BALI EXPRESS, DENPASAR - Sehari menjelang Hari Raya Nyepi, atau saat Pengerupukan hari yang diyakini sebagian umat Hindu Bali sangat angker, dan banyak mitos yang menyertai.
Berdasarkan wariga adalah bertepatan dengan Tilem Kasanga, Kajeng Kliwon nemu Brahma. Apa saja mitos yang hingga kini terus berkembang?
Diakui tokoh spiritual asal Karangasem, Jro Agni Baradah, dalam perhitungan wariga Bali, hari yang numpuk seperti Tilem Kasanga, Kajeng Kliwon nemu Brahma sangat jarang terjadi.
Pria yang juga menjadi pemangku di Pura Kahyangan Tiga Karangasem ini, mengaku teringat salah satu pesan guru spiritualnya.
"Ning, kapan ada hari numpuk Tilem Kasanga Kajeng Kliwon nemu Brahma, saat itu hari baik untuk memurnikan ilmumu, " pesan gurunya.
Maksudnya, kapan ada hari numpuk Tilem Kasanga Kajeng Kliwon nemu Brahma, saat itu hari yang baik untuk memraktikkan ilmu kawisesan.
Hari baik seperti ini, lanjutnya, justeru menganggap jadi hari kurang baik bagi sebagian orang yang mempercayai mitos.
Pria yang akrab disapa Mahendra ini, menegaskan, seseorang yang pengalamanya sepenggal kadang sering menakut nakuti bahwa hari tersebut adalah bahaya bagi wanita hamil besar, orang mau nikah, punya anak bayi, agar tidak keluar saat sandyakala karena para leak akan keluar mencari mangsa kayak drakula.
"Pemahaman ini adalah hoax terkejam dalam sebuah ilmu mistis," papar pria yang mempunyai pasraman Karma Datu di Karangasem ini kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), kemarin di Denpasar.
Dikatakan Jro Agni, berita alias mitos soal rainan numpuk ini sangat menyesatkan, apalagi oknumnya hanya mendengar cerita sepenggal, sehingga akan membuat orang takut dan tidak berani keluar.
Logikanya, kenapa ibu hamil besar, yang punya anak bayi, dan yang mau menikah tidak boleh keluar?
Baca Juga: Mengungkap Keunikan dan Jenis Segehan bagi Umat Hindu di Bali
"Seorang ibu hamil besar jika keluar saat itu, maka dikhawatirkan kehamilanya terganggu, apalagi keluar nonton Ogoh-ogoh berdesakan dan ramai. Tentu hal ini tidak dianjurkan, untuk mencegah yang tidak diinginkan, apalagi zaman dahulu belum banyak ada Rumah Sakit," papar Jro Agni.
Namun kini, lanjutnya, sudah sangat beda kondisinya.
"Jika seorang ibu hamil mau keluar sudah ndak masalah, asal hati-hati saja. Jaga diri, cukup nonton arakan Ogoh-ogoh dari depan rumah dan bekali diri Anda dengan Jangu (delingu) serta baca Gayatri mantra tiga kali untuk menghindari efek energi tidak baik pada hari itu. Itu sudah cukup dan aman," saran Jro Agni.
Mitos lainnya?
Orang tua yang punya anak di bawah usia 10 bulan zaman dahulu sering dilarang ikut keramaian dengan dua alasan, yakni pada umur tersebut bayi sangat sensitif dengan suara keramaian.
Di samping itu, otak bayi di umur di bawah 10 bulan sedang kuat merekam visual apapun yang dilihat, dan akan masuk ke dalam memori otak hingga akan berpengaruh pada bayi.
Di sisi lain, lanjutnya, bayi seumur itu rentan sakit karena kondisi tubuhnya masih lemah.
"Sehabis keluar rumah mungkin sang bayi masuk angin, kemudian sakit lalu di hubungkan dengan hari keramat tersebut. Jadi, saran saya perhatikan kesehatan bayi Anda jika mau keluar pada hari itu," papar Jro Agni.
Dan, ada mitos yang dinilai lucu oleh pria yang mendirikan Pasraman Karma Datu di Karangasem ini, bahwa bagi yang mau nikah tidak boleh keluar saat itu, karena bisa celaka nantinya.
"Ini sangat lucu banget. Inilah yang dikhawatirkan oleh orang tua karena zaman dahulu pernikahan belum ada hukum yang kuat seperti sekarang. Setelah seorang gadis dipinang lalu menunggu hari pinangannya itu tidak boleh keluar (nyekep rage) karena dikhawatirkan dia pergi atau diambil pemuda lain, hanya itu masalahnya," paparnya.
Dikatakan Jero Mangku Dalem ini, siapapun yang punya orang tua kelahiran tahun 50-an pasti mengerti benar kenapa seorang gadis tak boleh keluar pada saat Tilem Kasanga. Pasalnya, colong menyolong masih kerap terjadi saat itu.
"Kalau kini, keluar saja bila perlu sama calon suami Anda, toh juga nanti ke pelaminan, atau minta izin sama calon suami bila hendak keluar. Jika jawabannya tidak boleh, ya di rumah saja, lalu minta transferan uang buat beli makanan untuk besok Nyepi," ujarnya terbahak.
Sejatinya, lanjut Jro Agni, para penganut ilmu hitam (bukan para leak), pada saat hari numpuk begini biasanya mereka mengolah batinya dengan berpuasa atau dengan mengamalkan mantra'mantranya, agar lebih kuat energinya.
"Jika Anda ndak percaya, cobalah keluar jam 11.45 hingga 01.10 menit malam saat Tilem Kasanga. Duduk saja di merajan atau di halaman rumah, Anda akan merasakan energi serta hawa mistis yang sangat kuat, sebab siang tadi terjadi Pangrupukan atau menstabilkan energi Bhuana Agung melalui Caru Tawur Kasanga," katanya.
"Apalagi Anda suka meditasi akan sangat bagus karena waktunya sangat baik untuk membuat meditasi Anda semakin kuat," ungkapnya.
Ditambahkan Jro Agni, pesan moralnya bahwa ilmu apapun pada awalnya adalah netral. Namun, akan berubah menjadi jahat jika ada motif negatif dibalik semua itu.
Ketika disinggung soal Catuspata yang dijadikan tempat macaru, Jro Agni mengatakan Catuspata bisa berarti perempatan, juga nama lain dari Siwa itu sendiri.
Dijelaskan Jro Agni, dalam Purana Siwa Tattwa dijelaskan bahwa Siwa mempunyai kekuatan menolak empat arah marabahaya, makanya disebut dengan Abhaya Catuspata.
Lalu, kenapa macaru di perempatan ini mengarah pada pengetahuan atau Catur Paramitha?
"Seseorang yang mampu mengendalikan diri dengan baik serta mempelajari agama dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan pengetahuan yang baik seperti catur paramita ( maitri, karuna, mudita, upeksa).
Macaru di perempatan juga dimaksudkan menolak mara bahaya yang datang dari empat penjuru yang dikuasasi oleh Catur Bhuta, yakni Bhuta Samprangan arah timur dengan kekuatanya membingungkan, Bhuta Bramari arah selatan dengan kekuatan kemarahan dan kebencian, Bhuta Makuta arah barat yang mempunyai kekuatan nafsu birahi, dan Bhuta Siung Ireng, tempatnya di Utara yang mempunyai kekuatan membuat gelap pikiran dan kebodohan.
"Dengan memberikan caru di Catuspata ini diharapkan kekuatan negatif menjadi positif, agar manusia memiliki kemampuan catur paramita dalam kehidupan sesuai dengan ajaran lontar Bhuta Parisudha," pungkasnya. ***
Editor : I Putu Suyatra