Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Terkubur Saat Gunung Agung Meletus, Dikenal Bares pada Wewalungan

I Putu Suyatra • Kamis, 3 Januari 2019 | 16:58 WIB
Terkubur Saat Gunung Agung Meletus, Dikenal Bares pada Wewalungan
Terkubur Saat Gunung Agung Meletus, Dikenal Bares pada Wewalungan


BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Keberadaan Pura Tumpa konon ada kaitannya dengan wewalungan (ternak). Tak sedikit peternak dari berbagai wilayah di Bali secara rutin tangkil setiap Tumpek Uye atau saat pujawali yang bertepatan dengan Hari Raya Kuningan.


 


Pura Tumpa berada di Banjar Ambengan, Desa Tangkas, Klungkung. Pura yang dibangun di areal tak lebih dari 5 are itu berada di ujung banjar setempat. Pangempon pura itu merupakan sekelompok orang dalam satu keluarga di Desa Tangkas. Saat ini jumlahnya 19 kepala keluarga (KK).


Dengan jumlah pengempon yang belasan KK, untuk pembangunan atau rehab pura sebatas mengandalkan urunan pangempon, termasuk punia dari pamedek. Bahkan karena terkendala biaya, beberapa waktu lalu senderan jebol akibat bencana alam sampai saat ini belum mampu diperbaiki.


“Beginilah keadaan pura kami,” ungkap pemangku Pura Tumpa Mangku Nengah Latra mengawali obrolan dengan Bali Express (Jawa Pos Group) terkait keberadaan pura itu, beberapa waktu lalu.


Mangku Latra tak tahu pasti kapan pertama kali pura itu dibangun. Namun berdasarkan cerita, pura itu memang diempon keluarganya. Pada saat Gunung Agung, Karangasem meletus tahun 1963, Pura Tumpa sempat terkubur material letusan. Maklum, pura itu berada di pinggir Tukad Unda. Namun kini pura tersebut seperti berada di atas tebing. Lantaran pasir disekelilingnya telah dikeruk. “Saat letusan Gunung Agung, bangunan pura rata dengan pasir. Panglingsir saya lama tidak bisa membangun lagi,” tutur pria berusia sekitar 64 tahun itu.


Ketika lahar hujan meratakan bangunan pura, keluarganya hanya bisa menyelamatkan dua buah pratima dalam bentuk patung singa, yang di atasnya ada patung dewa. Pratima itu diyakini berkaitan erat dengan sejarah pura.


Diceritakan, pada zaman dulu seorang pengembala sapi menumpukkan sejumlah batu di kawasan itu. Lama-kelamaan, sapi yang dipeliharanya sakit. Seperti coba-coba nunas air di sekeliling tumpukan batu tersebut. Ternyata sapi peliharaannya sembuh. Keajaiban itulah yang tersebar dari mulut ke mulut. Tumpukan batu tersebut diyakni mampu menyembuhkan berbagai penyakit wewalungan, hingga muncul ide membangun palinggih. “Mungkin saja pratima itu menggambarkan sosok pengangon (peternak) naik singa,” ujarnya.


Saat ini tak sedikit warga dari luar Klungkung yang tangkil ke pura setempat. Biasanya datang saat Tumpek Uye atau bertepatan dengan pujawali, yakni saat Hari Raya Kuningan. “Mungkin ada saja sekarang yang tidak peternak banyak yang tangkil. Tapi dulunya saya yakin mereka peternak. Karena permohonannya sering dikabulkan, sampai sekarang rutin tangkil,” sambungnya.


Pemangku yang memelihara empat ekor sapi itu menyebutkan, Ida Bhatara yang berstana di Pura Tumpa diyakini pemurah. Hal itu berdasarkan penuturan sejumlah pamedek. Bahkan diceritakan, sempat ada warga yang tangkil untuk memohon kesembuhan lidah sapinya yang nyaris putus terkena sabit. Dengan nunas tirta di Pura Tumpa, luka sapi itu pun sembuh.


“Saya dengar sendiri dari warga, tangkil karena mesesangi. Kalau ternaknya sembuh akan sembahyang di Pura Tumpa. Ada juga saat ternaknya sakit nunas tirta,” beber Jro Mangku yang mulai ngayah jadi pemangku sejak 1986 itu.


Lanjut dia, ada juga warga yang bertahun-tahun memelihara babi tidak bisa bunting. Setelah memohon di Pura Tumpa, babi yang dipelihara warga itu akhirnya bisa beranak. “Saya pernah tanya warga yang memohon godel muani, ternyata dikabulkan,” tandasnya.


Lanjut Mangku Latra, dari sekian cerita warga yang permohonannya dikabulkan, ada warga yang disakiti gara-gara tidak membayar sesangi setelah permohannya dikabulkan.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #pura #klungkung #sejarah pura