Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sembuhkan Penyakit Cukup dengan Menepuk Tiga Kali Tubuh Pasien

I Putu Suyatra • Senin, 5 November 2018 | 18:13 WIB
Sembuhkan Penyakit Cukup dengan Menepuk Tiga Kali Tubuh Pasien
Sembuhkan Penyakit Cukup dengan Menepuk Tiga Kali Tubuh Pasien


BALI EXPRESS, TABANAN - Tak ada yang tahu tentang jalan hidup. Itulah kalimat  yang selalu diungkapkan Balian Jero Nyoman Dharmayuda. Pria kelahiran  14 Juli 1972 itu, mengaku tidak pernah menyangka akan menjadi seorang pengusadha. Jalan berliku harus dilewati, karena dihimpit masalah ekonomi, bahkan sempat menderita sakit yang tak jelas penyebabnya.


Jero Nyoman Dharmayuda mengaku pernah  menjadi buruh serabutan di Denpasar. "Waktu SMP saya juga sempat bekerja sebagai pengangon sapi. Dari hasil ngangon sapi saya bisa bantu  bayar uang sekolah kakak,” ujar  Jero Nyoman Dharmayuda, pekan kemarin kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di Tabanan.



Pria tambun berusia 46 tahun ini  bercerita, begitu sulitnya kehidupan yang harus dijalani semasa kecil. Ia bersama kakak dan adik perempuannya merupakan anak yatim yang harus berjuang untuk bekerja agar bisa membiayai sekolah dan hidupnya. “Saya tiga bersaudara, dan satu – satunya anak laki – laki yang harus bertanggung jawab kepada kedua saudara perempuan saya,” jelasnya.



Balian yang tinggal di Desa Pahyangan, Kecamatan Marga Tabanan ini menambahkan, ketika menginjak bangku SMA, ia diboyong kakak perempuan dan kakak iparnya ke Kota Denpasar .  “Tamat sekolah, kakak saya langsung menikah dan diboyong ke Kota Denpasar. Ketika itu saya ditawari untuk ikut ke sana, sekolah sembari bekerja,” terangnya.


Usia yang belia, ditambah statusnya yang masih seorang pelajar, membuatnya kewalahan mencari pekerjaan yang sesuai. Namun, semangat tingginya untuk hidup dan berjuang, membuatnya tak mudah menyerah dengan keadaan. Ia tak lagi dalam posisi memilih, karena yang penting kerja.


“Saya lakukan apapun pekerjaan yang bisa saya dapatkan, seperti jadi buruh bangunan, tukang jarit monte, dan semua pekerjaan serabutan saya lakukan agar bisa sekolah dan makan,” ungkapnya.


Selain menjadi buruh serabutan, ia sempat menekuni usaha ternak sapi. “Waktu itu saya beranikan diri untuk beternak sapi. Saya meminjam uang dan membeli 6 ekor anak sapi. Setelah besar dan siap  dijual, ternyata ada sapi yang dikatakan cacat dan tidak layak jual," akunya.



Hasil penjualan sapi yang tidak bermasalah, lanjutnya, habis digunakan untuk membayar utang. " Kami pernah tidak makan karena merugi. Mengingat kejadian itu rasanya saya kecewa sekali, kenapa Tuhan  membuat jalan hidup saya begitu susah. Tapi perlahan saya mengerti, ternyata ada hadiah besar yang Tuhan beri di balik penderitaan dalam hidup saya,” ungkapnya tersenyum.



Namun, sebelum menjadi seorang Balian, Jero Nyoman Dharmayuda ternyata pernah bercita – cita menjadi seorang angkatan. “Namanya juga orang desa, di mata saya, khususnya angkatan adalah sebuah profesi yang hebat. Hampir seluruh anak – anak di usia saya ketika itu ingin menjadi ABRI. Tapi, keinginan saya harus pupus karena faktor nasib,” ujarnya terkekeh.



Ia mengaku, demi mewujudkan cita – citanya menjadi seorang ABRI, sempat mendaftarkan diri sebagai calon prajurit  dua kali. “Hasilnya, sudah pasti tidak lolos. Kalau lolos mungkin sekarang saya sudah jadi jenderal,” ujarnya sembari tertawa kecil.



Tak disanggahnya sebelum akhirnya menerima anugerah sebagai seorang penyembuh atau Balian, Jero Nyoman Dharmayuda banyak mengalami  hal aneh.



“Ya, sering ada pawisik berupa mimpi. Saya mimpi sedang mundut tapakan Ida Bhatara. Mimpinya hampir serupa, tapi kadang saya mimpi sedang dikejar disuruh mundut Beliau. Awalnya saya sangat takut dan lari sekuat tenaga. Yang jelas saat itu saya merasa tidak siap disuruh mundut Beliau,” ujarnya.


Kemampuannya menjadi Balian diakuinya dari faktor keturunan. “Leluhur saya dahulu juga sebagai penyembuh. Tapi, saya tidak menduga dari sekian orang keturunannya, saya yang diberi kesempatan,” jelasnya.



Setelah mendapat mimpi yang serupa berulang kali, akhirnya ia sakit . “Saya sempat mengalami sakit parah selama beberapa bulan. Beberapa kali ke dokter ternyata tidak sembuh-sembuh, dokter yang didatangi juga berbeda, dan penyakitnya pun dikatakan berbeda dengam dokter yang didatangi sebelumnya. Saya akhirnya memilih pasrah,” ungkapnya.



Ia menjekaskan hingga sampai di suatu titik di tahun 2003, akhirnya ia memutuskan pasrah dan menerima anugerah dan suratan yang digariskan untuknya. “Di tahun 2003 adalah tahun titik balik saya. Saya berusaha pasrah, saya menerima apa yang seharusnya memang saya jalani. Dari rasa pasrah itu akhirnya penyakit yang saya derita berangsur sembuh. Dan, saat ini lewat anugerah Ida Bhatara, saya bisa ngayah ngobatin krama yang datang untuk nunas tamba,” ujarnya.



Ia menegaskan, tidak pernah berencana menjadi seorang Balian. “Tidak pernah menduga, dan berencana menjadi Balian. Ya begitulah hidup yang harus saya jalani ,” ujarnya.


Ketika ditanya siapa yang membantunya secara niskala? Jro Nyoman Dharmayuda  hanya terenyum. “Yang menuntun, beliau Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Ida Bhatara Sasuhunan saya,” ungkapnya.


 
Sejak 2003 hingga 2018, tentu telah banyak masyarakat yang datang untuk berobat maupun konsultasi dari berbagsi kalangan. Dalam sehari ia mengaku bisa melayani puluhan pasien dalam sehari. “Saya tidak pernah promosi ini dan itu. Saya hanya membantu siapa pun yang datang. Kalau ada yang datang ya saya layani.  Mereka datang dengan berbagai keluhan, ada yang sakit medis ada juga yang non medis,” terangnya.

Metode pengobatan yang digunakan juga cukup menarik. Pasalnya, hanya dengan tiga kali tepuk apa pun penyakitnya bisa langsung sembuh. “Mungkin bagi yang hanya mendengar saja dianggap mengada-ada atau lelucon. Saya tidak mengatakan bisa sembuh atau tidak, saya hanya membantu apa yang bisa saya bantu kepada mereka yang datang. Ingat bukan saya yang sakti, saya hanya perantara. Yang menyembuhkan adalah Beliau,” terangnya.



Lantas, bagaimana metode penyembuhan yang dilakukan? Pertama ia meminta kepada pasien agar nunas (memohon) kesembuhan kepada Tuhan dan leluhur masing – masing. Setelah itu, ia akan mendeteksi penyakit yang diderita pasiennya. “Biasanya akan saya cek di ujung jari – jari kaki dan jari tangan. Jika akibat medis akan terlihat karena mereka mulai merasa kesakitan. Tapi jika non medis, tanpa perlu disentuh ujung kakinya pun sudah kelihatan,” ujarnya.


Nah, setelah usai mendeteksi, Jero Nyoman Dharmayuda lantas menepuk tubuh pasiennya sebanyak tiga kali. “Metode menepuk ini saya temukan secara tidak sengaja. Waktu itu ada pasien yang datang dan tidak sengaja saya menepuknya, setelah itu langsung sembuh,” ungkapnya.



Ia berharap masyarakat Bali tidak hanya fokus pada pengobatan medis saja, karena penyakit medis dan non medis saat ini hampir serupa gejalanya. “Harus seimbang, pengobatan medis tetap dijalankan dan non medis pun demikian. Agar tidak terlambat penanganannya. Dikiranya medis, sudah  banyak biaya dihabiskan, ternyata penyakitnya akibat non medis,” tandasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#balian #tabanan