Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Nuwek Kebo; Pralina Hewan untuk Tunggangan Para Dewa

I Putu Suyatra • Jumat, 26 Oktober 2018 | 15:42 WIB
Nuwek Kebo; Pralina Hewan untuk Tunggangan Para Dewa
Nuwek Kebo; Pralina Hewan untuk Tunggangan Para Dewa


BALI EXPRESS, BALI - Tak ada habisnya jika membicarakan betapa unik dan pingitnya segala prosesi yang dilaksanakan di Pura Kehen, Bangli. Sarana dan tradisi yang diterapkan tak pernah berubah sedikit pun, seperti halnya dalam prosesi Nuwek Kebo baru baru ini, yang mesti menggunakan keris khusus dan orang yang khusus juga.


Nuwek Kebo adalah tradisi menusuk (Nuwek) kerbau (Kebo) yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali, yang menjadi bagian dari rangkaian prosesi Usaba Dewa  di Pura Kehen, Bangli, Rabu (24/10) lalu.


Ketua Panitia Karya Panca Wali Krama lan Pangusabaan Ida Batara Turun Kabeh di Pura Kehen, Sang Made Suryawan mengatakan, kerbau yang digunakan bukan merupakan kerbau biasa. Namun, kerbau khusus yang disebut Kebo Yosmerana dan Kebo Anggrek Bulan.
Prosesi Nuwek Gede, lanjutnya, merupakan upacara penyucian hewan yang akan digunakan sebagai kendaraan para Dewa.


“Usaba Dewa adalah sebuah paruman para Dewa untuk mencari solusi dari masalah yang terjadi di dunia. Ibaratnya, para Dewa turun ke dunia agar dunia yang kacau balau menjadi lebih baik. Nah, Nuwek Kebo ini merupakan salah satu upacara pembersihan jiwa sang Kebo untuk dijadikan sebagai Lantaran atau tunggangan para dewa ketika akan turun ke dunia,” jelasnya pria yang juga dinamai Sang Mangku Gede Dalem Gede Selaungan.


Menurutnya, penggunaan atau penentuan Kebo Yosmerana dan Kebo Anggrek Bulan tercatat dalam Purana Pura Kehen, di mana nantinya Kebo Yosmerana akan dihaturkan di Sanggar Tawang dan Kebo Anggrek Bulan dihaturkan di Perselang,” ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group).



Nuwek Kebo atau Nuwek Lantaran Wewalungan, lanjutnya, merupakan prosesi penyucian Kebo sebelum upacara puncak Usaba Dewa dilaksanakan. “Daging Kebo itu bukan digunakan sebagai caru,  tapi digunakan sebagai Lantaran, yaitu sebagai tunggangan para Dewa,” jelasnya.



Dikatakannya, caru dengan Lantaran sangatlah berbeda, di mana caru merupakan persembahan yang dihaturkan kepada Bhutakala atau banten tebenan. Kalau yang Lantaran ini dihaturkan kepada para Dewa, bukan sebagai makanan, namun sebagai kendaraan. “Karena digunakan sebagai kendaraan sang Dewa, maka kedua Kebo itu harus disucikan terlebih dahulu lewat upacara mapralina. Di mana tubuh sang Kebo dibersihkan dan disucikan dengan banten pralina,” ujarnya.



Dalam ritual Nuwek Kebo tak hanya Kebonya yang khusus, tetapi juga keris yang digunakan adalah keris kuno yang telah ada di Pura Kehen berabad – abad  lalu. “Keris  Bhatara Sang Hyang Pasupati dipingit dan distanakan  di Meru Pura Kehen. Jadi, keris Khusus yang hanya digunakan ketika Nuwek Kebo dan prosesi Bagia Pula Kerthi,” jelasnya.



Sebelum prosesi Nuwek Kebo dimulai, Jero Gede Kehen bersama anggota Kedongmas melaksanakan Mendak Bhatara Sang Hyang Pasupati. “ Sebelum acara Nuwek, dipendak dulu Bhatara Sang Hyang Pasupatinya (keris pingit) untuk digunakan sebagai sarana Nuwek Kebo. Nah, yang diperbolehkan menggunakan keris tersebut adalah Jero Gede Kehen sebagai perwakilan tertinggi di Kedongmas,” terangnya.



Ketika prosesi dimulai, Jero Gede Kehen melakukan ritual tarian khusus sembari membawa keris yang diarahkan kepada kedua Kebo. “Tarian itu simbolisasi penyucian  jiwa sang Kebo yang nantinya akan dijadikan Lantaran atau tunggangan kepada para Dewa,” ujarnya. Setelah Jero Gede Kehen berhasil menusukkan keris pingit ke tubuh Kebo, maka darah yag menetes di keris kemudian diteteskan ke sebuah wadah tembaga khusus. Dan, penyembelihan Kebo tersebut kemudian dilanjutkan oleh para domas . “Darah, daging, dan seluruh bagian dari Kebo itu nantinya akan digunakan sebagai bagaian dalam upakara atau banten,” ungkapnya.


 

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #bangli #hindu #tradisi unik