BALI EXPRESS, DENPASAR - Setiap rumah sakit atau Puskesmas di Bali terdapat pura di area wilayahnya, agar keluarga pasien bisa bersembahyang saat menunggui keluarganya jalani rawat inap. Begitu juga dengan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, terdapat sebuah pura yang tak hanya menjadi tempat sembahyang pegawai rumah sakit, namun juga bagi keluarga pasien.
Sebagai umat Hindu tentunya berusaha memohon kesembuhan, ketika sedang sakit kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Apalagi yang sakit harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Maka, bukan pemandangan yang aneh bila ada aktivitas beda, seperti yang terlihat di Pura Cadhu Sakti RSUP Sanglah. Pasalnya, tidak hanya keluarga pasien yang sembahyang dan masesangi (berkaul). Tapi, mahasiswa koas juga ikut menyakupkan tangannya dengan khusyuk agar dilancarkan pendidikannya. Rutinitas menjalani perawatan sejalan dengan keseharian bersembahyang untuk berserah kepada Hyang Mahasempurna, turut mewarnai hiruk pikuk pagi hari di RSUP Sanglah.
Sinar matahari sudah menyingsing di pagi itu, jalanan di Kota Denpasar mulai ramai dan macet dengan kendaraan bermotor. Kendaraan berlalu-lalang menuju berbagai tempat, salah satunya adalah RSUP Sanglah di Jalan Diponegoro, Dauh Puri Klod, Denpasar Barat. Sebagai rumah sakit terbesar di Bali, tidak mengherankan melihat ramainya aktivitas orang menuju ke sana.
Puluhan orang masuk dari depan rumah sakit menuju ke jalan area poli klinik, dan terlihat beberapa orang membawa nampan berisi canang sari dengan dupa menyala. Mereka memakai kamben dan selendang melilit di pinggang, dan berjalan terus mengarah ke utara. Rupanya mereka hendak bersembahyang di Pura Cadhu Sakti RSUP Sanglah.
Menurut Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat RSUP Sanglah, Dewa Kresna, 43, Pura Cadhu Sakti RSUP Sanglah didirikan berbarengan dengan pendirian RSUP Sanglah tahun 1959.
Piodalan di Pura Cadhu Sakti, dilaksanakan pada Anggarakasih Wuku Prangbakat. “Piodalan bisa berlangsung selama empat hari karena jumlah pegawai sangat banyak, ditambah mahasiswa yang sedang koas dan juga residen serta keluarga pasien yang ikut bersembahyang,” imbuh Dewa Kresna. Di Pura Cadhu Sakti RSUP Sanglah ini ada Padmasana, Palinggih Bhatara Gana, Palinggih Ratu Gede Nusa, dan Palinggih Panglurah. “Kalau di area lain rumah sakit juga ada beberapa palinggih, yakni Palinggih Ratu Niang, Palinggih Mas Manik, Palinggih Ratu Pengadangan, dan Palinggih Panunggun Karang,” ujar Dewa Kresna kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin.
Dikatakannya, di Pura Cadhu Sakti ada dua orang pemangku tetap, yakni Mangku Mas dan Mangku Maja. “Keduanya adalah pensiunan pegawai di RSUP Sanglah, kemudian ada juga 14 orang pemangku yang ngayah di Pura Cadhu Sakti,” cerita pria yang menjabat sebagai Kasubag Humas sejak tahun 2016 ini.
“Keempat belas pemangku itu juga pegawai yang masih bekerja di rumah sakit ini,” tambahnya lagi. Tentang orang yang masesangi, Dewa Kresna yang saat diwawancarai menggunakan pakaian adat Bali, menuturkan biasanya masesangi dilakukan oleh keluarga pasien untuk doa kesembuhan si pasien. “Selain keluarga pasien, sering juga mahasiswa yang sedang koas agar mendapat restu bisa menyelesaikan pendidikannya dengan baik,” terangnya.
Dewa Kresna mengatakan, pemugaran Pura Cadhu Sakti hingga bangunannya seperti saat ini, dilaksanakan sekitar tahun 2004. Menurut rencana akan ada macaru dan upacara lebih besar yang belum pernah dilaksanakan sebelumnya pada Oktober 2019 mendatang, tepatnya saat piodalan nanti di Anggarakasih Prangbakat. “Akan ada macaru dan ngaben untuk jenazah yang tidak ada identitas atau keluarganya, yang selama ini ditampung di rumah sakit. Tapi, jenazah itu harus sudah selesai dengan prosesnya di kepolisian,” tuturnya di Kantor Humas RSUP Sanglah. “Prosesi ngabennya hanya sampai dilarung abunya di laut saja, karena kita tidak bisa malinggihkan mereka di rong telu, seperti pada proses ngaben pada umumnya. Proses ngaben juga dibantu oleh Dinas Sosial,” tutupnya. (sue)
Editor : I Putu Suyatra