Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bhaerawa Masih Menakutkan, Begini Penjelasan Ida Pandita Celagi

I Putu Suyatra • Jumat, 7 Juni 2019 | 17:26 WIB
Bhaerawa Masih Menakutkan, Begini Penjelasan Ida Pandita Celagi
Bhaerawa Masih Menakutkan, Begini Penjelasan Ida Pandita Celagi


BALI EXPRESS, DENPASAR - Sampai detik ini, ketika berbicara mengenai ajaran Bhaerawa banyak orang ketakutan. Lantaran fakta itu pula, Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti membeber  soal pandangan tentang Bhaerawa yang dianggap negatif lewat buku bertajuk Bhaerawa adalah Jalanku. 


Menurut Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti, Bhaerawa adalah sebuah kesektarian dari warisan ajaran leluhur  yang melakukan pemujaan secara khusus hanya kepada sepasang Dewa-Dewi. Kedudukan Dewa-Dewi yang dipuja secara khusus tersebut diletakkan jauh lebih tinggi di atas kedudukan Dewa- Dewi lainnya.


"Bhaerawa bermakna 'Raksasa'  yang merupakan bahasa kiasan atau perlambangan. Makna sebenarnya yang dimaksud adalah tata kelola dan keinginan yang dapat dikontrol, kemudian diubah menjadi kemampuan di luar kewajaran manusia biasa. Nafsu atau keinginan yang berubah menjadi perkasa atau meraksasa tersebutlah yang dimaksud dengan Bhaerawa," papar Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti kepada Bali Express (Jawa Pos Group) saat acara peluncuran buku Bhaerawa adalah Jalanku di Plaza Renon  pekan lalu.



Ida Pandita Dukuh Celagi mengaku memulainya dari ajaran cinta kasih yang ditanamkan. "Tidak bisa langsung spontan mengenai pemahaman yang lebih lanjut. Jadi, pelan-pelan,” ujar sulinggih dari Padukuhan Siddha Swasti, Peguyangan Kaja,  Denpasar Utara ini.


Lebih lanjut dijelaskannya, dalam praktiknya, di era kerajaan masa lampau ada beberapa perkembangan pemahaman tentang Bhaerawa. Pada masa ini, kekuatan Bhaerawa dikelola sebagai bagian dari 'Bela Tanah Air'. "Karena sifatnya yang sangat disiplin, kuat, dan perkasa pada lingkungannya, ilmu ini hanya diajarkan secara terbatas di lingkungan yang dipilih Sang Guru. Musuh negara dan orang awam tahu keperkasaannya, tetapi tidak memahami inti ajarannya. Bahkan, menganggap Bhaerawa sebagai aliran sesat yang harus dijauhi," urainya.


Ida Pandita Dukuh Celagi menyampaikan, musuh negara atau orang awam sadar kekuatan mereka tidak bisa melenyapkan keperkasaan Bhaerawa yang jauh di atas mereka. Maka, dengan segala upaya, termasuk dengan pengaruh politik, aliran Bhaerawa akhirnya dituduh sesat, jahat, kejam, dan lainnya. Tujuan mereka memberikan tuduhan tersebut untuk menghentikan aliran Bhaerawa dan melenyapkan kekuasaan pemerintah di masa itu.


“Mengenai eksistensi Bhaerawa, kalau di Bali, kita sudah sebagai pelaku ajaran Bhaerawa tersebut. Hanya saja pengetahuannya yang jarang. Contoh, proses masegeh. Wujud persembahan terkecilnya, segehan. Kemudian yang terbesar, caru. Melaksanakan upacara nyambleh. Kalau konsep tabuh rah seperti bela negara, artinya keberanian,” terangnya.



Mengenai pemujaan di kuburan, dan kenapa harus ke kuburan? Ida Pandita Dukuh Celagi
menjelaskan bahwa tujuannya untuk menghalau ketakutan. “Bukan untuk apa-apa. Itu proses belajar menghalau ketakutan saja. Kalau orang spiritual masih penakut, percuma. Bagaimana kita menjadi spiritual. Sebenarnya inti dari menghalau ketakutan, sehingga muncul keikhlasan. Sering sekali orang menghadapi kematian takut,” jelasnya.



Sementara itu, dalam lingkup ke-Bhaerawa-an, lanjutnya, seorang guru bisa saja seorang Pendeta atau Sulinggih atau seorang Mangku atau seseorang yang sudah memahami ajaran Bhaerawa dengan jelas. Dalam ajaran Bhaerawa, seorang praktisi diizinkan menikah. 
“Mereka juga tidak diharuskan hidup sebagai seorang vegetarian karena itu tidak akan menjamin kesucian diri. Perilaku kita dalam berlatih sehari-harilah yang menentukan jalan menuju kesucian, lagi-lagi sangat dibutuhkan bimbingan seorang guru spiritual Bhaerawa,” jelasnya.



Ditegaskannya, guru yang ahli dan diyakini mampu memberikan pertolongan dan bimbingan kepada seorang murid atau siswa pemula melalui ritual pemberkatan khusus pada tahap awal memulai pelajaran esoteris (pawintenan). 



Ritual pawinten khusus dianggap penting karena didasarkan pada kepercayaan bahwa ada perbedaan tingkatan pencapaian spiritual antara seorang guru dan seorang calon murid. "Dalam tradisi Bhaerawa, seorang guru memiliki tanggung jawab maksimal dalam tradisi menyelamatkan seluruh muridnya dari sebab karma buruk mereka," paparnya.



Sikap perlindungan sangat berkaitan dengan keteguhan hati untuk menguak tabir rahasia demi tercapainya penerangan yang sempurna. Keteguhan hati tersebut menumbuhkan perubahan sikap, membawa murid untuk melihat keadaan yang sesungguhnya tentang diri dan alam di sekitarnya. Selanjutnya, adalah memperkuat dan memajukan sikap baru yang diperoleh dari meditasi dengan membaca mantra berulang-ulang.

Dalam memberikan ajarannya, lanjutnya, Guru Bhaerawa benar-benar mengawasi dan melindungi muridnya tentang mantra apa yang harus mereka baca dan mana yang belum boleh mereka baca. “Sang Guru tidak akan menambah atau memberikan mantra lanjutan apabila siswa belum memahami arti dan hakikat mantra yang diterimanya. Ini untuk menjaga kesehatan, pola pikir, dan keseimbangan cakra pada tubuh siswa. Dalam melatih mantra, sangat penting bagi siswa untuk mendapatkan petunjuk guru, termasuk menjalankan puasa, meditasi, ritual, dan pantangan lainnya,” jelas Ida Pandita Dukuh Celagi.

Mantra tidak boleh digunakan sembarangan. Untuk itu, siswa dilatih dengan pengucapan suara, napas, dan bahasa yang benar-benar tepat, sehingga dapat memahami hakikat mantra yang sesungguhnya. Lebih lanjut dijelaskan, bahwa guru tidak akan segan memblokir atau menyumbat aliran kekuatan mantra atau pawintenan seorang murid yang salah atau menyalahgunakan kemampuannya ke jalan yang salah. Hal tersebut untuk kebaikan murid sendiri. 



Apakah orang yang mempelajari Bhaerawa saat ini pernah mencapai titik kesempurnaan dari ajaran ini? Diakuinya hingga sekarang belum ada yang mencapai titik paling sempurna. “Kalau orang-orang khusus, bersembunyi. Banyak tokohnya. Hanya saja, ketika sudah mencapai puncak, orang tersebut belajar menjadi orang 'bodoh'.  Seperti kalimat yang ada di sampul depan buku Bhaerawa adalah Jalanku.  Mereka yang benar-benar mengetahui, tidak akan mau mengatakan. Sebaliknya, mereka yang mengatakan, sebenarnya tidak mengetahui," urainya.



Ketika dia tahu,  lanjutnya, dia tidak akan berbicara apa-apa. Malah membodohkan diri. Dia memiliki pengetahuan yang banyak, ditulis dengan cara sembunyi. Termasuk kepada keturunannya. Artinya, tidak segampang ini pengetahuan mereka jadi buku atau lontar. "Dikasi lontar mungkin, tapi kita harus menelaah. Mengupas dari semua itu. Itu lah ajaran simbol namanya. Ajaran simbol ini harus dipecahkan dengan kecerdasan. Jadi, wajib bagi penganut Bhaerawa itu harus pintar, pertama. Kemudian harus cerdas,” tutupnya. (akd)

Editor : I Putu Suyatra
#hindu