Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Banjar Peninjoan Renovasi Pelinggih Ratu Ngurah Agung Jadi 12 Meter

I Putu Suyatra • Kamis, 14 Maret 2019 | 00:41 WIB
Banjar Peninjoan Renovasi Pelinggih Ratu Ngurah Agung Jadi 12 Meter
Banjar Peninjoan Renovasi Pelinggih Ratu Ngurah Agung Jadi 12 Meter


BALI EXPRESS, GIANYAR - Palinggih yang terletak di Banjar Peninjoan, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar kini direnovasi. Sebelumnya pelinggih tersebut nyaris tenggelam lantaran jalan raya yang semakin tinggi.  Kelian Dinas Banjar Peninjoan, I Ketut Arsana menjelaskan, Rabu (13/3)  sekarang tingginya mencapai 12 meter dan luasnya enam meter persegi.


 


Pelinggih tersebut masyarakat setempat menyebutnya Pelinggih Ratu Ngurah Agung. Letaknya tepat di perbatasan Banjar Peninjoan, Batuan dengan pusat Kecamatan Sukawati. Yakni di pinggir jembatan Tukad Yeh Agung. “Semua ini dilakukan karena kesepakatan masyarakat untuk merenovasi pelinggih tersebut. Melihat juga infrastuktur jalan yang semakin tinggi sehingga kelihatan pelinggihnya tenggelam,” paparnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).


 


Dalam kesempatan itu ia juga mengaku pelinggih tersebut ada kaitannya dengan Pura Dalem Kukuh Banjar Peninjoan. Lantaran dianggap sebagai menjaga wilayah secara niskala. Bahkan sangat diyakini memiliki nilai yang sangat magis oleh masyarakat setempat dan luar Kecamatan Sukawati.


 


“Kalau pedagang yang lewat ke sana pasti selalu menghaturkan sesajen berupa canang di sana. Terkadang ada juga sulinggih yang ke sana untuk meditasi pada hari-hari tertentu. Entah apa dilihatnya saya juga kurang tahu, karena menurut kepercayaan masing-masing,” terangnya.


 


Arsana juga mengaku pelinggih yang berada di perbatasan desa tersebut diyakini memiliki aura magis yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang tertentu. Masyarakat sekitar juga meyakini, yang berstana di Pelinggih Ratu Ngurah Agung pemurah. Sehingga cukup banyak para pedagang yang mebanten ke sana.


 


Dia mengatakan Pelinggih Ratu Ngurah Agung juga berfungsi sebagai tempat Medek Ida Sesuhunan. Khususnya pada tradisi melancaran setiap Kajeng Kliwon. Melihat lokasi pelinggih nyaris berhimpitan dengan jalan raya, sehingga disepakatilah dilakukan renovasi yang didorong juga oleh masyarakat Peninjoan.


 


Diperkirakan pembangunan tersebut akan menghabiskan biaya sekitar Rp 400 juta. “Krama sangat antusias untuk renovasi pelinggih ini. Itu terbukti dari donasi yang mengalir dan dukungan baik moral maupun material. Biayanya juga secara swadaya dari krama, urunan, dan juga bansos,” imbuhnya.

Editor : I Putu Suyatra
#gianyar