Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Penataran Agung Klungkung Berawal dari Perselisihan

hakim dwi saputra • Senin, 11 Maret 2019 | 06:04 WIB
Pura Penataran Agung Klungkung Berawal dari Perselisihan
Pura Penataran Agung Klungkung Berawal dari Perselisihan


Pura Penataran Agung Klungkung diperkirakan dibangun pada zaman kerajaan sekitar abad ke-18. Pura beralamat di Jalan Gunung Semeru, Banjar Sengguan, Desa Adat Semarapura, Klungkung itu diempon 14 banjar di wilayah Kota Semarapura dan pangeling Puri Agung Klungkung. Keberadaan pura itu ada kaitan dengan Pura Besakih. Benarkah?


 


 


SAAT Ida Bhatara Pura Besakih melasti ke segara Watu Klotok, Desa Tojan, Klungkung, Sabtu (2/3) lalu, sempat singgah marerapan semalam di Pura Penataran Agung Klungkung. Itu selepas dari Watu Klotok, sebelum melanjutkan kembali ke Pura Besakih. Ternyata memang ada kaitan antara Pura Besakih dan Pura Penataran Agung Klungkung. Sebagaimana penuturan Pangeling Pura Penataran Agung Klungkung Tjokorda Bagus Oka, pura tersebut merupakan pengayengan Ida Bhatara di Pura Besakih. Setiap pamelastian ke Watu Klotok dipastikan mesandekan di sana.


 


Seperti diketahui, pemelastian Ida Bhatara Pura Besakih ke Watu Klotok biasanya dilaksanakan setiap Karya Tawur Agung Panca Wali Krama, yang rutin dilaksanakan tiap 10 tahun. Begitu juga Karya Eka Dasa Rudra tiap 100 tahun. “Pemelastian belum lama ini ke Watu Klotok kan karena Panca Wali Krama. Makanya singgah di Pura Penataran Agung Klungkung,” ujar Tjokorda Bagus ditemui di kediamannya di Puri Agung Saren Kauh, Sabtu (9/3) lalu.


 


Tjokorda Bagus menuturkan, konon berdirinya pura tersebut hingga menjadi pengayengan Ida Bhatara Pura Besakih berawal dari perseteruan antara Kerajaan Klungkung dengan Karangasem. Perseteruan itu membuat warga Klungkung khawatir tangkil ke Besakih yang notabene wilayah Karangasem. Agar rakyatnya tetap bisa sembahyang, raja Klungkung kala itu memutuskan membangun Pura Penataran Agung Klungkung sebagai pengayengan Ida Bhatara Besakih.


 


Pembangunan dilakukan secara bertahap. Saat ini terdapat beberapa palinggih meru di utama mandala. Di antaranya, meru tumpang solas merupakan pesimpangan Ida Bhatara Pura Penataran Agung Besakih, meru tumpang sia adalah linggih Ida Bhatara Pusering Jagat, meru tumpang pitu linggih Ida Sanghyang Sapta Rsi, meru tumpang lima linggih Ida Sanghyang Panca Tirta, meru tumpang tiga linggih Ida Sanghyang Tri Sakti, dan beberapa palinggih lainnya. Termasuk paling anyar adalah palinggih pasimpangan Ida Ratu Subandar di Besakih yang dibangun setelah pura terbakar. Sebelumnya itu tidak ada.   


 


Mantan calon Bupati Klungkung Pilkada 2018 itu menyebutkan, sejak pertama kali dibangun, pura tersebut sudah beberapa kali dipugar. Arsitektur bangunan tak seperti saat awal dibangun. Pembangunan besar-besaran terjadi setelah mengalami kebakaran hebat 30 Juli 2009 atau beberapa bulan setelah Karya Tawur Agung Panca Walik Krama 10 tahun lalu. Kebakaran yang diduga karena ada orang bakar sampah di sebelah pura tersebut menghanguskan semua palinggih. Seingat Tjokorda Bagus, hanya tersisa bale gong dan bale pesandekan.


 


Melihat fungsi pura tersebut, pangempon berupaya membangun kembali. Akhirnya sebelum Panca Wali Krama di Pura Besakih 2019, pembangunan pura rampung. Tata ruang dan tata letak bangunan disesuaikan dengan kondisi saat sebelum terbakar. Selain itu, gelung kori dibuat lebih lebar dengan tujuan agar pralingga Ida Bhatara Pura Besakih bisa masuk ke areal suci dengan mudah.


 


“Kebakaran itu terjadi beberapa bulan setelah Panca Wali Krama 2009. Syukur kami bisa merampungkan bangunan hingga upacara beberapa bulan sebelum Panca Walik Krama 2019,” terang mantan dosen Matematika di Universitas Udayana, Denpasar itu.


 


Sebagai pura pengayengan, banyak pamedek tangkil ke sana. Di sana juga standby pemangku. Pemangkunya merupakan keturunan pemangku di Pura Agung Besakih. “Itulah uniknya. Karena merupakan pengeyangan Ida Bhatara di Besakih, jadi pemangkunya harus keturunan dari Pura Besakih,” tandas pria 64 tahun itu seraya menambahkan, piodalan di pura setempat dilaksanakan tiap enam bulan, yakni pada hari Tumpek Wayang.


 


Ditemui terpisah, pamangku Pura Penataran Agung Klungkung Jro Mangku Wayan Dunia juga membenarkan hal itu. Menurutnya, pemangku yang ngayah merupakan keturunan panglingsirnya. “Katanya leluhur saya, begitu pura dibangun, Raja Klungkung kala itu memindahkan keluarga saya ke Klungkung untuk ngayah di Penataran Agung Klungkung,” jelasnya. Mereka yang ngayah diberikan tempat tinggal di selatan Pura Penataran Agung.

Editor : hakim dwi saputra
#klungkung