Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Cadhu Sakti RSUP Sanglah Jadi Tempat Keluarga Pasien Berserah

I Putu Suyatra • Senin, 1 Juli 2019 | 21:50 WIB
Pura Cadhu Sakti RSUP Sanglah Jadi Tempat Keluarga Pasien Berserah
Pura Cadhu Sakti RSUP Sanglah Jadi Tempat Keluarga Pasien Berserah

BALI EXPRESS, DENPASAR - Setiap rumah sakit atau Puskesmas di Bali terdapat pura di area wilayahnya, agar keluarga pasien bisa bersembahyang saat menunggui keluarganya jalani rawat inap. Begitu juga dengan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, terdapat sebuah pura yang tak hanya menjadi tempat sembahyang pegawai rumah sakit, namun juga bagi keluarga pasien.


Sebagai umat Hindu tentunya berusaha memohon kesembuhan, ketika sedang sakit kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Apalagi yang sakit harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Maka, bukan pemandangan yang aneh bila ada aktivitas beda, seperti yang terlihat di  Pura Cadhu Sakti RSUP Sanglah. Pasalnya, tidak  hanya keluarga pasien  yang sembahyang dan masesangi (berkaul). Tapi,  mahasiswa koas juga ikut  menyakupkan tangannya dengan khusyuk agar dilancarkan  pendidikannya. Rutinitas menjalani perawatan sejalan dengan keseharian  bersembahyang untuk berserah kepada Hyang Mahasempurna, turut mewarnai hiruk pikuk pagi hari di RSUP Sanglah.


Sinar matahari sudah menyingsing di pagi itu, jalanan di Kota Denpasar mulai ramai dan macet dengan kendaraan bermotor. Kendaraan berlalu-lalang menuju berbagai tempat, salah satunya adalah RSUP Sanglah di Jalan Diponegoro, Dauh Puri Klod, Denpasar Barat. Sebagai rumah sakit terbesar di Bali, tidak mengherankan melihat ramainya aktivitas orang menuju ke sana.
Puluhan orang masuk dari depan rumah sakit menuju ke jalan area poli klinik, dan terlihat beberapa orang membawa nampan berisi canang sari dengan dupa menyala. Mereka memakai kamben dan selendang melilit di pinggang, dan berjalan terus mengarah ke utara. Rupanya mereka hendak  bersembahyang di Pura Cadhu Sakti RSUP Sanglah.


Menurut Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat RSUP Sanglah, Dewa Kresna, 43, Pura Cadhu Sakti RSUP Sanglah didirikan berbarengan dengan pendirian RSUP Sanglah tahun 1959.
Piodalan di Pura  Cadhu  Sakti, dilaksanakan pada Anggarakasih Wuku  Prangbakat. “Piodalan bisa  berlangsung  selama empat hari  karena jumlah  pegawai  sangat  banyak, ditambah  mahasiswa  yang  sedang  koas  dan  juga  residen  serta  keluarga  pasien  yang ikut  bersembahyang,” imbuh Dewa Kresna. Di Pura Cadhu Sakti RSUP Sanglah  ini ada Padmasana, Palinggih  Bhatara  Gana, Palinggih  Ratu  Gede  Nusa,  dan  Palinggih  Panglurah. “Kalau  di  area  lain  rumah  sakit  juga  ada  beberapa  palinggih, yakni  Palinggih  Ratu  Niang, Palinggih Mas Manik, Palinggih  Ratu  Pengadangan,  dan  Palinggih  Panunggun  Karang,” ujar  Dewa  Kresna kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin.


Dikatakannya, di  Pura  Cadhu  Sakti  ada  dua  orang  pemangku  tetap,  yakni  Mangku  Mas  dan  Mangku  Maja. “Keduanya  adalah  pensiunan  pegawai  di  RSUP  Sanglah, kemudian  ada  juga 14 orang  pemangku  yang  ngayah  di  Pura  Cadhu  Sakti,” cerita pria  yang menjabat  sebagai  Kasubag  Humas  sejak  tahun  2016 ini.


“Keempat  belas  pemangku  itu  juga  pegawai  yang masih bekerja di  rumah  sakit  ini,” tambahnya  lagi. Tentang orang  yang  masesangi, Dewa  Kresna yang  saat  diwawancarai  menggunakan  pakaian  adat  Bali, menuturkan  biasanya  masesangi  dilakukan oleh  keluarga  pasien  untuk  doa  kesembuhan si pasien. “Selain  keluarga  pasien, sering juga  mahasiswa  yang  sedang koas  agar  mendapat  restu  bisa menyelesaikan  pendidikannya  dengan  baik,” terangnya. 


Dewa  Kresna  mengatakan, pemugaran Pura  Cadhu  Sakti hingga bangunannya seperti saat ini, dilaksanakan  sekitar  tahun 2004. Menurut rencana akan ada  macaru  dan  upacara  lebih  besar  yang belum pernah dilaksanakan sebelumnya   pada   Oktober 2019  mendatang, tepatnya saat piodalan  nanti  di  Anggarakasih  Prangbakat. “Akan ada  macaru  dan ngaben  untuk  jenazah  yang  tidak  ada  identitas  atau  keluarganya, yang selama  ini  ditampung  di  rumah sakit. Tapi,  jenazah  itu  harus sudah  selesai  dengan  prosesnya  di  kepolisian,” tuturnya  di Kantor  Humas  RSUP  Sanglah. “Prosesi  ngabennya hanya  sampai  dilarung abunya di laut saja, karena  kita  tidak  bisa  malinggihkan mereka di rong telu,  seperti  pada  proses  ngaben  pada  umumnya. Proses  ngaben    juga  dibantu  oleh  Dinas  Sosial,” tutupnya. (sue)

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #pura #sejarah pura