BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Krama Desa Adat Gelgel serentak memasang penjor di pinggir jalan raya jalur utama desa setempat, Selasa (20/11). Penjor tersebut terkait Karya Agung Mamungkah, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Tawur Panca Wali Krama, Pamahayu Jagat, Marisada Bumi di Pura Kahyangan Jagat Dasar Bhuana Gelgel yang diperkirakan menelan biaya Rp 6 miliar. Lebih dari tiga ribu penjor dipasang.
Pemasangan penjor oleh krama Desa Adat Gelgel dilakukan serentak sejak sekitar pukul 07.00 Wita. Tak heran, sejak pagi sejumlah jalur utama di desa setempat terdapat rambu “hati-hati”. Itu karena penjor dipasang di pinggir jalan raya utama wilayah desa setempat. Penjor yang dipasang tersebut mengacu pada jumlah krama pengarep di desa adat yang terdiri dari tiga desa dinas tersebut.
Untuk memaksimalkan pemasangan, masing-masing banjar adat bertanggung jawab atas wilayahnya. Ada 28 banjar adat di desa adat itu. Mereka secara gotong royong membuat penjor untuk di wilayahnya. Semua bahan penjor dibebankan banjar adat. “Tanggung jawab penjor kami serahkan ke banjar adat. Mereka mulai dari mengeluarkan biaya bahan, pembuatan hingga pemasangan,” jelas Bendahara Desa Adat Gelgel I Made Suryawan.
Dalam hal pemasangan penjor, desa adat sebatas menentukan kriteria penjor. Bentuk, ukuran serta bahan-bahannya diatur berdasarkan hasil paruman. Penjor terbuat dari bambu, dibalut kain kase. Kain kase putih untuk penjor yang berada di utara dan timur jalan. Sedangkan penjor di sebelah selatan dan barat menggunakan kain kase putih. Tinggi penjor sekitar 9 meter.
Hiasan penjor harus menggunakan ambu atau busung. Tidak ada menggunakan daun ental (lontar). Pengikatnya menggunaka tali tutus. Dilarang menggunakan tali plastik atau rafia. “Itu sudah hasil paruman,” tegas Suryawan.
Tak jauh beda dengan penjor karya pada umumnya. Penjor tersebut juga dilengkapi pala bungkah, pala gantung, jaja uli, jaje gina dan jaja satuh. Serta dilengkapi sanggah kurung, dan tedung.
“Bedanya dengan penjor Galungan, atau penjor karya lainnya, ya kami buat bentuk penjor serta bahannya sesuai hasil paruman,” ungkap Suryawan.
Bertepatan dengan Tawur Agung, Mahayu Jagat Marisudha Gumi, Jumat (23/11) mendatang, masing-masing krama ngaturang banten pejati pada penjor tersebut. Upacara itu digelar di pertigaan desa setempat. Sebelah barat Pura Kahyangan Jagat Dasar Bhuana Gelgel.
Sekadar mengingatkan, karya serupa dalam bentuk Homa Yadnya pernah dilaksanakan sekitar 500 tahun silam, ketika zaman Ida Dalem Waturenggong. Bendesa Adat Gelgel, Putu Arimbawa sebelumnya mengatakan, Homa Yadnya sekitar 500 tahun silam itu tertuang dalam sejarah Pura Dasar Bhuana Gelgel. Setelah sekitar 5 abad, upacara serupa belum pernah digelar lagi di sana. Selama ini sebatas melaksanakan Karya Ngusaba Nini dan Ngusaba Jagat yang rutin tiap tahun, bertepatan pada Purnama Kapat. Karya kali ini puncaknya 31 Desember 2018, dan masineb 14 Januari 2019.
Karya yang digelar kali ini merupakan tingkat utamaning utama dengan menghaturkan berbagai jenis wewalungan. “Tujuan karya mengembalikan vibrasi pura untuk menjaga keajegan Bali,” jelas Arimbawa belum ini. Diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp 6 miliar.
Editor : I Putu Suyatra