BALI EXPRESS, BANGLI - Masyarakat atau krama Desa Pakraman Seribatu, Desa Penglumbaran, Kecamatan Susut, Bangli, percaya tradisi Maprani Desa harus dilaksanakan setiap tahun. Apabila ritual rutin pada Tilem Sasih Kasanga atau malam Pangerupukan itu ditiadakan, warga desa akan diterpa gerubug atau wabah.
Krama yang Maprani akan menyiapkan aneka sesaji yang disebut Nasi Selasar. Isinya berupa nasi putih, daging ayam, buah, hingga kue atau jajanan. Semuanya ditempatkan dalam satu wadah kecil berupa bokor atau tamas. Tradisi ini berlangsung sehari sebelum Nyepi. "Tidak ada sarana lainnya. Nasi Selasar dengan tamas itu sering dipakai di desa kami," kata Bendesa Adat Seribatu, I Wayan Badung Suarmana yang akrab dipanggil Jero Badung kepada Bali Express ( Jawa Pos Group ) pekan kemarin di Bangli.
Sebelum Maprani, warga desa melakukan upacara Macaru di pekarangan rumah. Setelah itu, warga akan datang ke ujung desa untuk mengikuti prosesi Tawur Kasanga di simpang empat jalan ataupun perbatasan. "Setelah Tawur, baru masyarakat balik ke rumah menyiapkan Nasi Selasar. Maprani kemudian dilaksanakan pukul 18.00 usai tawur," jelas Jero Badung.
Setelah semuanya siap, warga datang dan duduk di jalan raya. Mereka duduk sesuai dengan posisi rumah masing-masing. Warga yang tinggal di sisi timur jalan raya, akan duduk di jalan bagian timur, dan begitu sebaliknya. Sambil membuka Nasi Selasar, warga bersama-sama menyantap hidangan masing-masing sembari bersenda gurau. Seperti biasa, usai Maprani, warga desa juga mengarak Ogoh-ogoh.
Dikatakan Jero Badung, tradisi Maprani dilakukan di badan jalan raya. Ada dua pilihan, warga bisa memakai sebagian badan jalan atau memakai pinggiran jalan sesuai dengan posisi rumah. Prosesi Maprani menjadi unik karena pengendara yang melintas dapat menyaksikan langsung warga Seribatu makan bersama dengan penuh suka-cita. Sesekali warga akan saling suap sampai ada yang membagi kepunyaan mereka masing-masing. "Setiap kepala keluarga wajib diwakili satu orang. Boleh siapa saja, perempuan atau laki-laki. Menarik lagi, kalau ada warga yang belum datang, Maprani belum bisa berjalan. Kita harus tunggu sampai datang," terang Jero Badung.
Krama Seribatu dahulu belum memiliki balai ataupun wantilan. Untuk menjaga nilai kebersamaan itu, warga melaksanakannya di tempat terbuka, salah satunya di jalan. Tradisi itu, bagi warga setempat, sebagai ajang mempererat hubungan antarwarga supaya tetap hidup rukun. Di samping sebagai wujud ucapan syukur atas berkah selama satu tahun, lanjutnya, Maprani dilakukan untuk mendoakan krama desa agar tetap rukun, tidak pernah bertikai, termasuk memohon supaya tahun baru Caka menjadi lebih baik.
"Sebelum menyantap Nasi Selasar, warga terlebih dahulu berdoa, memohon supaya warga diberi keselamatan dan kesehatan, sekaligus berdoa agar tahun baru Caka selanjutnya lebih baik," katanya.
Jero Badung menjelaskan, Maprani Desa sudah dijalankan sejak beratus-ratus tahun secara turun-temurun. Sejarah awalnya belum banyak yang tahu, begitu juga warga setempat. Namun, nilai religius yang sangat tinggi, membuat tradisi ini tetap dipertahankan.
Diakui Jero Badung, Maprani sempat ditiadakan dua kali atau dua tahun berturut. Saat itu, ada salah seorang warga yang meninggal karena sakit. Karena dianggap menghalangi atau bertentangan dengan prosesi upacara, maka Maprani ditiadakan.
Belum jelas mengapa Maprani tidak diadakan. Masuk ke tahun baru Caka selanjutnya, warga kembali absen. Hingga saat itulah, banyak musibah datang silih berganti. "Warga banyak yang sakit, lalu meninggal. Bahkan, sampai ada warga yang jatuh di jalan raya desa sampai meninggal. Setelah absen kedua kali itu, banyak wabah di desa kami," tutur bendesa yang kini aktif beternak ayam itu.
Sejak kejadian memilukan itu, warga desa percaya, Maprani wajib dilaksanakan tiap tahun atau jelang tahun baru Caka. "Pokoknya apapun keadaan yang terjadi, entah ada halangan, warga wajib menggelar tradisi Maprani," pungkasnya.