Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lontar Kuno di Pura Mekah Ungkap Silsilah Arya Kepakisan di Bali

I Putu Suyatra • Sabtu, 27 Juli 2019 | 17:37 WIB
Lontar Kuno di Pura Mekah Ungkap Silsilah Arya Kepakisan di Bali
Lontar Kuno di Pura Mekah Ungkap Silsilah Arya Kepakisan di Bali


BALI EXPRESS, DENPASAR - Demi mengungkap rahasia tentang lontar yang berada di Pura Mekah, Badan Arkeologi Denpasar akhirnya melakukan penelitian tahun 2007. Didapatkan beberapa tentang asal usul prasasti lontar yang kini disimpan di salah satu gedong adalah salinan dari naskah induk atau babon, yang berasal dari Padangrata, Karangasem.


Pura Mekah yang terletak di Banjar Binoh Kaja, Desa Ubung Kaja ini, tak hanya namanya saja yang unik.
Selain tentang sembahyang pamuputnya yang menghadap ke barat, terdapat juga sebuah prasasti lontar kuno. “Iya tahun 2007 diselesaikan penelitian tentang prasast lontar kuno di pura ini,” ujar pemangku Pura Mekah, Mangku Made Wirya, 56, saat ditemui Bali Express ( Jawa Pos Group) di kediamannya.


Sebaga pura keluarga yang kini diempon oleh 16 Kepala Keluarga (KK),  piodalan dilaksanakan setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Wrespati Kliwon Wuku Warigadian. “Hal unik di pura ini sembahyang dua kali. Yang pertama ke arah timur, kemudian pamuputnya ke arah barat. Kita ngayatnya ke Pura Dalem Solo yang ada di Jawa, makanya  pamuputnya ke arah barat,” tutur mangku paruh baya ini.



Dikatakan Mangku Made Wirya,  yang malinggih adalah Ratu Hyang Gede Mekah. "Nama pura ini diharapkan jangan dikaitkan ke agama lain, karena namanya memang unik,” sambungnya.



Dengan nama unik dan adanya prasasti lontar, lanjutnya,  menjadikan pura yang terletak di Ubung ini menarik perhatian  mahasiswa untuk melakukan penelitian dan mencari data. “Sering kali ada penelitian tentang pura ini, salah satunya adalah tentang prasasti lontar kuno yang ada di pura. Tahun 2007 akhirnya diselesaikan oleh Balai Arkeologi Denpasar,” ungkapnya lagi, sambil menunjukkan hasil penelitian tersebut.



Penyalinan lontar diupayakan tetap mempertahankan keaslian teks. Akhirnya didapat kesimpulan bahwa aksara pada lontar yang digunakan adalah aksara Bali Baru. Berbeda dengan bangun aksara yang digunakan pada prasasti kuno di Bali lainnya, seperti Blanjong, Tonja, dan Peguyangan. “Prasasti lontar ini ditulis dengan digores benda tajam yang disebut pengrupak atau perupak,” ujar Mangku Made Wirya, sambil membaca laporan arkeologi tersebut.



Dari hasil penelitian, lanjutnya,  bahasa yang digunakan adalah Bahasa Kawi-Bali atau Bahasa Tengahan, yakni Bahasa Bali Alus bercampur dengan Bahasa Jawa Kuno. Bahasa seperti ini mulai banyak digunakan era karya satra pada masa periode Gelgel dan masa setelahnya. “Menurut laporan ini juga, akhirnya kami tahu bahwa prasasti lontar yang ada di pura kami ini dibuat tahun 1808 Saka atau 1886 Masehi, dan juga merupakan salinan dari naskah induk asal Padangrata, Karangasem. Naskah ini sendiri disalin oleh Bapa Wayahan Karang dari Liran, setelah mendapat Izin dari I Gusti Nyoman Kuwun asal Padangrata Karangasem,” bebernya pemangku yang berprofesi sebagai pedagang ini.



Hasil naskahnya pun menjelaskan tentang silsilah keturunan Arya Kepakisan yang akhrinya menurunkan banyak keluarga dari dua putranya, yakni Pangeran Asak dan Pangeran Nyuhaya. Pangeran Asak atau dikenal dengan nama I Gusti Asak berputra Pangeran Ngine atau Gusti Nginte, sedangkan Pangeran Nyuhaya berputra tujuh orang, yakni I Gusti Petandakan, I Gusti Sastra, I Gusti Pelangan, I Gusti Akah, I Gusti Keloping, I Gusti Cacaran, dan I Gusti Anggan. Dari semua putra-putra tersebut, maka lahirlah keturunan Arya Kepakisan sampai sekarang ini.



Selanjutnya  mulai menurunkan keluarga dengan memakai nama Arya dan Gusti dengan berbagai sebutan. Akibat melalui pasang surut ekonomi dan politik pada masa lampau, akhirnya ada sebagian keturunan Arya Kepakisan yang tidak lagi memakai dua gelar itu sekarang. Mereka beralih menggunakan nama Wayahan, Made, Nengah, Nyoman, Ketut, Nanang si A, Bapan si B dan lainnya. “Sebagian tetap ada yang memakai nama Gusti dan Arya. Mungkin yang tidak memakai nama tersebut karena nyineb wangsa,” ujar Mangku Made Wirya yang baru beberapa bulan ini menjadi pemangku di Pura Mekah ini.
“Kita kan juga tidak tahu ya pada masa kerajaan dahulu, alasan leluhur melakukan nyineb wangsa. Juga banyak kan zaman dahulu keluarga-keluarga yang memang melakukan itu, dan memilih menjadi keluarga biasa,” selorohnya sambil menemani penulis melihat-lihat Pura Mekah.



Dijelaskannya, tujuan dari penelitian  diharapkan akan semakin mempererat hubungan para keturunan Arya Kepakisan. Sebagai sebuah khasanah budaya warisan leluhur, lanjutnya, hal ini bisa digunakan pula sebagai cara menyatukan warga panyungsung untuk memaknai masa kini dan yang akan datang. (sue)

Editor : I Putu Suyatra
#pura unik #hindu #denpasar #pura #sejarah pura