DALUNG, BALI EXPRESS - Bali memang identik dengan magis, baik alam maupun tanahnya. Tidak bisa sembarangan menebang pohon, menyingkirkan batu maupun membuka lahan baru untuk keperluan pribadi, tanpa meminta izin terlebih dahulu. Begitulah yang terjadi saat pembukaan lahan untuk proyek perumahan di Perum Pagending Permai, Dalung, Kuta Utara.
Perumahan Pagending Permai, Dalung, Kuta Utara terbilang istimewa, dan beda dengan perum lainnya. Kawasan pemukiman yang akses jalannya beraspal ini, memiliki Pura Taman Sari yang terletak di tengah perumahan.
Pemandangan yang jarang ditemui di perumahan yang umumnya dihuni oleh perantau. Kalaupun ada, biasanya hanya berdiri pura banjar saja. Namun di Perumahan Pagending ini, berdiri Pura Taman Sari dengan batu besar dan pohon klesek yang menambah terlihat makin sakral.
Menurut pemangku Pura Taman Sari, Jro Mangku I Made Wiastra, 48, saat pembukaan lahan oleh pengembang selalu mengalami hambatan. Masalah yang dialami pengembang, bulldozer yang kerap kali rusak setiap dioperasikan. Bahkan yang aneh lagi, lanjutnya, pohon yang ditebang sudah dipotong ternyata tidak mau roboh, tetap berdiri tegak. Pohon baru bisa roboh setelah dipersembahkan canang.
“Pengembang pun heran dengan berbagai peristiwa aneh kala itu,” ujar Jro Mangku I Made Wiastra kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.
Selain itu, masalah yang dihadapi oleh pengembang adalah susahnya memindahkan sebuah batu besar. Menghadapi berbagai kendala tersebut, pengembang akhirnya membangun semacam tempat untuk mabanten ( menaruh sesajen). Dikatakannya, tidak ada pembangunan palinggih. "Pengembang saat itu hanya membuatkan kolam di sekeliling batu besar untuk menambah kecantikannya. Kemudian dibuatkan jembatan di atas kolam, jadi warga bisa ngaturan canang ke sana dengan melewati jembatan tersebut,” tuturnya.
Belakangan setelah pengerjaan pengembang selesai, berdatangan penghuni baru di wilayah perumahan. Beberapa diantaranya saat tinggal itu melihat bayangan hitam, kuda, dan lainnya yang tidak masuk akal. Berhubung kejadian tersebut sering dialami oleh warga, lanjutnya, maka diputuskan untuk nunas baos (mohon petunjuk ke orang pintar) ke jero dasaran di Buduk.
"Dari hasil nunas baos, rupanya area batu tersebut adalah sebuah pura. Maka, diputuskan oleh warga membangun palinggih di dekat batu tersebut,” bebernya.
Pura Taman Sari Pagending pun disebutkan memiliki hubungan dengan Pura Majapahit yang ada di Pagending juga. Dikatakannya, Ida Ratu Bathara Dewi meminta agar piodalan Pura Taman Sari berbarengan dengan Pura Majapahit. Pura ini pun akhirnya memiliki piodalan yang jatuh pada Buda Kliwon Wuku Ukir.
" Sebelum saya jadi pemangku Ida Bathara yang malinggih di Pura Taman Sari Pagending hendak dituntun ke merajan pemangku sebelumnya. Namun sayang upaya itu gagal, tidak diketahui sebabnya. Pemangku kala itu akhirnya menghaturkan guru piduka," urainya.
Selang beberapa waktu selanjutnya, akhirnya dari nunas baos Ida tidak berkenan pindah. Saat itu bahkan akhirnya ditunjuk dirinya sebagai juru sapuh pura. “Dari nunas baos ini, Ida mengaku senang karena saya sering menyapu di sekitar pura. Sehingga beliau berkenan meminta saya jadi juru sapuh sekaligus pemangku,” beber pria paruh baya ini.
Hingga kini pun dia tetap menyapu setiap hari di Pura Taman Sari Pagending. Jika pada hari biasa dia akan menyapu pada pagi hari. Jika hari raya akan menyapu sore hari, karena dari pagi banyak datang orang bersembahyang di pura seluas 60 meter persegi itu.
Kini sudah ada dua palinggih didirikan, yakni Palinggih Padmasana sebagai stana Ida Ratu Bathara Dewi dan Tugu Karang sebagai palinggih Pepatih Ratu Dalem Gembrong. Pohon beringin menjadi stana Ratu Niang yang berdiri kokoh di atas batu dan pohon taru klesek sebagai pohon tempat para rencang ida, yakni jadi tempat tinggal anak-anak kecil.
Dipercaya, anak-anak kecil yang tinggal di pohon menyukai babi. "Dahulu ada yang memelihara babi di sekitar pura, babinya cepat besar. Bahkan pernah ada dua orang yang menemukan babi di pura. Kita tahu kan di perumahan tidak mungkin orang merawat babi. Tapi ini nyata, kemudian babi dipelihara oleh yang menemukan,” terang Jro Mangku I Made Wiastra.
Ditambahkannya, ada kisah yang didengar dari tetua, dahulu pernah ada orang yang punya ilmu mencari taring babi. "Orang itu menang melawan babi secara niskala dan membawa pulang taringnya. Namun, orang tersebut akhirnya meninggal,” tambahnya.
Kesakralan Pura Taman Sari Pagending juga membuat beberapa orang datang malukat ke pura ini, walaupun lokasinya di tengah perumahan. Biasanya yang malukat dan nunas ica di pura adalah karena mepinunas. “Sering orang meditasi di malam hari saat keadaan sudah sepi,” akunya.
Menurutnya, masih direncanakan oleh warga untuk mendirikan Palinggih Dedari di sebelah barat sumur. Pasalnya, setiap piodalan selalu saja ada orang karauhan dari Ida yang meminta ada palinggih khusus untuk Bidadari. (agus sueca)