Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Stigma Klenik pada Keris Pusaka Bikin Keris Kuno Nyaris Punah

I Putu Suyatra • Kamis, 25 Oktober 2018 | 22:53 WIB
Stigma Klenik  pada Keris Pusaka Bikin Keris Kuno Nyaris Punah
Stigma Klenik pada Keris Pusaka Bikin Keris Kuno Nyaris Punah


BALI EXPRESS, DENPASAR - Sama seperti halnya lontar, Keris di Bali sangat identik dengan mitos, kepercayaan dan unsur klenik. Tapi, keris di era modern tak lagi berfungsi sebagai senjata. Kini keris difungsikan sebagai simbolisasi. Salah satunya dalam upacara pernikahan. Selain itu, keris acapkali digunakan dalam berbagai upacara lainnya.


Keris merupakan senjata tikam yang digolongkan dalam senjata belati. Selain digunakan sebagai senjata, keris juga merupakan simbol kedudukan strata sosial di tengah masyarakat khususnya masyarakat Bali dan Jawa. Fungsi sebagai simbol strata sosial  dapat terlihat dari bentuk dapur, luk dan pamor yang terdapat pada keris itu sendiri.


Kini di Bali, keris tak lagi digunakan sebagai senjata. Keris lebih banyak digunakan sebagai sarana simbolik dalam berbagai upacara adat dan keagamaan. Sayangnya masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang perawatan keris, membuat keberadaannya nyaris punah. Hal itu yang dipaparkan Koordinator Pelaksana Pameran Keris Bursa 2018, Jro Mangku Tora pekan lalu.


Ia yang saat itu tengah menggelar Pameran keris Nusantara bersama Komunitas Setyaki Denpasar memaparkan kondisi dan keberadaan keris kuno begitu memprihatinkan. Adanya mitos, unsur klenik dan minimnya pengetahuan masyarakat mengenai perawatan keris membuat banyak keris tua kini mengalami korosi dan perubahan bentuk.


“Sampai saat ini teman - teman yang berprofesi sebagai pande besi memang masih produktif  untuk membuat keris. Namun yang memprihatinkan adalah keberadaan keris yang berasal dari abad terdahulu dan disimpan oleh para anak cucunya. Keris keris bersejarah itu kini kondisinya sangat memprihatinkan, sebab banyak di antara ahli waris hanya menyimpannya dan dikeluarkan untuk dibantenin ketika tumpek landep saja. Padahal keris membutuhkan perawatan juga agar tidak mengalami korosi dan akhirnya mengalami perubahan bentuk,” ujar Mangku Tora.


Baginya keris tua sangat berbeda dengan keris baru yang diproduksi saat ini. “Bedalah, keris memiliki bentuk dapur dan pamor yang berbeda dari masa ke masa. Keris bisa jadi merupakan prasasti yang tidak beraksara. Kenapa? Karena keris menyimpan memori apa yang terjadi pada zaman itu. Coba perhatikan keris – keris yang diproduksi pada masa majapahit misalnya bentuk dapurnya sekilas hampir serupa kan, bentuk dapur itu justru sangat berbeda dengan bentuk dapur keris yang di produksi di zaman modern ini!” ujarnya


Mangku Tora menambahkan  bentuk pamor dan dapur pada keris umumnya terinspirasi dari keadaan alam dan pemerintahan kala itu “Misalnya ketika ada bencana maka para pande besi secara tak sengaja dapat membuat bentuk yang menyerupai keadaan alam saat itu,” jelasnya. Melihat kondisi keris tua yang kini mulai langka, maka ia bersama komunitas Setyaki melakukan penyuluhan dan edukasi dengan cara door to door.


“Banyak penolakan yang kami dapatkan dari masyarakat, ada yang khawatir pusaka warisannya akan hilang ataupun rusak, ada yang merasa waswas akan terkena kutukan jika dikeluarkan tidak pada saat tumpek landep. Ada yang katanya harus maturan dua ekor guling dulu kalau mau membersihkan keris warisan, padahal kan justru karena sikap penolakan itu membuat keberadaan keris tua semakin terancam,” terangnya.


Selain edukasi door to door ia bersama komunitas Setyaki juga melakukan edukasi berupa pameran keris yang dilaksanakan di Musium Bali pada 19 – 22 oktober lalu. “Nah pameran ini juga sebagai salah satu upaya kami mengedukasi masyarakat. Keris itu sudah masuk dalam warisan budaya dunia, jika kita tidak menjaganya lalu hilang akhirnya diakui lagi oleh tetangga sebelah kan susah. Perawatan keris juga tidak susah,  dan tak perlu setiap hari melakukannya, setiap purnama atau minimal tiap enam bulan sekali ketika tumpek landep dibersihkan dan dirawat, saya jamin keris pusaka kita akan terjaga sampai anak cucu nanti,” terangnya.


Di luar mitos kualat jika mengeluarkan keris dari kotaknya, Jro mangku Tora mengimbau kepada masyarakat untuk tetap merawat keris tuanya. “Perawatan keris tua itu harus lebih ekstra dibanding keris yang dibuat dalam kurun waktu sepuluh tahun kebelakang. Kenapa? Karena keris tua umumnya sudah mengalami proses korosi maka itu langkah penanggulangannya memakan waktu lebih lama,” ungkapnya.


Jro Mangku Tora Berujar, jika memang masyarakat ragu untuk memberi kepercayaan kepada orang lain untuk merawat keris pusakanya, masyarakat bisa melakukan perawatan sederhana sendiri dirumah. “Bahannya sederhana kok hanya dengan buah kelapa, air jeruk, minyak singerdan (minyak khusus tembaga), dan cairan warangan masyarakat sudah bisa membersihkan dan merawat keris pusakanya,” ungkapnya.


Ia menerangkan, sebelum dibersihkan ada baiknya pemilik keris menyediakan wadah khusus untuk sarana pembersihan. Kemudian ambil sebuah kelapa muda dan air perasan jeruk nipis. “Campuran air kelapa dan air perasan jeruk nipis kedalam satu wadah. Bilas keris tua dengan cairan itu, perlahan – lahan saja. Gosok secara lembut dan perlahan agar kotoran yang menempel bisa dibersihkan. Khusus untuk keris yang telah berkarat ada baiknya direndam dahulu selama 3 hari dalam cairan itu agar karatnya berkurang,” terangnya.


Lanjutnya untuk membersihkan keris yang telah berkarat, pemilik keris harus menyikatnya perlahan dengan sikat gigi berbulu halus. “Kenapa disikat? Agar karatnya bisa hilang sebelum nanti dilakukan proses warang,” jelasnya.


Jika proses pembersihan keris telah selesai, bilas dan keringkan di tempat yang teduh. “Posisi pengeringannya pangkal atau tempat pegangan keris letakkan di bawah dan menyender ke arah atas. Jangan terkena matahari langsung, diangin – anginkan saja,” ungkapnya.


Jika telah kering merata, maka keris siap memasuki tahap  mewarangan. Warangan adalah bahan mineral yang mengandung unsur arsenik. Warangan berfungsi sebagai zat pengawet pada bahan logam seperti keris, pedang dan tombak agar tidak mengalami korosi dan berkarat. “Proses warangan dalam proses pemeliharaan keris saya rasa cukup penting, tapi sebaiknya tidak dilakukan terlalu sering karena akan menyebabkan keropos,”himbaunya.


Cairan warangan dibuat dari air jeruk nipis yang telah disaring kemudian dicampur dengan serbuk warangan. “Air jeruk nipis itu harus benar benar bersih dari ampas bulir dan biji jeruknya ya, lalu air itu di campur dengan serbuk warangan. Setelah tercampur rata, balurkan cairannya pada bilah keris yang telah dicuci bersih. Seteah itu celupkan keris seutuhnya dari ujung hingga pangkal keris pada cairan tersebut. Rendam selama beberapa saat. Jika sudah meresap lalu tiriskan sembari diangin – anginkan,” terangnya.


Lanjutnya, jika cairan warangan telah meresap dan kering , warna keris akan semakin menghitam dan semakin pekat. “Cairan warangan memang membuat warna keris muncul. Jika warna aslinya sudah muncul, bilas keris dengan air yang mengalir ya jangan dimasukan ke baskom lagi,” ujarnya terkekeh.


Ketika seluruh proses telah dilakukan, keris juga telah kering sempurna Jro Mangku Tora menghimbau untuk meletakannya di tempat yang kering dan tertutup. “Usahakan meletakannya pada tempat yang tertutup dan kering, agar tidak mudah karatan dan keropos,” tandasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#denpasar