BALI EXPRESS, DENPASAR - Yayasan Santha Yana Dharma bersama Paguyuban Pemangku Pasek Maha Gotra kembali menggelar pendidikan dan pelatihan (Diklat) Kepemangkuan yang ke-9 tahun 2019. Diklat yang diikuti pemangku, serati dan bhawati ini, pada pokoknya bertujuan meningkatkan pemahaman semeton Hindu.
Ida Pandita Mpu Jaya Sandhika Yoga, selaku pembina Paguyuban Pasek Maha Gotra, dan juga inisiator diklat ini menjelaskan, tujuan dari diselenggarakannya kegiatan ini bukan sekedar meningkatkan pemahaman agama, khususnya makna mantra dan bebantenan dari para pemangku dan serati. Tapi melalui diklat yang dilangsungkan di Sekretariat Pesemetonan Pasek Maha Gotra, Jalan Cekomaria, Denpasar Utara tersebut, diharapkan pula dapat meningkatkan pemahaman masyarakat semeton Hindu secara umum, khususnya yang ada di Bali.
“Perkembangan masyarakat dengan adanya kemajuan teknologi hari ini, memiliki dampak negatif terhadap pemahaman agama. Yaitu membuat masyarakat semakin kurang memahami masalah perbantenan, adat istiadat dan ajaran spiritual Hindu. Oleh karena itu, tujuan diklat ini adalah untuk meningkatkan SDM semeton Hindu,” paparnya.
Untuk itu, Ida Pandita Mpu Jaya Sandhika Yoga berharap, dari kegiatan diklat ini, para peserta dapat meningkatkan pemahamnnya terkait makna dari mantra dan upakara atau perbantenan. Termasuk mampu memberikan pencerahan kepada semeton masyarakat Hindu lainnya.
Sementara itu, Jero Mangku Made Puja ST. MT. sebagai Ketua Paguyuban Pemangku dan Serati mengatakan, meskipun diklat dilakukan Pasemetonan Pasek, namun peserta yang ikut ambil bagian merupakan pemangku, serati, dan calon sulinggih (bhawati) yang berasal dari lintas soroh.
“Pesertanya ini berasal dari lintas soroh, jadi bukan hanya Pasek saja,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ida Pandita Mpu Jaya Sandhika Yoga menambahkan, bahwasanya ajaran agama bagaikan air yang mengalir, dan menghapus ketidaktahuan umat manusia. Namun nyatanya, tak banyak masyarakat Hindu di Bali yang benar-benar mengerti dan mendalami ajaran Agama Hindu. Padahal baginya, Agama Hindu tidak hanya soal Trisandya, puja mantra ataupun bebantenan. Namun menurutnya, Hindu lebih dalam dari pada hanya sekedar hal itu.
“Kalau boleh jujur banyak dari kita yang tidak tahu kan apa makna prosesi yang kita lakukan. Misalnya ketika kita mengucapkan Trisandya, apa kita mengerti arti dari mantra itu. Nah Hindu itu sederhana tidak harus tau mantra macam-macam. Yang terpenting harus mengerti apa tujuannya,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, minimnya pendidikan Agama Hindu di sekolah menjadi salah satu penyebab. “Kita punya kitab suci Weda. Tapi hampir 80 persen masyarakat Hindu, bahkan tidak pernah membaca kitab itu kan. Seharusnya sumber utama kita belajar agama kan dari sastra, seperti Weda dan lontar,” tegasnya.
Dia pun menyayangkan, dimana yang benar-benar mengerti dan mendalami agama, justru hanya pemangku dan sulinggih. “Harusnya 20 persen materi kepemangkuan juga dipelajari masyarakat awam. Misalnya, apa tujuan hidup kita, seperti apa melaksanakan Agama Hindu yang benar. Bukan hanya sekedar mebanten, ngayabin, tanpa tau apa yang kita lakukan,” ujarnya.
Untuk itulah, dia berharap kedepannya masyarakat Hindu lebih mawas diri. “Kita harus punya keinginan untuk mendalami agama kita sendiri. Malu dong kalau ada yang tanya, tapi kita sendiri tidak mengerti,” pungkasnya.
Sementara itu, seperti dipaparkan, penyelenggaraan diklat pemangku, serati dan bhawati ini pertama kali digelar pada 2010 lalu, dan terus berlanjut diselenggarakan setiap tahun, hingga yang ke-9 tahun ini. Diklat kali ini diikuti sebanyak 56 pemangku pemula, 36 pemangku lanjutan, 24 serati banten lanjutan, serta bhawati (calon sulinggih) sebanyak 20 orang, yang berasal dari seluruh Bali. Pelaksanaan diklat ini sendiri diselenggarakan setiap Sabtu dan Minggu, serta bakal berlangsung selama 3 bulan.
Editor : I Putu Suyatra