BALI EXPRESS, DENPASAR - Setelah sekian lama terpendam serta simpang siur, akhirnya keberadaan situs lukisan wayang di atas batu di kawasan Manukaya Dagdag, Desa Pesaban, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem akhirnya terungkap. Seperti apa makna peninggalan bersejarah itu?
Medan yang sulit serta minimnya kesadaran akan pentingnya sejarah membuat salah satu bagian keberadaan situs wayang dalam gambar bentuk manusia ini nyaris terabaikan. Namun, berkat Pokdarwis atau Kelompok Desa Wisata yang dikomandani oleh I Putu Puspa Artayasa, misteri benda bersejarah itu mulai terkuak.
Berkat doa dan restu masyarakat Pesaban serta dukungan dari Kepala Desa Dewa Sarjana dan Bendesa Adat I Made Sudiarta akhirnya benda bersejarah itu bisa terkuak.
Putu Yuda Haribuana dari Badan Arkeologi Bali yang turun langsung ke lokasi memaparkan kajian singkatnya. "Kajian singkat ini dibuat sebagai tindak lanjut dari peninjauan lapangan ke lokasi temuan relief, sebagaimana surat undangan dari Pokdarwis Saban Bercahaya Desa Pesaban, Nomor: 5/PKD-PSB/VI/2019, yang ditujukan kepada Kepala Balai Arkeologi Bali," kata Putu Yuda.
Berdasarkan undangan tersebut, Kepala Balai Arkeologi menugaskan pihaknya untuk melakukan peninjauan ke lokasi dimaksud dengan surat tugas Nomor: 0649/H5.9/KP/2019. Kegiatan peninjauan dilakukan bersama dengan perwakilan dari Balai Arkeologi Bali, BPCB Bali, Dinas Kebudayaan Kabupaten
Karangasem, Camat Rendang dan Perbekel Pesaban, serta Kepala Dusun Pesaban
Kawan, Senin (8/7)
Lokasi relief, secara administratif, terletak di Dusun Pesaban Kawan atau Subak Mukaya, Desa Pesaban, Kecamatan Rendang-Karangasem. Secara astronomis terletak pada -8.47293ºLS dan 115.39490ºBT di ketinggian 369.2 mdpl. Lokasi dapat dicapai dari Kantor Desa Pesaban menuju ke utara, kemudian lewat gang ke arah barat atau kiri, dengan menggunakan sepeda motor mengikuti jalan beton sejauh 1 km.
"Relief ini dibuat di sebuah media batu padas di tebing bagian timur Tukad atau Sungai Jinah. Ukuran total media batu padas, dimana terdapat relief ini, adalah 3 x 2.4 m, dengan kedalaman pahatan 5 cm. Relief berupa gambar perwujudan laki-laki dan perempuan dengan ciri khas menampakkan alat genital.," ujarnya.
Lebih jauh ditekankan, gaya relief sederhana dengan hiasan di pinggiran yang berbentuk bingkai bermotif bentuk mata, daun, suluran, kotak dan lingkaran atau spiral. Media batu pada relief ini berupa batuan tufa dengan sedikit fragmen breksi.
Jika dikorelasikan dengan kisaran umur pada peta geologi yang dikompilasi oleh Purbo-Hadiwidjojo et al (1998), batuan ini termasuk dalam kelompok Batuan Gunung api Buyan-Beratan dan Batur dengan kisaran umur 30.000 tahun.
Kelompok batuan vulkanik ini sebagian besar tersusun atas tufa dan lahar. Kondisi relief secara keseluruhan masih terjaga dengan baik, namun terdapat beberapa bagian yang telah aus atau lapuk dan ditumbuhi sejenis tumbuhan jamur.
Relief berada di tebing sungai yang sangat curam dengan kemiringan hampir 90º, namun masih terdapat
sejenis pelataran sempit dari sedimen atau endapan tanah, bekas jatuhan bongkah batuan dari atas, sehingga masih dapat dilalui walaupun harus dengan sangat berhati-hati.
Dalam arkeologi, penggambaran sesuatu dengan media batu, dari teknik pembuatannya terbagi menjadi tiga, rock painting (lukisan), rock engraving (goresan) dan rock carving (pahatan). Gambar di situs Mukaya Dagdag termasuk dalam rock carving.
Berdasarkan bentuknya, pahatan berupa dua figurin ini termasuk bertipe sederhana dan teknik pengerjaannya masih kasar. Penggambaran gigurin juga masih kaku dan statis. Ukiran tidak dipahatkan secara keseluruhan, hanya bagian kepala dengan mata, hidung, dan mulut, serta hiasan kepala. Sedangkan bagian kaki tidak tampak jelas, dan penggambaran kemaluan yang menonjol.
Dari keseluruhan penggambaran tersebut, seni cadas di atas dapat dikaitkan dengan konsep budaya megalitik. Istilah megalitik berasal dari mega berarti besar dan lithos berarti batu. Budaya megalitik berkembang sejak masa neolitik hinggsa masa perundagian. Bahkan sampai saat ini masih ada yang bertahan dan disebut sebagai tradisi megalitik.
Konsep yang melatarbelakangi budaya megalitik adalah kepercayaan pada roh leluhur. Kebudayaan megalitik hadir sebagai manifestasi dalam menjalin hubungan antara yang hidup dan yang telah meninggal.
Apabila dikaitkan dengan konsep megalitik, penggambaran dua figurin berupa laki-laki dan perempuan tersebut kemungkinan melambangkan leluhur, sedangkan genitalia yang menonjol melambangkan kesuburan maupun tolak bala.
Hal ini terkait dengan kepercayaan bahwa roh orang yang telah meninggal, masih hidup di alam lain, dan dianggap mempunyai pengaruh kuat terhadap kehidupan manusia yang masih hidup, sehingga media tersebut dipergunakan sebagai penghubung.
Dalam kehidupan pra sejarah di Bali, kebudayaan megalitik berkembang sangat pesat, dengan tinggalan yang paling banyak ditemukan berupa sarkofagus atau petikubur batu. Hiasan yang terdapat di dalam sarkofagus berupa kedok muka dan juga genitalia yang menonjol. Menurut beberapa peneliti, hal tersebut terkait dengan konsep kelahiran kembali dan juga kesuburan serta tolak bala.
Temuan berupa seni cadas dengan bentuk yang sederhana seperti di atas, belum ditemukan di daerah lain di Bali, sehingga sangat menarik untuk dikaji lebih jauh agar dapat menginterpretasikan lebih dalam terkait dengan fungsi dan makna yang terkandung di dalamnya. Selain itu juga untuk mengungkap keterkaitannya dengan situs megalitik lain di Bali maupun di Indonesia.
Seni cadas di Indonesia ditemukan di beberapa daerah seperti di Sulawesi dari masa yang lebih tua (masa paleolitik), situs gua harimau di Sumatera, di Papua dan di wilayah NTT. Seni cadas berupa pahat baru-baru ini ditemukan juga di Lembata dan Alor. Simpulan sementara mengenai seni cadas di NTT terkait dengan budaya Austronesia yang menyebar di wilayah ini.
Editor : Nyoman Suarna