Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dalam Mantra Dasar Pengiwa, Selalu Menyebut Simbol Tuhan

I Putu Suyatra • Jumat, 27 September 2019 | 20:34 WIB
Dalam Mantra Dasar Pengiwa, Selalu Menyebut Simbol Tuhan
Dalam Mantra Dasar Pengiwa, Selalu Menyebut Simbol Tuhan


DENPASAR, BALI EXPRESS - Setelah membaca dan mencoba memahami lontar Dasar Pangiwa, I Wayan Suartika, salah seorang mahasiswa pasca sarjana IHDN Denpasar yang membuat tesis berjudul “Kundalini dalam Lontar Dasar Pangiwa (Kajian Teologi Hindu)” tahun 2016 silam, mengatakan bahwa lontar tersebut tidak seperti persepsi negatif orang-orang. Memang di dalamnya terdapat tuntunan ilmu magic, tapi penggunaannya kembali ke motif manusianya.



“Kalau motif penggunanya buruk, maka akan menjadi negatif. Kalau motif penggunanya bagus, tentu akan bermanfaat. Ini seperti sebilah pisau,” tegas Wayan Suartika.



Lontar Dasar Pangiwa; Masukkan Aksara Dalam Tubuh dan Hasilkan Energi


Dasar Pengiwa; Jika Ingin Mencelakai, Target Mesti Punya Kesalahan



Hal yang lebih meyakinkan menurutnya bahwa setiap mantra yang ada di dalamnya senantiasa menyebutkan simbol-simbol Tuhan, khususnya aksara. “Oleh karena itu, di dalam pelafalan mantra senantiasa berisi pemujaan Tuhan atau para dewata,” ungkapnya.



Salah satunya adalah Pangiwa Siwa Wijaya. Penggalan penjelasannya adalah, “Ini Pangiwa Siwa Wijaya, Pangiwa Siwa Wijaya berhak dipakai oleh para raja, dan sangat utama, mantra Ong Sang Ang Tang Bang Ing Yang, Siwa Wijaya, bertubuh Sang Hyang Paramasiwa Murti…”. Dalam penggalan mantra tersebut jelas disebutkan bahwa Pangiwa Siwa Wijaya bermanfaat bagi orang yang berkedudukan sebagai pemimpin atau raja. Hanya saja, tentunya ada orang yang menggunakannya untuk hal negatif seperti mencelakai orang.



Di samping pangiwa tersebut, ada pula pangiwa lainnya yang disebutkan dalam lontar tersebut seperti Pangiwa Cambrabrag. Cambrabrag atau I Cambra Berag adalah salah satu jenis pangiwa yang apabila dipraktikkan, maka orang lain melihat penggunanya berwujud anjing dekil, namun kekuatannya sangat hebat. Di Daerah Kapal, Mengwi, ada cerita soal I Cambra Berag, yang merupakan satu sosok anjing yang sangat dihormati turu-temurun oleh Banjar Cempaka, Desa Kapal, Mengwi, Badung dan dibuatkan patung karena zaman dahulu telah berjasa dalam menjaga desa (dimuat Bali Express edisi 11 Juli 2016, Red). Cuma tidak diketahui apa hubungan antara nama I Cambra Berag dengan pengiwa cambrabrag. Atau hanya namanya saja kebetulan dan sebenarnya tidak ada hubungannya samasekali.



 



KISAH I CAMBRA BERAG SILAKAN BACA:


Ini Sejarah Patung Asu di Kapal yang Selalu Dapat Ritual Khusus




Ia melanjutkan ada pula Pangiwa Surya Tiga Murti, Ratna Gni Sudhamala, Calonarang, Rambut Sepatik, Madhuri Reges, Brahma Maya Murti, Desti Angker, dan Tumpang Wrada. Semuanya memiliki kegunaan masing-masing. Di samping itu, dalam penelitiannya ia juga menemukan bahwa tingkatan-tingkatan antar jenis pangiwa tersebut tidak dijelaskan dalam lontar Dasar Pangiwa. “Berdasarkan hasil penelitian, semuanya kembali ke pengguna. Seberapa dalam ia mampu menguasai jenis ilmu tersebut,” ujar pria berusia 25 tahun tersebut.



 



Berdasarkan hal tersebut, ia berharap generasi muda tidak percaya begitu saja dengan isu di masyarakat. “Keragaman persepsi itu sah saja, tapi jika ingin tahu secara jelas, pelajari dan pahami. Tuhan menciptakan ilmu pengetahuan pasti ada gunanya. Kembali ke penggunanya, hendak dimanfaatkan untuk hal positif atau negatif,” tegasnya. Ia menambahkan, ada tiga hal yang penting dalam belajar spiritual, yakni meneliti, memahami, dan menafsirkan.



Editor : I Putu Suyatra
#lontar