BALI EXPRESS, TABANAN - Memiliki keturunan merupakan harapan setiap keluarga. Namun, ada banyak hal yang menyebabkan keturunan itu tak berhasil lahir ke dunia. Ada yang tidak disengaja (keguguran) maupun disengaja (menggugurkan). Tetapi, apapun alasannya, roh dari bayi yang tidak berhasil lahir ke dunia harus diupacarai dengan tepat. Jika tidak, berbagai hal negatif akan mengintai orang tua serta keluarganya.
Hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum memahami soal upacara bagi orang yang pernah mengalami keguguran atau sengaja menggugurkan kandungannya. Kebanyakan, bahkan tidak tahu jika hal tersebut patut diupacarai. Masalah seperti ini kadang dianggap angin lalu, antara percaya dan tidak percaya.
Menurut Jero Mangku Dalang I Nyoman Badra, yang sehari-harinya menjalankan Usadha Agung Bali Niskala, ada juga yang beranggapan bahwa anak di dalam kandungan tersebut masih berupa darah atau belum berwujud, sehingga tidak perlu diupacarai. "Sebenarnya yang diupacarai itu bukanlah wujudnya, tapi rohnya secara niskala, agar tidak ngerubeda (mengganggu) kehidupan orang tua dan keluarganya," ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin di Gianyar.
Kendati pun baru berupa gumpalan darah, sejatinya janin dalam kandungan seorang ibu menurut Hindu sudah memiliki roh. Apabila tidak diupacarai, maka roh anak tersebut akan ngerubeda ke rumah orang tuanya atau keluarganya. Misalnya secara tidak sadar membuat ribut di rumah tangga berkepanjangan. Atau anak yang lahir terkadang juga diganggu menjadi malas sekolah. " Orang yang mengalami keguguran atau menggugurkan, akan mendapat situasi yang berbeda-beda," ujar Jero Mangku Dalang Badra.
Penekun spiritual yang kerap kali membagikan kisah para pasiennya di Facebook ini pun menambahkan, jika kondisi buruk yang dialami, maka pasutri atau keluarga bersangkutan akan mencoba meminta petunjuk niskala. Apa yang didapatkan? " Benar saja ketika 'mapeluasan' diketahui bahwa mereka pernah keguguran atau mengugurkan, namun tidak diupacarai. Ada juga yang setelah 'mapeluasan' (menanyakan kepada orang pintar urusan niskala) diketahui jika roh anak yang gugur telah diasuh wong samar, atau sedih karena di alamnya sendiri. Bahkan, ada juga tidak ingin meninggal karena ingin disekolahkan seperti anak yang lain pada umumnya," sambungnya.
Ditambahkannya, biasanya orang tua bersangkutan juga diberikan petunjuk mengenai upacara apa saja yang harus dilakukan. Namun, secara umum semuanya bertujuan untuk menyampaikan permohonan maaf pada leluhur dan roh si jabang bayi bersangkutan. "Sarana dan prasarananya bermacam-macam, tergantung petunjuk yang didapat orang tua bersangkutan, tetapi tujuannya sama, untuk menyampaikan permohonan maaf," urainya.
Lebih lanjut dikatakannya, menurut Sastra Hindu, orang yang pernah keguguran itu sepatutnya diupacarai Pangepuh Ayu dan Gurupiduka. Dalam hal ini keguguran yang tidak disengaja mungkin disebabkan ibunya jatuh atau janin tidak kuat dalam rahim hingga mengalami keguguran. Sedangkan upacara untuk orang yang sengaja menggugurkan disebut Dhanda Barunana dan Gurupiduka. Dijelaskan Jero Mangku Dalang I Nyoman Badra, menggugurkan dalam artian sengaja dilakukan, namun karena alasan kesehatan yang mengharuskan anak itu digugurkan. Misalnya janin tidak berkembang dengan baik, mengalami cacat fisik, dan meninggal dalam kandungan.
Sedangkan menggugurkan yang secara sengaja karena hamil diluar nikah, hubungan terlarang dan sebaginya, lanjutnya, tentu tidak diperbolehkan, karena selain pertanggungjawabannya secara niskala, orang bersangkutan juga harus bertanggung jawab di hadapan hukum. Hal ini jelas akan menimbulkan efek negatif, jika keguguran atau menggugurkan tidak diupacarai. Diantaranya pertengkaran tanpa henti di rumah tangganya, susah rezeki, keuangan yang gali lobang tutup lobang, kesakitan tak kunjung sembuh hingga yang pling ditakuti adalah sulit mempunyai keturuan. "Namun ini semua tidak mutlak hukumnya, tentunya juga kembali pada karma orang bersangkutan," imbuhnya.
Efek yang ditimbulkan pun terbukti dengan beberapa orang yang tangkil ke Gedong Suci Usadha Agung Bali Niskala di Banjar Pengosekan, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Gianyar, banyak mengalami hal tersebut karena pernah keguguran atau menggugurkan. "Kami di sini sering mengupacarai orang yang pernah keguguran yang biasanya menyebabkan sakit tak kunjung sembuh dan mandul. Bahkan, ada juga yang awalnya tidak sadar dirinya pernah keguguran karena hanya telat beberapa minggu. Setelah dicek di sini, ternyata ada 'pawuwus' bahwa mereka misalnya tidak bisa hamil disebabkan pernah keguguran. Atau banyak juga yang sudah berobat kemana mana, tak kunjung sembuh, setelah dicek ternyata pernah keguguran," papar Sarjana Seni Pedalangan ISI Denpasar tersebut.
Dan, syukurnya setelah diupacarai, lanjutnya, banyak pasien yang berobat yang sakit tak kunjung sembuh penyakitnya berangsur-angsur sembuh. Kemudian orang yang sulit mempunyai keturunan, setelah melaksanakan upacara akhirnya bisa hamil dan mendapatkan momongan. Di samping itu, pasien yang divonis dokter terkena parikokel, sperma encer, kista, hingga miom, juga banyak yang akhirnya bisa memiliki keturunan setelah tangkil ke tempatnya. "Tentu itu semua karena anugerah Sasuhunan, karma orang bersangkutan yang dilandasi keyakinan dan kepercayaan. Kalau saya hanyalah orang biasa, yang wajib ngayah mendoakan agar semua pasien mendapat kesehatan dan kebaikan dalam hidupnya," tegasnya.