BALI EXPRESS, DENPASAR - Tari Baris Gede umumnya ditarikan seorang seniman atau pangayah sebagai tari pertunjukan, yang juga jadi bagian dari ritual keagamaan. Namun, khusus untuk Tari Baris Gede Sakral ada pengecualian. Penarinya harus seorang pinandita atau pemangku. Kenapa mesti orang pilihan?
Sore menjelang malam, Pura Maospahit yang terletak di wilayah Grenceng, Denpasar ini, terlihat ramai oleh pamedek. Tak hanya pamedek yang hendak sembahyang, semeton yang datang untuk ngayah pun terlihat memadati areal pura yang berstatus cagar budaya tersebut. Tentu saja pemandangan ini lumrah terjadi, mengingat purnama pekan kemarin, Kamis (22/11), merupakan purnama sasih kaenem yang merupakan Pujawali di Pura Maospahit.
Uniknya, saat Pujawali Pura Maospahit dipersembahkan Tari Baris Gede Sakral yang hanya boleh dibawakan oleh seorang pinandita, dan ditarikan tepat saat sandikala di purnama kaenam.
Tari Baris Gede Sakral melambangkan keperkasaan seorang prajurit menghadapi lawannya di medan perang. Menggunakan tombak dan pakaian perang sebagai ciri utama, membuat para pinandita yang biasanya mengenakan pakaian serba putih itu, terlihat gagah. Setiap detail gerakan mereka tarikan dengan sigap dan tegas. Lantas, mengapa tarian ini hanya boleh ditarikan oleh seorang pinandita?
Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Koordinator Daerah (Korda) Kota Denpasar, Bidang Pendidikan, Jero Mangku Dharma Wisesa menjelaskan, Tari Baris Gede Sakral merupakan tarian suci yang khusus ditarikan di Pura Maospahit. "Tari Baris Gede Sakral ini adalah sebagai simbol zaman dahulu, yakni sebagai benteng atau prajurit yang suci dan gagah berani, sekaligus juga simbolisasi harmonisasi sebagai simbol kekuatan," ujar Jero Mangku Dharma Wisesa kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.
Soal harus ditarikan sekelompok mamgku, lanjutnya, karena dalam tarian sakral itu terdapat sebuah gelarakan khusus yang hanya boleh dilakukan oleh mereka yang telah suci atau maeka jati. "Jadi, dalam tarian itu ada gerakan khusus yang sangat sederhana. Dan, yang paling menonjol adalah Ucap-ucap pengundang Dewa,Sanghyang Triyodasasaksi . Nah, ucapan itu diucapkan oleh salah satu pemimpin tari yang akan diikuti oleh semua penari Baris Gede Sakral," ungkapnya.
Selain ada gerakan khusus, dalam Tari Baris Gede Sakral, penarinya menggunakan pakaian khusus yang menyerupai pemangku. "Ini juga salah satu ciri berbeda dari Tari Baris Gede biasa dengan Tari Baris Gede Sakral. Kalau yang biasa menggunakan pakaian penari, sedangkan Tari Baris Gede Sakral menggunakan pakaian pemangku dengan selendang poleng dan kampuh poleng," urainya. Selain itu, lanjutnya, hiasan ornamen tombak juga poleng yang menandakan simbol Rwabhineda, keseimbangan dan keharmonisan.
Tari baris ini diawali dengan memohon di Palinggih Taksu Agung yang ada di pelataran mandala Pura Maospahit, lalu ngaturang Caru ring lebuh ajeng pamedal kori. "Karena sakralnya tarian ini ada upacara khusus yang dilakukan sebelum ditarikan, yakni memohon di Palinggih Ida Bhatara Taksu Agung, agar semua karya berjalan dengan lancar,"tegasnya.
Ketika ditanyakan kenapa mesti ditarikan saat sandikala, Jero Mangku Dharma Wisesa mengatakan, waktu sandikala ada waktu transisi antara siang menuju malam. "Memang tradisinya selalu begitu, ditarikan ketika sandikala. Tapi, jika dikaji lebih jauh, sandikala itu kan waktu transisi agar kita lebih waspada,"ujarnya.
Dikatakannya, para pemangku tak banyak latihan. "Kami hanya latihan beberapa hari. Seperti itulah taksu ida, kami yang bukan berasal dari kalangan seniman justru fasih melakukan gerakan tari sakral itu tanpa salah. Padahal, latihannya hanya sebentar,"ungkapnya.
Tari Baris Gede Sakral dibawakan oleh delapan orang pemangku yang melambangkan penjuru mata angin dan satu sentral dunia.
Pemangku terpilih yang menarikan Tari Baris Gede Sakral adalah Pinandita I Ketut Bagiarta, I Nyoman Sudarja, I Ketut Sukarta, I Nyoman Tulus, Dharma Wisesa, Keyut Gede Sudiasna Made Adi Adnyana, dan I Wayan Sukarja. Bagaimana dengan Jero Mangku Istrinya?
Tak hanya Tari Baris Gede Sakral yang spesial dalam prosesi Pujawali Pura Maospahit, Grenceng, pekan lalu. Tari Rejang Dedari Dewa pun terbilang cukup spesial.
Senada dengan Tari Baris Gede Sakral, Tari Rejang Dedari Dewa ini, juga khusus ditarikan oleh para Jero Mangku Istri. Jero Mangku Dharma Wisesa mengatakan,Tari Rejang Dedari Dewa tak kalah sakralnya dibanding Tari Baris Gede Sakral. "Tari Rejang Dedari Dewa ini kan simbolisasi pengiring tedunnya Ida Bhatara dalam prosesi Pujawali. Nah, tarian ini dilaksanakan sebelum Tarian Baris Gede Sakral," ungkapnya.
Tarian yang ditarikan beberapa orang pinandita istri ini terlihat hampir serupa dengan Tari Rejang Dewa pada umumnya. Hanya saja, pakaiannya masih menggunakan dasar putih, seperti pakaian pemangku pada umumnya. "Ya pakaiannya hampir serupa dengan pakain pemangku, tariannya pun hampir serupa. Hanya yang menarikan, khusus orang tertentu saja, yaitu mereka yang telah maeka jati," tandasnya. Jero Mangku Dharma Wisesa berharap, tarian yang sudah berlangsung selama berabad - abad ini tetap dilaksanakan. "Bukan hanya pura ini yang jadi cagar budaya, tapi tradisi dan setiap sudutnya juga merupakan cagar budaya warisan leluhur kita," ungkapnya.
Editor : I Putu Suyatra