BALI EXPRESS, DENPASAR - Nama Jero yang tersemat di sosok seseorang bukanlah titel akademis, dan bukan pula untuk gagah-gagahan demi meningkatkan status sosial. Namun, dalam kata 'Jero' menempel erat sebuah tanggung jawab moral yang mengarah ke ranah niskala dan sekala bagi umat Hindu di Bali.
Menurut Jero Mangku Dalang Badra, saat ditemui Bali Expres ( Jawa Pos Group) di rumahnya Banjar Pengosekan, Desa Mas, Ubud Gianyar, pekan kemarin, kata 'Jero' terkait Jero Mangku, Jero Dalang, Jero Balian tersirat berbagai makna. Jero juga berarti di dalam pura atau jeroan ( tempat utama ) atau di tengah.
"Jadi, dalam nilai filsafat diharapkan orang yang mempunyai nama Jero, mempunyai ilmu yang dalam bidang tugasnya, selalu berada dalam tempat suci atau mengabdikan dirinya sepenuhnya, dan selalu 'di tengah' terkait sebagai penghubung sekala niskala dalam pelayanan umat dan bijak dalam segala permasalahan," urai pria yang aktif mengobati umat terkait penyakit niskala ini. Di samping itu, lanjutnya, orang yang menyandang nama Jero harus selalu belajar untuk menjadi manusia yang utama.
Lelaki pendiri sekaligus Dharma Usadha di Gedong Suci Usadha Agung Bali Niskala ini, menjelaskan, kata 'Jero' bagi seorang pemangku, Balian dan Dalang, akan didapat melalui proses Nyisya dan telah lulus hingga diwinten dan diberi gelar Jero. Mawinten berasal dari dua kata dalam bahasa kawi, yakni mawa dan inten. Mawa bermakna menjadi, dan inten artinya suci, bercahaya, dan sakral. Dalam hal ini proses pawintenan terkandung makna bahwa seseorang yang sudah mawinten diharapkan menjadi suci, berkharisma, dan sakral. Sehingga, patut mendapat kedudukan sosial di masyarakat sebagai seorang Ekajati. Ekajati artinya kelahiran yang pertama, jika dikemudian hari madiksa, ia akan menjadi seorang dwijati atau kelahiran yang kedua.
“Namun, jangan sampai nama Jero itu disalahgunakan. Misalnya baru kita senang melaksanakan kegiatan spiritual, kita mengubah nama kita sendiri di media sosial berisi nama Jero," paparnya.
Atau bisa juga ketika dipanggil Jero, lanjutnya, seseorang merasa senang dan membiarkan sebutan itu untuk memanggil dalam pergaulan sehari hari. Padahal, belum melewati proses pembelajaran yang patut digelar sebagai penyandang nama Jero.
"Ini akan bertambah buruk bagi kehidupan ke depan. Misalnya salah mengamalkan nama Jero, malah menjadi cemohan di masyarakat," imbuh pria yang juga Dalang tamatan ISI Denpasar tersebut.
Selain itu, menurutnya, ada pantangan bagi yang telah menyadang nama Jero, yang jika dilanggar akan menyebabkan sakit-sakitan. Apa saja pantangan itu ? Misalnya tidak boleh makan daging suku empat. Jika ini dilanggar akan menyebabkan kemalasan dan sulitnya menyerap ilmu pengetahuan. Sedangkan seorang yang sudah menyandang nama Jero, wajib hukumnya cerdas dan senang belajar sastra. Selain itu, juga tidak boleh makan dari tataban dan upacara orang Ngaben. Karena hal ini akan menyebabkan Sinar Suci Cakra Siwa Duara leteh. Hingga mantra dan doa yang dilantunkan, juga tidak akan pernah terkabulkan. Dilarang juga untuk berzinah, karena ini akan menyebabkan derajat turun di masyarakat, tidak dipercayai, dicemooh, bahkan dikucilkan ketika ketahuan dan terlibat hukum.
"Berjudi juga wajib dihindari, bagi yang sudah menyandang kehormatan nama Jero. Karena ini bisa menghilangkan taksu bagi tugas niskala yang dilaksanakan," sambung lelaki yang baru dikaruniai satu putri tersebut.
Ada juga sebutan kata Jero lainnya bagi seseorang, misalnya orang Sudra yang menikah dengan orang berkasta, akan dipanggil misalnya Jero Gadung, Jero Sandat, dan lain sebagainya. Begitu juga ketika bertemu orang yang tidak dikenal, bisa juga dipanggil dengan Jero. Misalnya Jero Lanang dan Jero Istri. Binatang ada juga yang disebut Jero, misalanya 'Jero Ketut'. Namun, kata Jero ini tidaklah berarti seperti Jero Mangku, Jero Dalang, dan Jero Balian yang mempunyai tugas khusus dalam dunia spirtual. Melainkan hanya sebuah istilah dalam penyebutan yang lumrah di Bali.
Di tempat terpisah, Jero Mangku Agni Baradah mengatakan, nama Jero memiliki banyak arti. Saat belum kenal dengan seseorang juga bisa dipanggil Jero, atau menjadi Jero karena status pernikahan. Dan, bisa juga nama Jero karena menjadi pemangku di salah satu pura, bisa di merajan, dadya, kawitan atau tri dan sad kahyangan.
Jika seseorang bernama Jero Mangku, lanjutnya, biasanya beliau ngemong atau punya wilayah dimana tempat beliau ngaturang ayah, seperti di Pura Sad Kahyangan, Pura Tri Kahyangan,
Merajan, kawitan, dadia, bebanjaran. "Intinya beliau ini ada yang menunjuk serta umat yang nyangra (dukungan)," terang pemangku Pura Kahyangan Tiga di Karangasem ini.
Namun, jika seseorang menjadi Jero berdasarkan profesi, seperti usada, dalang, sangging, bisanya dia akan disebut dengan Jero Balian, Jero Dasaran, Jero Dalang, Jero Sangging, atau Jero Bendesa.
Dikatakannya, biasanya seseorang malu menyebut dirinya Jero Balian karena beberapa alasan. Namun akan membias profesinya jika wilayahnya tidak sesuai, misalnya Jero Balian mengambil pawintenan Jero Mangku. " Masalahnya ngayahya dimana? Mestinya pawintenan yang diambil adalah pawintenan usada, sehingga lebih mantap dalam dunia usada," urainya.
Diakuinya, tidak ada larangan bagi seseorang untuk berpakaian serba putih seperti Jero Mangku, apalagi untuk mawinten itu sangat gampang dan butuh waktu singkat, seseorang sudah bisa 'masiluman' jadi Jero mirip kayak Jero Mangku. "Seseorang akan lebih baik jika profesional, mengambil langkah pawintenan.
Pawintenan Dasa Guna mempunyai arti adalah sepuluh profesi dan manfaat dari sini sudah jelas akan mengambil profesi apa kelak setelah mawinten, agar profesinya menjadi mataksu," paparnya.
Semua Jero Dasaran, Jero Usada, pangayah, yang melangkahkan kaki ke dalam jalan spiritual, lanjutnya, bertujuan baik dan luhur. Namun, jikan nama atau citra yang disematkan salah, maka bisa jadi bumerang bagi dirinya.
Editor : I Putu Suyatra