Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Cara Merawat dan Jaga Taksu Keris

I Putu Suyatra • Selasa, 26 Februari 2019 | 16:08 WIB
Begini Cara Merawat dan Jaga Taksu Keris
Begini Cara Merawat dan Jaga Taksu Keris


BALI EXPRESS, GIANYAR - Keris yang disucikan maupun yang bersifat profan, harus dijaga kualitasnya agar tetap awet dan terlihat indah. Namun, ada keris bertaksu yang malah jarang dibersihkan dan tak butuh perlakuan khusus. Bagaimana caranya merawat agar tuah keris tak melorot?


Kolektor keris dan pemilik Museum Neka, Pande Wayan Suteja Neka memaparkan beberapa faktor mengapa keris tertentu memiliki tuah atau taksu. "Terdapat lima faktor jika sebuah keris memiliki taksu. Kendati pun jarang dibersihkan maupun tidak pernah dipelihara, hanya dilinggihkan atau disimpan begitu saja pada tempat suci," terang pria asli Desa Peliatan Ubud, Gianyar ini kepada  Bali Express (Jawa Pos Group) di Museum Neka, Ubud, Gianyar, pekan lalu.


Ia menjelaskan, faktor pertama adalah pemilihan dan cara mendapatkan bahan bakunya diperoleh dengan melakukan semedi. Kedua, berhubungan dengan  pemilihan hari baik atau duasa pada saat memulai mengerjakan, dilanjutkan dengan upacara sesajen serta doa untuk keselamatan bersama. Baik untuk pembuatnya maupun orang yang menggunakannya nanti.



Sedangkan faktor yang ketiga, lanjut pria mantan guru bahsa Inggris itu, adanya unsur memasukkan rerajahan, puja mantra sesuai dengan apa yang diharapkan. Setelah selesai, lanjutnya,  kemudian dimasuki atau kerap disebut pasupati pada hari yang terpilih, dan  upacaranya juga harus sesuai kebutuhan keris tersebut. "Terakhir pemeliharaan fisik dan non fisik keris untuk berkelanjutan," papar
kolektor lukisan yang juga pemerhati seni rupa ini.



Diungkapkan juga  bahwa keris-keris yang bertaksu adalah keris yang memiliki kekuatan supranatural, memiliki kharisma dan kekuatan-kekuatan alam,  sehingga dikeramatkan sebagai benda pusaka. Ditambahkan  Pande Wayan Suteja Neka, taksu keris yang memiliki nilai religius - supranatural atau niskala, diyakini dapat memberikan rasa aman, kewibawaan, rasa percaya diri, dan kemakmuran. "Taksu keris pada dasarnya adalah kekuatan spiritual atau aura yang kehadirannya dapat meningkatkan kemampuan intelektualitas. Membawa kekuatan magis untuk dapat meningkatkan kualitas kinerja," paparnya.



Dalam kesempatan itu, dia juga menjelaskan tentang pemeliharaan keris Bali. Diungkapkannya, pemeliharaan keris menyangkut cara memelihara fisik dan non fisiknya.  Pemeliharaan fisik keris, selain warangkanya selalu dibersihkan dan dirawat, juga mata  bilah keris perlu diperhatikan. "Jika terlihat kotor, kemerah-merahan, pamor tidak jelas, maka sebaiknya diulang atau Nyeruk (dimandikan). Disebut Nyeruk karena cara memandikan keris dengan mengolesi air jeruk nipis dicampur warangan," terang Pande Suteja Neka. 


Dijelaskan pria penyabet penghargaan seni dari East-weast Center Honolulu, Hawai - USA 1992 ini, ada beberapa langkah cara Nyeruk. Pertama, lepaskan hulu keris atau danganannya, kemudian rendam keris dalam bak yang cukup panjang diisi air kelapa tua yang dicampur buah mengkudu yang telah dilumatkan. Kerisnya harus terendam di dalam air secara keseluruhan. Setelah dua hingga tiga hari diperiksa lagi. Bila karatnya belum habis, biarkan terendam dulu dan tambahkan air kelapa. "Setelah benar-benar bersih, selanjutnya keris itu dicuci dengan air, dilap kering. Karena pekerjaan itu tidak selesai dalam satu hari, sebaiknya diolesi dengan minyak kelapa dan dilap lagi hingga tidak tumbuh karat lagi," sarannya.



Tahap selanjutnya diasah dengan beberapa jenis batu asah (bukan gerinda) yang kasar, agak kasar, halus, dan halus sekali. Selain itu, lanjutnya,  tidak dibenarkan menggunakan kikir atau sejenisnya. Begitu juga dengan keris yang karena besi bergerigi, Suteja Neka menyarankan  sebaiknya jangan diasah.  "Keris model seperti itu digilap dengan batu hitam pecahan planet, atau disebut caling kilap.  Digilap rata hingga mengkilap benar," ujarnya.



Selanjutnya keris digosok menggunakan minyak kayu lapuk yang seratnya halus, seperti kayu Dadap. Digosok ke satu arah dari pangkal ke ujung hingga bekas-bekas kotoran waktu mengasah dan menggilap bisa bersih. Lebih lama menggosok dikatakannya akan lebih baik, agar wajah bisa tampak dipermukaan seperti cermin.



Setelah mengkilap, maka diolesi air batu las yang dihancurkan hingga halus. Dicampur dengan air, dan airnya dioleskan dengan kapas sehingga akan tampak keputih-putihan seperti dioles air kapur.  "Saat itu juga siapkan air jeruk yang diperas dari jeruk yang kulitnya sudah kering. Supaya air jeruk tidak bercampur getah, keris diberikan danganan darurat agar mudah memegang," pungkas
seniman penyabet Penghargaan Lempad Prize 1983.



Sedangkan tahap terakhir, suami dari Ni Gusti Made Srimin ini, menjelaskan keris tersebut selanjutnya  diolesi  minyak kelapa. Kemudian dilap kembali hingga tidak terlalu lembab. Semakin sering diolesi minyak kelapa, besi akan menjadi semakin hitam, pamor akan tampak jelas, sehingga keris itu akan tampak hitam pekat setelah bertahun-tahun usia jerukannya.



Lantas, bagaimana dengan pemeliharaan keris non fisiknya ? Suteja Neka  yang dilahirkan di Peliatan, Ubud, 21 Juli 1939 ini, mengatakan, terdapat empat cara yang sangat sederhana. "Cukup diolesi minyak wangi dengan doa menurut keyakinan. Tidak boleh disentuhkan dengan  hal yang tidak dianggap suci, bila menghunus keris sarungnya diangkat, bukan kerisnya ditarik, dan harus menaruh keris di tempat yang sakral," pungkas  Suteja Neka.

Editor : I Putu Suyatra