Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lontar Dasar Pangiwa; Masukkan Aksara Dalam Tubuh dan Hasilkan Energi

I Putu Suyatra • Jumat, 27 September 2019 | 20:22 WIB
Lontar Dasar Pangiwa; Masukkan Aksara Dalam Tubuh dan Hasilkan Energi
Lontar Dasar Pangiwa; Masukkan Aksara Dalam Tubuh dan Hasilkan Energi


DENPASAR, BALI EXPRESS - Lontar sebagai salah satu pustaka Bali menyimpan berbagai ilmu pengetahuan sesuai jenisnya. Ada lontar tentang sistem agraris, asal mula alam semesta dan kehidupan, astronomi, usada atau pengobatan, spiritual, dan sebagainya. Salah satu lontar yang unik adalah Lontar Dasar Pangiwa. Lontar ini berisi ilmu kebatinan yang berhubungan dengan pangleakan.


 Ketika menyebut pangiwa di Bali, otomatis masyarakat secara umum memiliki persepsi negatif. I Wayan Suartika salah seorang mahasiswa pasca sarjana IHDN Denpasar mencoba mengkaji lontar tersebut dan menuangkannya dalam tesis yang berjudul “Kundalini dalam Lontar Dasar Pangiwa (Kajian Teologi Hindu)” tahun 2016 silam. Menurutnya, masyarakat Bali memiliki corak budaya religius magis. Sehingga masyarakat Bali tidak luput dari kepercayaan terhadap kekuatan gaib yang disebut magic.



Dalam Mantra Dasar Pengiwa, Selalu Menyebut Simbol Tuhan


Dasar Pengiwa; Jika Ingin Mencelakai, Target Mesti Punya Kesalahan


Jika masyarakat daerah lain mengenal istilah seperti santet, sihir, selak, suanggi, dan sebagainya, Bali juga sejak zaman dahulu mengenal istilah leak, guna-guna, desti, teluh, dan teranjana. “Karena berkonotasi negatif, maka secara tradisional, berbagai macam bentuk ilmu di atas termasuk dalam kelompok yang di sebut dengan ist i lah pangiwa (aliran kiri). Sedangkan lawannya yang dianggap positif atau baik disebut panengen (aliran kanan),” ungkapnya saat ditemui Juli 2016. Istilah tersebut kemudian berkembang menjadi ilmu hitam dan ilmu putih.


Perbedaan ilmu hitam dan ilmu putih di Bali dilukiskan dalam naskah kuno. Dalam ilustrasi rarajahan (simbol berupa gambar dan aksara tertentu, Red) dengan dua figur sentral Bhatara Guru dan Bhatara Kala. Bhatara Guru memegang pustaka Petak (putih) sedangkan Bhatara Kala memegang pustaka cemeng (hitam). “Kedua pustaka ini menjadi referensi bagi pengembangan berbagai praktik magic di Bali,” lanjutnya.


Istilah panestian yang berasal dari kata desti atau sihir termasuk pada kelompok ilmu hitam. Penerapannya dikelompokkan menjadi tiga, yakni panestian secara jarak jauh berupa acep-acepan, disebut dengan Tuju Teluh. Selanjutnya ada panestian dengan alat tertentu yang ditanam di tempat seperti pekarangan disebut dengan Papasangan. “Yang ketiga adalah panestian yang dilakukan dengan ilmu pangleakan, yakni melalui proses malih rupa (berubah wujud), disebut neranjana,” jelasnya.


Oleh karena dianggap tidak baik tersebut, menurutnya beberapa lontar yang memuat ajaran kadyatmikan (kebatinan) ini dianggap tidak baik untuk dipelajari atau hanya sekadar diketahui oleh anak muda, termasuk Lontar Dasar Pangiwa. “Sehingga secara perlahan warisan budaya lokal yang luar biasa ini dilupakan oleh masyarakat Hindu di Bali,” ungkapnya.


Di satu sisi ajaran seperti yoga dan kundalini yang kini sangat digandrungi oleh masyarakat. Oleh karena itu pemuda asal Besakih, Karangasem,ini menarik untuk melakukan penelitian.


“Oleh karena itu ada keinginan untuk mengetahui permainan energi yang sama dengan budaya Bali dan India. Yang mana secara hukum kekekalan energinya sama-sama berasal dari pengendalian pikiran sehingga mendapat kekuatan atau siddhi,” jelas wirausahawan muda tersebut.


Menurutnya kundalini adalah energi murni yang ada pada setiap diri manusia yang belum dipengaruhi oleh keinginan positif ataupun negatif. “Nah, setelah dibangkitkan barulah biasanya ada tujuan memanfaatkannya untuk apa,” jelasnya.


Ia melanjutkan bahwa ketika seseorang belajar ilmu pangiwa, maka secara tidak langsung orang tersebut telah belajar kundalini. “Kundalini adalah energi dalam tubuh yang dikenal dengan istilah cakra. Nah, dalam pangiwa ada proses memasukkan atau membangkitkan aksara dalam tubuh sehingga menghasilkan energi juga,” paparnya.

Editor : I Putu Suyatra
#lontar