Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ida Sesuhuan Melancaran ke Pura Bale Agung setelah 18 Tahun

I Putu Suyatra • Kamis, 21 Maret 2019 | 03:46 WIB
Ida Sesuhuan Melancaran ke Pura Bale Agung setelah 18 Tahun
Ida Sesuhuan Melancaran ke Pura Bale Agung setelah 18 Tahun


BALI EXPRESS, SAWAN - Ngusabha Bukakak oleh Subak di Desa Pakraman Giri Emas, Kecamatan Sawan, Buleleng kembali dilaksanakan. Tradisi agraris sebagai wujud syukur atas panen yang berlimpah dirayakan setiap dua tahun sekali bertepatan Purnama Sasih Kedasa.


 


Khusus perayaan pada Kamis (21/1), Ida Sesuhunan Pura Gunung Sekar, Sarad Agung dan beberapa Sarad lainnya akan melancaran ke Pura Bale Agung, Desa Pakraman Buleleng. Menariknya tujuan pura tempat melancaran itu diperoleh secara niskala, sehingga tak bisa ditebak sebelumnya.


 


Seperti biasa setelah melalui prosesi upacara di Pura Subak Giri Emas, Ida sesuhunan akan memargi sekitar pukul 13.00 Wita. Untuk mencapai lokasi Rute yang dipilih sudah ditentukan yakni dari Pura Subak, di Giri Emas menuju Jalan Surapati Jalan Hasanudin menuju Jalan Gajah Mada hingga Jalan Mayor Metera sebaga lokasi Pura Desa Bale Agung. 


 


Dari pengalaman prajuru subak sebelumnya, konon 18 tahun silam tepatnya pada tahun 2001 lalu Ida Sesuhunan juga sempat melancaran ke Pura Bale Agung. Memang rute ini tak seperti biasanya yang kerap melewati areal persawahan saat melancaran. Melainkan harus melewati perkotaan.


 


“Kami sudah nunas pawisik pada Soma Kliwon, lalu. Kemana beliau akan melancaran. Hasilnya beliau meminta melancaran ke Pura Bale Agung. Jadi kemana tujuannya kami tidak bisa memaksakan, “ ujar Kelian Subak Dangin Yej, Ketut Sukrana, Rabu (20/3) siang.


 


“Tujuan Melancaran itu tergantung keinginan Ida Sasuhunan. Krama tidak bisa memaksakan, nanti pasti jalannya ke sana, sesuai keinginan Ida,” kata Klian Subak Dangin Yeh, Ketut Sukrana, yang ditemui, Rabu (20/3)


 


Sukrana menuturkan, acara melancaran atau bisasa disebut Melayagin Bukakak menjadi tradisi yang paling ditungu-tunggu oleh krama Desa Pakraman Giri Emas. Pasalnya momen ini melibatkan ribuan krama yang ikut ngiringang Ida Bhatara melancaran.


 


Krama lanang (laki-laki) pun tampil kompak karena akan mengusung sarad Bukakak dengan mengenakan seragam seperti udeng putih lengkap dengan bunga kembang sepatu, baju putih, kampuh merah dan kamen merah. Sedangkan bagi krama istri (perempuan) didominasi dengan mengenakan seragam putih dan kuning.


 


Di dalam sarad tersebut terdapat babi yang dipanggang dengan struktur matah lebeng (mentah dan matang). Babi jantan berwarna hitam mulus tersebut disembelih dan isi perutnya dikeluarkan, barulah rambutnya dicukur dibagian tengahnya saja, sedangkan dibagian depan dan belakangnya tetap tidak dicukur sehingga setelah dicukur seperti dua segitiga yang saling berhadapan.


 


“Babi hitam lebeng matah kemudian dimasukkan kedalam pelinggih Gede Bukakak yang dibuat dari bambu dan dihis dengan ambu untuk dilakukan pasupati sebelum diarak. Setelah sarana tersebut lengkap, barulah krama mulai mengusungnya dengan rute melancaran seperti yang beliau mau,” imbuhnya.


Rencana melancaran Ida Bhatara Sesuhunan pun sudah disikapi oleh Kelian Desa Pakraman Buleleng, Jero Nyoman Sutrisna. Bahkan Sutrisna mengaku siap menyambut iring-iringan Bukakak, Subak Dangin Yeh, Desa Giri Emas.


 


“Semua pecalang Desa Pakraman Buleleng diterjunkan untuk mengamankan. Kami juga mengajak Krama Tri Datu nyanggra Bukaka di Pura Desa Bale Agung,” singkat Sutrisna.


 


 

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #hindu #tradisi unik #ritual hindu #ritual unik