Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Palinggih Ratu Gede Penghulung Penjaga Jagat Blahbatuh

I Putu Suyatra • Senin, 18 Februari 2019 | 22:53 WIB
Palinggih Ratu Gede Penghulung Penjaga Jagat Blahbatuh
Palinggih Ratu Gede Penghulung Penjaga Jagat Blahbatuh


BALI EXPRESS, GIANYAR - Pura Kahyangan Tiga yang ada di masing-masing desa pakraman di Bali sudah pasti terdiri atas Pura Puseh, Pura Desa, dan Pura Dalem. Meski begitu, di beberapa desa kerap juga ada tradisi maupun palinggih yang berbeda di masing-masing pura tersebut. Seperti Pura Puseh Desa Pakraman Blahbatuh, Gianyar, yang memiliki palinggih Ratu Gede Penghulung. Palinggih yang lebih dikenal dengan palinggih Kebo Iwa di utama mandala Pura Puseh.


 


Untuk mencari Pura Puseh Desa Pakraman Blahbatuh ini sebenarnya tidaklah sulit. Selain karena berdiri di pinggir jalan utama di Blahbatuh, dari Kota Denpasar sendiri titik lokasi pura ini cukup ditempuh dalam waktu 30 menit. Tepatnya dari simpang empat depan Pasar Blahbatuh, lokasi pura pun hanya berada sekitar 300 meter.


Jero Mangku Pura, Jero Mangku Ketut Kantun pada Senin (11/2) kemarin menjelaskan, palinggih Ratu Gede Penghulung itu sangat disucikan masyarakat setempat. Pasalnya palinggih ini diyakini sebagai penolak bala dan sebagai penjaga panjak (masyarakat) yang ada di Desa Blahbatuh.


“Kalau ada hal-hal yang tidak baik secara niskala maupun sekala, diyakini beliau yang melindungi. Karena kepercayaan masyarakat di sini, Ida sebagai kebong wijang jagat (pelindung) wilayah Blahbatuh,” ucapnya mengawali.


Selain dipercayai sebagai peneduh jagat bagi krama di lingkungan Desa Blahbatuh, palinggih tersebut juga diyakini sebagai tempat untuk memohon tuntunan. Dalam artian, apa yang sedang diusahakan pemedek, setelah mohon di palinggih tersebut diyakin akan berjalan dengan lancar maupun. Sehingga cukup banyak pemedek yang secara khusus menghaturkan sesangi.


Bahkan saat musim politik saat ini, diakuinya tak jarang dirinya didatangi beberapa calon legislatif untuk menghaturkan pejati maupun banten yang akan dihaturkan. Namun semua itu dia katakan sebagai keyakinan dan kepercayaan dari orang yang memang benar-benar tulus nunas ica di palinggih tersebut.


Lebih lanjut dipaparkan olehnya, pada palinggih yang ada hulunya Kebo Iwa itu memiliki lebar sekitar 1 meter, sedangkan panjangnya mencapai 1,5 meter. Dalam kesempatan itu, dia juga menjelaskan mengenai tinggi palinggih yang mencapai sekitar 4 hingga 5 meter. Untuk itulah, setiap orang yang nangkil meski nunas ica terlebih dahulu, sebelum membuka palinggih tersebut.


“Pura Puseh ini diempon delapan banjar Desa Blahbatuh, bedanya juga terdapat beberapa palinggih yang banyak. Karena pura ini konon jadi satu dengan Pura Kahyangan Tiga Desa Blahbatuh, yakni Pura Dalem, Pura Desa, dan Pura Puseh jadi satu di sini. Sehingga dapat dilihat sendiri, palinggihnya sangat banyak, dan berbagai jenis palinggih juga ada,” tutur pemangku dari Banjar Tengah, Blahbatuh tersebut.


“Untuk puncak piodalan di Pura Puseh Blahbatuh, yakni pada Wraspati Wuku Pahang yang sudah lewat beberapa waktu lalu. Piodalannya juga dilakukan setiap enam bulan sekali. Bedanya, kalau di palinggih Kebo Iwa dirias krama dengan wastra, dan diisi seperti mahkotanya itu tedun dan dilinggihkan di palinggih. Kalau di sini disebut dengan tradisi ngelangsuin,” jelas Mangku Ketut Kantun.


Pria yang juga menggeluti dunia seni pedalangan ini menambahkan, untuk pelaksaan piodalan biasanya akan nyejer (berlangsung) selama empat hari. Nah empat hari sebelumnya inilah yang biasa disebut dengan upacara ngelangsuin atau ngiasin khusus pada palinggih Kebo Iwa. Prosesi ngiasin itu menggunakan tirta, dilanjutkan dengan menggunakan pakaian atau wastra yang khusus digunakan di palinggih itu.


Disinggung mengenai sosok Kebo Iwa, Jero Mangku Ketut Kantun sedikit menceritakan, dimana hal itu memang terkait dengan sejarah Kebo Iwa yang merupakan patih yang disegani Gajah Mada. Dikisahkan olehnya, jika pada tahun Isaka 1185 atau 1263 masehi, Patih Gajah Mada bermaksud membuat upaya jahat terhadap Kebo Iwa agar tidak ada lagi yang menandingi kesaktiannya.


Saat itu Patih Gajah Mada bersama Patih Wilwatikta mendarat di Segara Rupek Gilimanuk. Kemudian menuju Celukan Bawang dengan merambas tegalan di Desa Pulaki dan Desa Pangastulan. Lalu dengan menaiki perahu, mereka menuju ujung Gunung Tolangkir, kemudian ke Desa Tianyar dan Samprangan.


Dalam kesempatan itu, mereka lantas diajak ke rumah orang tuanya Karang Buncing di Blahbatuh, yang kemudian ditanya mengenai maksud kedatangannya. Dimana dituturkan, kedatangannya itu untuk menjalankan perintah Sri Aji Wilwatikta melamar Kebo Iwa yang akan disandingkan dengan putri dari Jawa Madura. Atas ijin sang raja, Kebo Iwa pun pamitan dengan para mantri, serta menghaturkan sembah bhakti di Pura Gaduh, lalu menuju ke Pura Luhur Uluwatu guna melakukan yoga samadhi. “Sehingga sampai saat ini palinggih beliau ada di Pura Puseh Blahbatuh, yang tepatnya bersebelahan dengan Pura Gaduh Blahbatuh, Gianyar,” pungkasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #pura #sejarah pura