BALI EXPRESS, JEMBRANA - Bencana terjadi tak hanya karena alam yang murka, namun juga karena ulah manusia. Sesama manusia terancam bencana, karena tak patut memanfaatkan potensi dirinya.
Manusia perlu belajar dari lebah madu atau tawon. "Walaupun kumpul dalam satu rumah satu lobang, tetapi tawon tak pernah berkelahi. Namun, ketika rumahnya diganggu, maka satu rumah siap mati demi menjaga rumah bersama anak dan hartanya," terang Pinisepuh Pasraman Sastra Kencana, Guru Nabe Budiarsa kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Banjar Tegak Gede, Yeh Kembang, Mendoyo, Jembrana.
Prinsip lebah madu, lanjut tokoh spiritual Wahyu Siwa Mukti ini, mereka kumpul jadi satu sarang, semua berjuang mencari sari, lalu diolah menjadi madu. "Ada yang mencari sari, ada yang mengolah madu, ada yang menjaga sari dan madu, ada yang menjamin makan. Walaupun anggotanya berjumlah ribuan, tapi tak pernah ribut, apalagi sampai berkelahi. Mereka sibuk membuat madu mengumpulkan sari untuk menjamin hidup bersama," urainya.
Tak disanggahnya banyak ada gangguan dialami seseorang ataupun keluarga. Bahkan, antar sesama keluarga kadang masalah itu datang. "Jika kita mengalami perubahan, semakin aman semakin digoda, semakin maju semakin diganggu, dan semakin rukun semakin dikacau. Inilah secuil gambaran Bali karena tidak sedikit orang yang memiliki sifat SMS, yakni Susah Melihat orang Senang, Senang Melihat orang Sakit, Stres Melihat orang Sukses, dan selanjutnya Sukses Membuat orang Struk," kritik Guru Nabe Budiarsa.
Ditegaskannya, Panca Meda Malaning Bali telah banyak merusak mentalitas kita sebagai umat. "Kadang banyak spiritual, malah tidak menyebabkan kita banyak tumbuh kasih pada sesama. Justru saling tantang adu kesaktian, adu kekuatan dengan sesama, bahkan dengan keluarga sendiri," urainya. Guru Nabe Budiarsa mengingatkan, harus hati-hati dengan tawaran spiritual yang menjanjikan aneka rasa, aneka keindahan, tapi malah ikut berakhir pada Panca Meda Malaning Bali.
Seperti apa yang dimaksud Panca Meda Malaning Bali yang sejatinya sudah ada di depan mata? Dijelaskan Guru Nabe Budiarsa, ketika suci mati oleh kotor. Maksudnya, ada perilaku semakin suci orang Bali (Hindu), justru semakin takut dengan kotor. Padahal, musuh semua menggunakan 'kotoran' untuk menyakiti, menyiksa dan membantai. Untuk menyucikannya kembali butuh biaya besar. "Semakin suci semakin tidak kuat dengan kotoran. Ibarat baju, kalau putih pasti tidak berani dengan warna lain. Maka, kesucian kita kalah dengan kotoran," terangnya.
Selanjutnya, ketika pintar meninggalkan saudara. Artinya, ketika punya saudara memiliki kelebihan, kepintaran bukannya untuk menolong saudaranya yang lebih bodoh dan miskin, namun malah tak peduli dengan saudara sendiri, dan sibuk ngurusin orang lain. "Persis seperti pohon pule, kulit habis dikasi orang, untuk dirinya sendiri malah tak ada," ujarnya.
Panca Meda Malaning Bali selanjutnya adalah, ketika sakti justru menyakiti saudara sendiri. "Banyak anggota keluarga belajar ilmu spiritual, mencari guru yang mestinya dengan tujuan agar bisa menolong saudaranya, bisa melindungi keluarga. Tapi, ujung-ujungnya malah suka menyakiti dan menyiksa saudara sendiri. Serakah, bahkan konon tidak sedikit demi ilmu, saudara dijadikan tumbal," bebernya.
Bencana berikutnya, ketika kaya, 'mati' judi dan mabuk. Dikatakannya, dengan dalih tabuh rah atau sabuh rah misalnya, judi pun dikukuhkan di tempat suci berlindung di balik dresta desa sebagai sebuah keyakinan. Padahal, sangat bertentangan dengan agama dan Weda, tapi akan tetap kuat karena dikaitkan dengan upacara. Sejatinya, tabuh rah itu sudah ada di caru berupa darah dan olahan mentah rateng. "Ini terjadi dari zaman kuno saat pembodohan zaman penjajahan. Akhirnya, ketika agama mulai diterapkan, Weda mulai dibaca, maka tabuh rah mulai ditiadakan, namun judi itu pindah dan bergeser dari tempat suci menjadi tempat khusus. Begitu juga minuman memabukkan berubah menjadi serba lebih bagus. Banyak minuman impor. Judi dan minum menjadi warna penghancur ekonomi, apalagi ada seseorang berjiwa bogbog ajum," paparnya.
Panca Meda Malaning Bali yang terakhir, ketika bodoh dan miskin mati mayadnya. Akibat kebodohan kita, lanjutnya, punya tiga merajan saja tidak dipahami. "Tidak tahu siapa yang berstana, tidak tahu apa fungsi dan manfaatnya. Maka, otomatis akan banyak salah dalam hidup, lalu kena hukum Rwabhineda. Kesalahan akan membawa penderitaan dan kesengsaraan, lalu sakit-sakitan. Yang pasti, kebenaranlah yang akan membawa diri menuju rahayu, rahajeng, dan jagaditha," ulasnya.
Ditambahkannya, kesalahan akan terus terjadi dan makin parah, bila umat kurang mendapat pembinaan, bagaimana berketuhan menurut konsep Hindu Bali yang sebenarnya agar tidak salah di rumah sendiri. "Bila kesalahan demi kesalahan terjadi, maka hukuman demi hukuman pun terjadi. Lucunya, ketika nanya pada orang yang dianggap tahu, bahkan dianggap wikan, jawabannya 'nak mula keto sing bani ngerubah'. Memang begitu dari dahulu, tidak berani mengubah," ungkapnya.
Di sisi lain, lanjut Guru Nabe Budiarsa, ada yang mau sedikit menjelaskan, tapi ngalor-ngidul tidak tahu ujung pangkalnya. Dan, dari penjelasan setiap orang, semua berbeda-beda sehingga sulit diterima akal sehat.
Lalu, kapan kita akan bisa mengubah mindset kita supaya bisa lepas dari kekuatan Panca Meda Malaning Bali? "Tanpa punya keberanian untuk berubah, maka tak akan pernah bisa berubah. Tanpa mau berubah, tinggal tunggu waktu kapan kita akan mengalami puncak kekacauan dan puncak kemiskinan karena kita punya kelemahan sangat tinggi. Mari merenung sejenak, jangan banyak teori karena kita dituntut bukti," pungkasnya.
Editor : Nyoman Suarna