Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Temuku Telu di Kapal, Tempat melukat Bagi Para Tuna Wicara

I Putu Suyatra • Kamis, 28 Maret 2019 | 15:30 WIB
Temuku Telu di Kapal, Tempat melukat Bagi Para Tuna Wicara
Temuku Telu di Kapal, Tempat melukat Bagi Para Tuna Wicara


BALI EXPRESS, MENGWI - Temuku Telu di Banjar Gegadon Desa Kapal Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung, Bali ternyata tidak hanya sebagai pembagi air di sawah. Sebab Temuku Telu yang saat ini diberi nama Palinggih Iswara ini diyakini bisa sabagai tempat terapi anak atau orang dewasa yang mengalami keterlambatan bicara. Seperti apa?


Selain memiliki ribuah pura dan titik kesucian seperti Gunung, lautan dan danau, Pulau Bali juga memiliki ribuah buah pancuran yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan ritual pembersihan diri atau pengelukatan.


Fungsi dari sumber air baik itu berupa telebutan, pancoran hingga temuku ini pun beragam, mulai dari untuk proses penyembuhan hingga untuk media menyucikan diri dari kekuatan negatif, sehingga setelah melakukan pengelukatan di pancoran tersebut, umat bisa merasakan ketenangan bathin. Dari ribuan pancuran yang ada di Pulau Bali, tidak sedikit yang memiliki fungsi sebagai tempat penyembuhan.


Ada beragam penyakit yang bisa disembuhkan, namun sebagian besar dari penyakit yang biasanya sembuh dari melakukan aktivitas melukat ini adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor non medis. Namun demikian, ada juga pancoran yang bisa menyebuhkan penyakit yang diakibatkan oleh faktor medis.


Salah satu sumber air yang dikenal oleh masyarakat Bali, khususnya yang tinggal di Kabupaten Badung dan sekitarnya adalah Temuku Telu yang berlokasi di Banjar Gegadon Desa Kapal Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung, Bali. Adapun fungsi dari Temuku Telu yang saat ini diberi nama Palinggih Iswara ini adalah untuk menerapi anak/orang dewasa yang mengalami keterlambatan bicara. Seperti apa?


Menurut pemangku Palinggih Iswara, Mangku Ketut Marni, khasiat air temuku Telu untuk mengobati anak yang terlambat bisa berbicara sudah sangat dikenal oleh masyarakat di yang tinggal di sekitar Banjar Gegadon Desa Adat Kapal sejak tahun 1980-an silam. “Air Temuku Telu ini sudah dikenal sejak dahulu oleh masyarakat di sekitar sini untuk mengobati anak yang susah bicara,” jelasnya.


Dari cerita Mangku Marni, sebelum memiliki palinggih permanen seperti saat ini, Temuku Telu ini hanyalah temuku (titik pembagi ait dari saluran utama dalam sistem subak) biasa yang memang sudah dikenal sering digunakan oleh masyarakat untuk memandikan anak yang memiliki kesulitan berbicara.


Pada tahun 1980-an ini, temuku ini dikatakannya hanyalah temuku biasa yang belum dilengkapi dengan pelinggih. “Sebagai pengingatnya, hanya ada tiga buah batu alam saja di sekitar temuku ini dan tidak ada pelinggih ataupun tanda permanen lainnya,” jelasnya.


Seiring dengan informasi yang berkembang, masyarakat yang memanfaatkan air temuku ini untuk memandikan anak-anaknya yang mengalami kesulitan bicara hingga umur tiga tahun lebih, maka pada awal tahun 2000-an, krama Banjar Gegadon sepakat untuk menertibkan proses pengelukatan di Temuku ini. Hal ini dikatakan Marni karena sebelumnya, masyarakat yang datang ke temuku ini untuk melakukan pengelukatan hanya melakukan prosesnya sendiri-sendiri.


Hingga akhirnya dari kesepakatan krama Banjar Gegadon, ditunjuklah Mangku Marni sebagai pemangku di Temuku Telu ini. “Selain perubahan itu, nama dari pelinggih ini juga dirubah menjadi pelinggih Iswara,nama ini kami dapatkan setelah memohon petunjuk dari Sesuhunan yang berstana di Temuku tersebut,” ungkap Mangku Marni.


Meski demikian, proses untuk memperbaharui Temuku Telu ini menjadi Pelinggih Iswara dengan adanya fasilitas pelinggih ini diakui Mangku Marni cukup panjang. Karena pada tahap awal memohon petunjuk, Sesuhunan yang berstana di Temuku Telu ini dikatakannya tidak ingin jika Temuku Telu tersebut dirubah menjadi pelinggih permanen seperti saat ini. “Namun dengan beberapa kali proses dan kami terus memohon, akhirnya Ida Sesuhunan bersedia untuk dibuat permanen,” tambahnya.


Setelah permanen pada awal tahun 2000an, animo masyarakat untuk melukat di pelinggih Iswara mengalami peningkatan. Bahkan masyarakat yang datang dikatakan Mangku Marni tidak saja dari Kabupaten Badung saja, tetapi juga dari berbagai daerah di luar Kabupaten Badung, seperti Denpasar, Negara, Tabanan dan Singaraja.


Bagaimana prosesi pengelukatan yang hatus dijalani oleh balita yang ingin melukat di temuku ini? Ketika ditanya demikian, Mangku Marni menyebutkan jika sebelum melukat di Temuku ini, balita tersebut, si anak atau orang yang ingin melukat terlebih dahulu matur piuning dengan ngaturang pejati di peling Iswara, setelah itu barulah si anak atau orang yang kesulitan untuk berbicara melakukan pengelukatan di temuku Telu ini.


Karena media yang digunakan untuk melukat adalah air temuku, maka prosesi melukat ini dilakukan seperti orang mamdi di sungai. "Jadi balita atau orang yang tidak bisa berbica ini, harua mandi dan keramas seperti halnya mamdi di sungai tanpa menggunakan busana," terangnya.


Setelah melakukan ritual mandi, barulah si anak atau orang yang tidak bisa bicara ini melakukan persembahyangan di pelinggih Iswara. Tujuannya disebutkan Mangku Marni adalah untuk memohon swara atau dilancarkan bicaranya.


Lantas apakah efek dari melakukan pengelukatan di Temuku Telu ini bisa langsung dirasakan oleh balita atau oranh dewasa yang melakukan pengelukatan? Ketika ditanya demikian, Mangku Marni menyatakan jika proses lancarnya berbicara pada maaing-masing anak ini berbeda-beda. Karena ada yang baru sekali melakukan pengelukatan susah bisa langsung bicara, tetapi ada juga yang sudah melakukan pengelukatan hingga enam kali baru bisa lancar berkomunikasi.


Selain anak kecil, Temuku Telu ini dikatakan Marni juga bisa membantu orang dewasa untuk lancar berkomunikasi. "Selain anak kecil, ada orang dewasa juga yang datang dan melukat, dan hasilnya setelah tiga kali orang itu sudah lancar berkomunikaai, padahal sebelumnya hingga usia dewasa orang tersebut belum lancar berkomunikasi," ungkapnya.


 


Jika sudah melakukan pengelukatan di Temuku Telu ini meskipun baru dilakukan satu kali, biasanya dikatakannya sudah menunjukan perubahan. Biasanya si Balita secara perlahan sudah bisa berbicara meskipun kata yang diucapkannya masih patah-patah.

Editor : I Putu Suyatra
#tempat melukat #mengwi #hindu #badung