Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Layani Umat Andalkan Usada dan Pawacakan Melik

I Putu Suyatra • Jumat, 16 November 2018 | 19:31 WIB
Layani Umat Andalkan Usada dan Pawacakan Melik
Layani Umat Andalkan Usada dan Pawacakan Melik


BALI EXPRESS, DENPASAR - Setelah 17 tahun menggembleng dirinya, Ida Bagus Gede Ardana memantapkan diri untuk didiksa menjadi Sulinggih, 7 November 2018, bergelar Ida Pedanda Gede Batulumbang. Mantan Kepala Sekolah Taman Pendidikan (TP) 45 Denpasar ini, merasa terpanggil karena sudah empat generasi tak ada yang melanjutkan tradisi leluhurnya.


Memutuskan meniti hidup hingga ke jenjang Dwijati bukan hal  mudah. Pasalnya, kehidupan menjadi seorang yang disucikan, selain memiliki wewenang khusus, juga memiliki berbagai pantangan atau batasan. Inilah yang disebut dengan sesana Suliggih. Guna melaksanakannya, perlu batin, mental, hingga dukungan fisik yang prima.


Tak terlepas dari berbagai persyaratan yang ditetapkan oleh sastra dan lembaga umat, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Ida Bagus Gede Ardana memantapkan diri untuk didiksa dengan gelar  (Mabhiseka) Ida Pedanda Gede Batulumbang pada Buda Umanis Kulantir, bertepatan dengan Purnama Sasih Kalima, 7 November 2018 lalu. Ikut serta bersama beliau, sang istri Ida Ayu Alit Suryani bergelar Ida Pedanda Istri Raka Batulumbang dan Ida Ayu Nyoman Sri Artini dengan gelar Ida Pedanda Istri Rai Batulumbang. Sedangkan selaku Guru atau Nabe Napak, Ida Pedanda Gede Diksa Singarsa dari Griya Gede Mayun Manuaba, Banjar Babakan, Desa Cau Belayu, Marga, Tabanan. Selanjutnya Nabe Waktra, Ida Pedanda Putra Pasuruan, Griya Gede Taman Lukluk, Mengwi, Badung , dan Guru Saksi Ida Pedanda Made Oka Pasuruan dari Griya Oka, Desa Ayunan, Mengwi, Badung.



Keputusan Ida Bagus Gede Ardana untuk madwijati bermula ketika mantan Kepala Sekolah Taman Pendidikan (TP) 45 Denpasar ini, tertarik menekuni dunia spiritual. Apalagi sudah empat generasi tidak ada pelanjut Sulinggih di griyanya. “Sudah empat undag (generasi) kosong. Jadi tiang terpanggil untuk kembali meneruskan leluhur,” ungkapnya ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Griya Batulumbang, Banjar Piakan, Desa Sibangkaja, Kecamatan Abiansemal, Badung, Kamis (15/11) kemarin.



Berkenaan dengan itu, lulusan Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar ini, telah menyiapkan diri semenjak 2001 silam. Di samping menggali ilmu dari sastra agama, Ida Pedanda Gede Batulumbang juga aktif mengikuti berbagai kegiatan guna mengisi diri. “Jadi, sekitar 17 tahun tiang fokus untuk mengisi diri,” ujarnya.



Disinggung salah satu bidang yang ditekuni, selain memimpin upacara keagamaan, Ida Pedanda mengaku menekuni bidang Usada (pengobatan) dan Pawacakan, khususnya Pawacakan Melik. Pawacakan pada intinya berupa pengetahuan guna membaca karakter seseorang berdasar hari kelahiran. Sementara Melik adalah suatu istilah yang disematkan kepada seseorang yang terlahir pada hari tertentu, yang memiliki keistimewaan atau kelebihan. “Jika orang Melik diperlakukan dengan benar, maka ia akan memperoleh kehidupan yang sangat baik dan berusia panjang. Tapi jika tidak, maka bisa berusia pendek. Demikian menurut sastra,” jelasnya.



Bagaimana ciri orang melik? Ida Pedanda mencontohkan, yang bersangkutan memiliki kelebihan tertentu. Misalnya, kata dia, bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata. Ada pula yang memiliki keberuntungan tak seperti orang kebanyakan. Sayangnya, banyak orang tua yang tidak menyadari si anak melik karena tidak melakukan Pawacakan. Ketika si anak sakit, mengalami kecelakaan, bahkan meninggal, barulah orang tua yang bersangkutan sadar. “Jadi, sebetulnya orang tua perlu mengetahui Pawacakan si anak,” tegasnya.



Ida Pedanda melanjutkan, perlakuan bagi orang Melik patut diperhatikan. Di samping memerlukan perhatian ekstra, perlu juga dilakukan ruwatan. Hal ini lebih dikenal dengan Panebusan dan Pabayuhan. Umumnya, kata dia, upacara Panebusan dilakukan di Pura Dalem pada hari Kajeng Kliwon. Jika kondisi yang bersangkutan kurang bagus, maka selain ke Pura Dalem, bisa hingga ke Pura Prajapati. Bahka,  jika parah sekali, hingga ke Pamuhunan atau tempat pembakaran mayat di Setra atau kuburan. “Ini karena Pura Dalem adalah stana Tuhan sebagai Dewa Siwa. Beliau yang berwenang dalam hal ini,” terangnya.



Sementara itu, Pabayuhan bisa dilakukan di rumah, griya, atau tempat tertentu sesuai petunjuk Sulinggih. Hari yang dipilih hendaknya bertepatan dengan hari kelahiran yang bersangkutan atau yang biasa disebut tegak oton. Tegak oton ini secara periodik tiap enam bulan Bali atau 210 hari sekali. “Bayuh adalah bayah (bayar) dan dayuh (teduh). Jadi kita memohon karahayuan dan keselamatan melalui Pabayuhan,” terangnya lagi.



Ida Pedanda menegaskan, Melik bukanlah sesuatu yang buruk dan perlu ditakuti. Bahkan, ada yang berpandangan Melik ini harus dihaturkan atau dikembalikan kepada Ida Bhatara. Hal ini terkadang salah dipahami. Padahal, ujarnya, Melik adalah sebuah kelebihan atau keistimewaan yang melekat pada diri seseorang karena hari kelahirannya. “Melik ini adalah kagunan. Kalau dihaturkan, kan kagunannya seperti dihilangkan. Sebetulnya bersyukur terlahir Melik. Hanya saja perlu diketahui dan diberikan perlakuan yang benar. Astungkara, atas anugerah Tuhan , yang bersangkutan akan memperoleh keberlimpahan,” yakinnya.



Disinggung mengenai hal yang menjadi perhatiannya  ke depan selaku pemuka umat, Ida Pedanda yang juga pernah menimba ilmu di Fakultas Hukum Universitas Udayana saat masih menjadi walaka, menyatakan, saat ini ada sebagian umat yang masih takut beryadnya karena terkendala biaya. Nah, hal ini menurutnya patut diluruskan. Diingatkan, khusus dalam yadnya dalam bentuk upacara dan upakara, ada istilah alit, madya, dan utama. “Jadi, jangan sampai umat kita takut beryadnya. Padahal yadnya sesuai dengan kemampuan umat itu sendiri,” tegasnya.
Dengan demikian, Ida Pedanda berkomitmen untuk melakukan pelayanan kepada umat Hindu setulus-tulusnya. Dengan demikian, kehadiran dirinya selaku Sulinggih bisa memberikan pencerahan bagi umat dan masyarakat luas.


 


 


Dudonan Karya Rsi Yadnya, Padiksan Ida Pedanda Gede Batulumbang

Redite Pon Dukut, 30 September 2018, Nanceb Surya lan Guru Krama.  Anggara Paing lan Buda Pon Watugunung, 9-10 Oktober  Tirta Yatra. Wraspati Pon Landep, 25 Oktober Diksa Pariksa. Redite Umanis Landep, 28 Oktober Mapinton. Anggara Kasih Kulantir, 6 November, Ngekeb lan Nyeda Raga. Buda Umanis Kulantir, 7 November 2018,  Masiram/Maiyas, Matapak/Padiksan, lan pangesahan oleh PHDI Kabupaten Badung sesuai Keputusan Nomor 28/Kep.PHDI-Bdg/X/2018.

Editor : I Putu Suyatra
#sulinggih #hindu