESS, MANGUPURA - Setiap pura untuk mengawali piodalan adalah mendak tirta ataupun ngebejiang. Namun berbeda dengan Pura Dalem Kahyangan Tuban, Badung. Sebab di sana, syaratnya adalah siat geni (perang api). Setelah itu baru prosesi piodalan dapat dijalankan sebagaimana mestinya.


Hal itu diungkapkan Pemangku Pura Dalem Khayangan Tuban, Jero Mangku Gede atau yang bernama Jero Mangku Sudiana saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group). Dia menjelaskan bahwa siat geni harus melewati beberapa prosesi, sehingga pelaksanaannya dapat dikatakan lancar secara sekala dan niskala. Terlebih sejarahnya dikatakan sudah mulai diselenggarakan pada pertengahan abad XV.


“Sekitar tahun 1480 siap geni sudah dilakukan di sini. Yaitu bertepatan dengan Purnama Kapat, sehingga disebut upacara ngapat oleh leluhur kami. Sedangkan tattwanya diambil dari kala tattwa, dan panca durga sebagai dasarnya,” terangnya di Tuban, Badung, Senin (24/9).


Mangku Sudiana mengaku, bahwa tradisi siat geni dihaturkan kepada lima ancangan agar tidak mengganggu prosesi upacara piodalan. Ia menjelaskan pertama dihaturkan kepada Kala Geni Rudra, yang harus dipersembahkan khusus perang api tersebut. Sedangkan sebelumnya juga ada prosesi yang dipersembahkan kepada Sang Kala dengan melaksanakan menyembelih babi di pelataran pura pada bagi buta. Sehingga di sana adanya cucuran darah binatang berkaki empat sebagai suguhannya.


Selanjutnya ia menjelaskan ada Kala Wisaya yaitu dipersembahkannya darah dari binatang berkaki dua. Hal tersebut dilakukan dengan pelaksanaan tajen selama lima hari, sesuai jumlah yang dipersembahkan. “Melalui tajen ini, maka secara langsung cucuran darah binatang berkaki dua ini menyentuh tanah di jaba sisi pura. Itu dilakukan selama lima hari berturut-turut sebelum siat api dilakukan,” terang pria mantan pengusaha tersebut.


Keempat, ia mengaku dihaturkan persembahan kepada Kala Katung yaitu dengan melakukan pecaruan di Pasar Agung, yang ada di dekat pura. Sedangkan yang kelima ia mengaku persembahan ditujukan kepada Kala Ngadang, yaitu dengan melakukan prosesi pecaruan di tengah jalan perempatan agung.  Atau yang kerap disebut dengan  catus pata.


“Nah, untuk melengkapi prosesi ngapat ini maka dilakukannya siat geni. Tanpa upacara siat geni upacara pokok tidak dapat dijalankan. Sehingga semua prosesi itu sebagai satu kesatuan dan saling berkaitan satu sama lain,” papar dia.


Ditanya dengan bahan yang digunakan dalam perang api, Mangku Sudiana menjelaskan mempergunakan sabut kelapa yang kering. Bahkan sebelum dilakukannya perang juga ada prosesi khusus. Yaitu menyiapkan tempat dengan sesajen khusus secara niskala bahwa areal tersebut sebagai tempat perang. Tepatnya ada di jaba sisi pura sebelah timur.


Sedangkan peserta perang dilakukan dengan dua kubu, yaitu yang beranggotakan sekitar 40 sampai 60 orang. “Pesertanya juga tidak sembarangan, karena harus dilakukan oleh pemuda yang baru menek kelih (menginjak remaja). Karena masa itu semangat dan egonya masih tinggi, saat itulah mereka gampang dimasukkan rencangan Kala Geni dan semangat berperang,” terang dia.


Namun sebelum perang, mereka berada di jeroan pura dengan diperciki tirta pasupati. Sekaligus memundut korek api berbahan kayu yang sudah dipasupati juga untuk menghidupkan sabut kepala tersebut di areal perang. Karena telah diperciki tirtha pasupati, sehingga kulit mereka terasa kebal dan kena api tidak akan terasa.


“Ketika diperciki tirta itu, otomatis badan mereka tidak kenapa jika kena api. Begitu juga ketika masuk ke tempat perang, semangat mereka secara otmatis akan berapi-api ingin berperang. Hanya saja secara sekala prosesinya diatur kapan menyerang kapan bertahan,” ungkapnya. 


Sedangkan pemudinya memiliki tugas menari memendet dan memendak sasuhunan saat perang berlangsung. Perang tersebut berlangsung pada pukul 19.00 hingga pukul 21.00 paling lambat. Setelah itu peserta perang tidak boleh pulang begitu saja. Namun harus kembali ke jeroan pura untuk diperciki tirtha praline bhuta.


Di sana dianggap bhuta yang memasuki badan peserta perang akan lepas lagi setelah disuguhkan api tersebut. Selanjutnya para peserta diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing harus mandi dan keramas. Setelah itu baru kembali kepura, maka di sana prosesi upacara piodalan dapat dihaturkan.


 


“Dengan demikian, maka prosesi persembahan kepada bhuta sudah berlangsung, sehingga menghaturkan sesajen keluhur sudah dapat dilakukan. Sedangkan bhuta juga sudah tidak akan mengganggu prosesi piodalan yang berlangsung sehari ini,” imbuh Mangku Sudiana.


Pantauan koran ini, saat pelaksanaan siat geni tampak kedua kubu saling bergantian mengenai musuhnya dengan api yang hidup di sabut kepala tersebut. Seakan-akan mereka tidak ada yang merasakan kepanasan terlebih mengalami luka bakar. Di samping itu memang pesertanya pemuda yang baru remaja, sehingga tampak sangat bersemangat berapi-api. 

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #tradisi #tradisi unik #badung