BALI EXPRESS, GIANYAR - Pura Laban di Banjar Sindu, Desa Sayan, Ubud, Gianyar, salah satu pura unik. Tak hanya 70 subak yang jadi panyungsung, namun banyak sisi magis yang terungkap di kawasan ini.
Satu pura biasanya diempon oleh satu warga yang masih dalam lingkungan desa, kecamatan maupun kabupaten. Namun, berbeda dengan Pura Laban, Ulunswi Subak Gede Tri Bhuana Giri, Pesedahan Yeh Lauh di Banjar Sindu, Desa Sayan, Ubud, Gianyar. Pasalnya, pura tersebut diempon oleh 70 subak di tiga kabupaten.
Pemangku Pura Laban, Jero Mangku Made Naya menjelaskan, keberadaan pura sejak dulu berada di dekat campuhan aliran Sungai Yeh Lauh. “Ini merupakan satu-satunya pura yang diempon oleh 70 subak yang wilayahnya ada di Kabupaten Gianyar, Badung, dan Denpasar,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin di Gianyar.
Puluhan subak ketiga kabupaten tersebut ikut bertanggung jawab terhadap Pura Laban, di mana aliran pengairan sawahnya hulunya di Banjar Sindu, Sayan, Ubud. Tepat pada campuhan aliran sungai yang terbagi menjadi dua bagian. Yakni ke arah Badung dan Denpasar. Sehingga secara turun –temurun puluhan subak tersebut ikut andil dalam kegiatan yang ada di pura.
“Kalau di Gianyar itu terdapat sekitar 40 subak yang dialiri air dari sungai di sini. Terdiri atas Desa Singakerta, subak yang ada di Desa Singapadu hingga Batubulan, " urainya. Di Kabupaten Badung, lanjutnya, terdapat 20 subak yang ada di wilayah Desa Mambal, Sedang, Angantaka dan Sibang. Sedangkan di Denpasar ada 10 subak di Anggabaya, Pohmanis, hingga Padanggalak.
Setiap piodalan yang jatuh pada Pagerwesi, Buda Kliwon Sinta enam bulan sekali, pamedek yang datang mencapai ribuan krama. "Hanya saja yang pokok menangani adalah Subak Bija, yakni krama subak Desa Sayan bagian selatan. Anggotanya pun ada dari Semana, Badung," urainya.
Jero Mangku Naya mengatakan, setiap piodalan krama subak cukup dengan urunan saja.
Agar lebih praktis, lantaran saking banyaknya krama yang ada, pengurus pekaseh sepakat untuk membeli banten pada salah satu subak yang wilayahnya dekat dengan pura.
Pura Laban terdiri atas tiga mandala, yakni utama, madya, dan nista mandala. Luasnya mencapai 15 are, berada di pinggir jurang dan di bawahnya adalah aliran Sungai Lauh. Suasananya asri, namun kesan mistis jika malam hari sangat terasa menyelimuti kawasan pura.
Jero Mangku Naya mengaku tidak ada pantangan khusus, kecuali ada pamedek yang akan ke pura cuntaka. “Ini sama halnya dengan Pura Ulun Carik, soal diberi nama Pura Laban, saya tidak ketahui pasti. Karena sejak tahun 2006 saya menjadi pemangku di sini tidak ada yang tahu asal-usulnya, terlebih di keluarga dari buyut sudah ngayah jadi pemangku turun-temurun,” paparnya.
Meski asal-usulnya tidak ada orang yang tahu, yang jelas pura tersebut sebagai Ulun Suwi dari tiga kabupaten yang ada dan puluhan subak. Tak jarang juga, jika padi diserang hama, petani menghaturkan sesajen ke Pura Laban untuk mohon agar tidak berkepanjangan. Setelah itu, biasanya petani diberkati, dan panen tak lagi diserang hama.
Lima tahun lalu, lanjutnya, ada upacara pamapag toya. Hal itu dilakukan agar aliran air tidak mengecil, juga terhindar dari timbunan longsor yang mengakibatkan pasokan air ke sawah krama subak terganggu. “Kini sudah tidak dilakukan prosesi tersebut, sehingga sering sekali ada mrana (musibah di sawah). Seperti banyaknya yuyu, tebing sering longsor, hingga welang sangit kerap mengganggu padi,” bebernya.
Melihat situasi seperti itu, Jero Mangku Naya bersama pengurus Subak Gede (Gianyar, Badung, Denpasar) akan menggelar kembali prosesi tersebut. Hanya saja kapan akan dilaksanakan, ia mengaku akan menunggu hasil rapat kembali. Sehingga persiapan dan tujuannya benar-benar sesuai kebutuhan krama subak. Sisi mistis lainnya?
Di jaba sisi Pura Laban, ada palinggih di pohon beringin yang rindang dan besar. Jero Mangku Naya mengatakan, banyak orang yang belum memiliki keturunan berhasil memiliki anak setelah nunas ( memohon) di palinggih di pohon beringin. Bahkan, saat akan mengarak bade, krama yang akan mengarak nunas keselamatan juga di kawasan iti. “Kalau nunas anak itu paling sering di palinggih yang ada di beringin ini. Salah satu pasangan di banjar ini juga membuktikannya. Setelah lama tak dikaruniai keturunan, lantas nunas, dan beberapa bulannya mau hamil dan memiliki anak. Bukti tersebut akhirnya menyebar dari mulut ke mulut dan diyakini sampai sekarang,” paparnya.
Bila mau datang, lanjutnya, tidak harus membawa sesajen atau banten yang besar. "Jika mampunya canang tak masalah. Nanti setelah terkabulkan, biasanya akan naur sesangi sesuai apa yang dijanjikan saat memohon," bebernya.
Diakuinya, pada palinggih yang ada di pohon beringin diyakini sebagai rumahnya makhluk halus. Sehingga dibuatkan sebuah patung sebagai palinggih.
Setiap krama banjar setempat dapat giliran ngarap atau mengusung bade, lanjutnya, pasti memohon di kawasan itu terlebih dahulu.
Pasalnya, di palinggih pohon beringin sebagai tempat makhluk halus. Tujuannya, supaya dibantu mengusung, sehingga bade yang berat itu gampang diangkat hingga ke setara (malam). “Sempat di sini ada palebon dengan bade sangat tinggi dan berat. Krama banjar berdoa agar dibantu makhluk halus mengusungnya. Dan, memang terbukti perjalan base menuju setara lancar dan terasa ringan," tandasnya.