GIANYAR, BALI EXPRESS - Fenomena Melik telah menjadi misteri yang melekat dalam budaya Hindu Bali, memicu campuran antara kekaguman dan ketakutan. Tetapi, apa sebenarnya Melik? Apakah itu anugerah dari alam gaib atau malah kutukan yang mengerikan? Mari kita selami lebih dalam dalam keajaiban dan rahasia Melik, serta dampaknya yang mengubah hidup.
Fenomena Melik sudah dikenal umat Hindu Bali sejak dahulu. Ada yang menganggap Melik adalah hal yang menakutkan, tapi ada juga yang menilai Melik adalah anugerah yang istimewa. Mana yang benar?
Mendengar kata Melik, sering mendatangkan pemikiran yang tidak baik, apalagi bagi yang belum memahami sepenuhnya apa itu Melik.
Baca Juga: Tiga Golongan Tari di Bali; Tari Bali, Bebali, dan Balih-Balihan
Sebenarnya Melik itu merupakan anugerah, juga berkah yang dibawa diluar dari manusia biasanya.
Melik banyak jenisnya, salah satu ciri Melik pada umunya orang bersangkutan bisa merasakan getaran niskala, misalnya bisa melihat roh gaib, sering mimpi ke pura atau masiat (bertarung).
Bisa juga ada tanda aneh di tubuhnya, misalnya ada tanda sanjata dewa, bunga atau hal diluar manusia pada umumnya. Ada juga yang dikenal Melik kelahiran atau ceciren (ciri).
Melik dinilai lebih menakutkan karena banyak yang beranggapan bahwa orang Melik memiliki umur pendek.
Bahkan, orang yang meninggal dunia secara tidak wajar kerap diidentikkan dengan Melik.
Menurut Penekun Spiritual, Jro Mangku Dalang I Nyoman Badra asal Banjar Pengosekan, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Gianyar, orang Melik ibaratkan emas yang disukai para Dewa, Bhuta Kala, hingga Wong Samar atau sejenisnya.
Baca Juga: Di Sini Pura yang Ada Palinggih untuk Sunda, Kristen, Hindu dan Islam
Namun, semua tergantung dari pribadi orang itu masing-masing. Jika orang itu suka mensucikan dirinya dan berbuat Dharma, maka ia akan mendapat kebaikan dari Meliknya.
"Bisa saja hidupnya tenang, rezeki melimpah, dan bahkan doanya sering terkabul," ungkap Jro Mangku Dalang I Nyoman Badra kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.
Namun sebaliknya, jika ia tidak mengamalkan sifat ber ke-Tuhan-nannya secara baik, maka ia akan menjadi manusia yang menerapkan sifat Butha Kala.
Akan terjadi masalah besar dalam hidupnya, misalnya emosinya tidak stabil, rezeki seret, banyak masalah dalam kehidupan berkeluarga dan berumah tangga.
"Orang yang Meliknya sangat keras, ada yang bisa berkomunikasi dengan Wong Samar, bergaul dengan Wong Samar, hingga terikat janji hidup di alamnya. Nah kalau itu sudah terjadi, lenyaplah orang Melik itu dari muka bumi ini. Bisa kelihatan nanti meninggal bunuh diri, gantung diri, atau kecelakaan," papar pria dari Banjar Pengosekan, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Gianyar ini.
Dijelaskannya, Melik terdiri dari beberapa jenis, yakni Melik Adnyana, Melik Ceciren, dan Melik Kelahiran.
Lebih lanjut dijelaskan Jro Mangku Dalang I Nyoman Badra, Melik Adnyana atau Widhi biasanya membuat seseorang akan bisa merasakan, atau bisa melihat Roh Halus, dan bahkan bisa berkomunikasi.
Orang Melik Adnyana, biasanya diawali dengan sering mimpi ke pura yang tidak pernah dilihat di alam nyata.
Terkadang pula bermimpi bertemu orang berpakaian putih, dan bertemu Petapakan Ida Bhatara (Rangda atau Barong) yang biasanya akan diberi kekuatan dalam mimpi berupa permata atau senjata.
"Biasanya di alam nyata nanti akan ada yang memberikan senjata tersebut setelah sekian waktu," imbuhnya.
Baca Juga: Pelangkiran bagi Umat HIndu di Bali; Penempatannya Berdasarkan Manifestasi yang Disembah
Sedangkan Melik Ceciren, ada salah satu senjata Dewata Nawa Sanga ada di dalam tubuhnya berupa tanda lahir atau yang hanya bisa dilihat oleh tokoh spiritual saja.
Ada juga yang Kadengan Apit Wangke atau memiliki tahi lalat di kelamin, rambut gimbal, lidah poleng, dan tanda lainnya.
Kemudian ada juga Melik Kelahiran, dimana melik ini disebabkan oleh kelahiran manusia itu sendiri.
Seperti halnya orang yang lahir pada Wuku Wayang, Anak Tunggal (tak bersaudara), Tiba Sampir (anak yang lahir berkalungkan tali pusar), Tiba Angker (anak yang lahir berbelit tali pusar atau tidak menangis), dab Jempina ( anak lahir prematur ).
Kemudian ada disebut Margana (anak lahir di tengah perjalanan), Wahana (anak lahir di tengah keramaian ), Julungwangi (anak lahir tatkala matahari terbit), Julungsungsang (anak lahir tatkala tepat tengah matahari ), Julung Sarab atau Julung Macan atau Julung Caplok (anak lahir menjelang matahari terbenam ).
Kemudian ada Walika (orang kerdil), Wujil (orang cebol), Kembar (dua anak lahir bersamaan dalam sehari), serta Buncing atau Dampit (dua anak beda jenis kelamin lahir bersamaan dalam sehari ).
Baca Juga: Pura Kanda Pat Sari; Sembahyang Boleh Menghadap ke Segala Arah
Selanjutnya Tawang Gantungan (anak kembar selisih satu hari ), Pancoran Apit Telaga ( tiga bersaurdara – perempuan – laki – perempuan ), Telaga Apit Pancoran ( laki – perempuan – laki ).
Selanjutnya ada juga yang disebut Sanan Empeg ( anak lahir diapit saudaranya meninggal ), Pipilan ( lima bersaurdara, empat perempuan satu laki ), Padangon, yakni lima bersaudara, empat laki satu perempuan.