Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ketika Posisi Jero Mangku Jadi Amuk Ambisi

I Putu Suyatra • Sabtu, 31 Agustus 2019 | 18:12 WIB
Ketika Posisi Jero Mangku Jadi Amuk Ambisi
Ketika Posisi Jero Mangku Jadi Amuk Ambisi


BALI EXPRESS, DENPASAR - Jabatan Jero Mangku yang tidak menjanjikan secara ekonomi ini, ternyata banyak peminat? Bahkan, ada yang ambisius ingin diposisikan menjadi Jero Mangku. Disadari atau tidak, kenyataanya memang fakta di lapangan ada  seperti itu. Adakah sesuatu di balik semua itu?


Umat Hindu pasti paham  dengan jabatan tanpa gaji seorang Jero Mangku. Kendatipun dapat tanggungan, namun tidak seberapa karena tergantung kebijakan desa adat setempat, namun tetap menjadi rebutan orang-orang ambisius.



"Posisi menjadi Jero Mangku tidak bisa diandalkan dari sisi finansial. Itulah alasanya, kenapa seorang Jero Mangku masih bisa melakukan pekerjaan di luar kepemangkuan, sepanjang tidak menyalahi aturan yang ada," papar motivator konsep Manacika Power D' Mahendra, Jero Mangku Agni Baradah kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di Denpasar, kemarin.


Apa yang dibeber ini, lanjut Mahendra, bukanlah opini karena berdasarkan survei di lapangan. "Setelah saya survei selama setahun, dari Jero Mangku Sad Kahyangan, Tri Kahyangan, dan juga pribadi sebagai Jero Mangku,  
posisi menjadi Jero Mangku adalah posisi yang melibatkan emosi dan gengsi," urai pria yang juga pemangku yang akrab dipanggil Jero Mangku Agni Baradah ini. Dikatakan pemangku Pura Kahyangan Tiga di Karangasem ini, emosi dan gengsinya mirip psikologinya seperti  menjabat, pimpinan, direktur, bos, owner, atau jabatan kepemerintahan.



Kenapa demikian? "Seseorang yang berambisi menjadi Jero Mangku, saya tekankan lagi yang ambisius, adalah sosok yang secara tidak langsung mempunyai keluhan post power syndrome. Keluhan ini sangat nyata sekali, sebab ketika menjabat atau dinobatkan menjadi Jero Mangku akan muncul ego halus, seperti merasa dipentingkan, merasa dihormati, merasa disegani. Bahkan, dengan sebutan Jero Mangku saja sudah membuat telinga jadi besar dan melambungkan ego dalam dirinya," paparnya.



Ketika seseorang dipanggil Jero Mangku, lanjutnya, zat kimiawinya dalam tubuh sama seperti ketika dipanggil bos atau sebutan yang melegakan semisal direktur, membuat dirinya melambung. "Zat kebanggaan, ajum, terkadang angkuh, menjalar dalam tubuhnya yang akan membuat senang dan bangga. Ketika ada rapat atau undangan, beliau merasa dispesialkan, dari duduk diistimewakan, dan saat makan dispesialkan. Inilah yang membuat kimiawi tubuh semakin melambung. Apalagi jabatan Jero Mangku tanpa batas waktu, kecuali mengundurkan diri karena sakit atau melakukan tindakan kriminal.


"Dari ego halus rasa senang yang menjalar di tubuh inilah, kebanyakan oknum yang ambisius ingin menjadi seorang Jero Mangku. Walau secara finansial tidak menjanjikan, bahkan kata yang sering kita dengar adalah Ngayah, " bebernya.



Makanya, tak usah heran bila ada oknum Jero Mangku yang tiba-tiba marah ketika namanya tidak dipanggil Jero Mangku. "Inilah alasan utama post power syndrome, ketika tidak dipanggil dengan nama kebanggaannya, merasa dirinya dibanting rendah sekali, merasa tak dihargai, merasa tak nyaman serta lainnya,"  paparnya.



Ditambahkannya, akan beda kasusnya jika ada seorang Jero Mangku yang paham akan posisi, paham akan tugas, paham akan risiko, maka egonya tidak terlalu melambung. Bahkan, kesan Jero Mangku jenis ini akan merasakan hidupnya biasa saja, dipanggil Jero Mangku atau siapapun, zat kimiawinya dalam tubuh tetap stabil, tidak ada gejolak sama sekali. Diposisikan atau tidak, tetap tidak ada reaksi kimiawi yang membuat gejolak hebat pada perasaanya.
Bahkan, Jero Mangku seperti ini merasakan pengabdian utuh kepada Tuhan dan melayani dengan santai, tidak kaku atau terkesan dibuat-buat.



Dari survei di lapangan, Jero Mangku Agni mengaku  bertemu dengan Jero Mangku model ini (tak ambisius) pakaiannya pun tak heboh, tidak ada kalung genitri melingkar di lehar, pun tanpa gelang pada tangan, tanpa cincin akik segede biji salak,  nyaris tampil apa adanya. Bahkan, terkesan pakaian yang digunakan lusuh lapuk, namun tetap bersih.



Jero Mangku Agni mengaku sempat juga bertanya dengan seorang Jero Mangku yang sudah menjabat hampir 25 tahun, dan jika bekerja di sebuah instansi mungkin gaji dan jabatanya sudah tinggi. Apa komentarnya?  "Jika bisa saya menolak posisi ini, lebih baik saya tolak, karena menjadi seorang diposisikan tidak selamanya nyaman. Ada kepentingan pribadi yang harus hilang, berubah menjadi kepentingan umat, kadang  perhatian umat juga tidak maksimal, boleh dikatakan antara dibutuhkan dan tidak," tuturnya.



Mendengar jawaban seperti itu, Jero Mangku Agni menilai yang bersangkutan paham akan posisi, risiko menjadi seorang Jero Mangku.



Lalu,  adakah yang Anda temui Jero Mangku memilki post power syndrome? "Tentu Anda bisa menilai, dan maaf jika beberan ini mungkin menyinggung perasaan atau membuat tidak nyaman. Semua ini  bertujuan membuka wawasan, bahwa kehidupan itu tak lepas dari dualisme, ada baik dan ada buruk, karenanya setiap orang harus bisa memilih dan memilah untuk lebih bijaksana. Rahayu, semoga semua makhluk berbahagia," tutupnya. (Ikg doktrinaya)

Editor : I Putu Suyatra
#hindu