Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Pemangku Pura Kancing Gumi; Berawal dari Bengkuang Raksasa

I Putu Suyatra • Minggu, 29 September 2019 | 21:08 WIB
Kisah Pemangku Pura Kancing Gumi; Berawal dari Bengkuang Raksasa
Kisah Pemangku Pura Kancing Gumi; Berawal dari Bengkuang Raksasa


PETANG, baliexpress.id - Pura Kancing Gumi sebagai salah satu pura kahyangan jagat memiliki berbagai keunikan. Pura yang terletak di Desa Adat Batulantang, Desa Sulangai, Petang, Badung tersebut tidak hanya memiliki peninggalan purbakala berupa purus atau lingga yang amat panjang yang menjadi asal nama Desa Batulantang (batu panjang), namun juga memiliki sejarah yang menarik tentang keberadaan Pura. Salah satunya mengenai pamangkunya.


Jero Mangku Made Murdiana, pamangku pertama Pura Kancing Gumi beserta sang istri, Jero Mangku Istri Putu Sudarmi, dahulunya adalah masyarakat biasa. Ia resmi menjadi pamangku Pura Kancing Gumi pada tahun 2009. Menurutnya dulunya Pura Kancing Gumi tidak memiliki pamangku khusus. Pamangku yang bertugas dulunya adalah pamangku kahyangan desa yang merangkap sebagai pamangku Pura Kancing Gumi. “Saya juga tidak tahu mengapa dipilih menjadi juru sapuh (pamangku),” ujarnya, Juli 2016.


Ia pun memulai ceritanya bahwa dulu ia dan istri sakit-sakitan. Yang paling parah adalah sang istri yang sering pingsan dan ngaraos (berujar seperti orang trance). Karena ingin sembuh, ia pun mengantar sang istri berobat kesana-kemari, namun tidak juga sehat.


Suatu pagi, terjadilah hal yang aneh. “Saya mencabut bengkuang di tegalan. Bengkuang tersebut ageng (besar) mendadak sampai beratnya sekitar 40 kg lebih,” tuturnya.


Menurutnya bengkuang yang hanya satu tersebut awalnya kecil, tapi setelah tercabut dari tanah tiba-tiba membesar. Ia pun kaget bercampur bingung, namun ia kemudian berusaha membawa pulang “bengkuang ajaib” tersebut. “Susah saya membawanya. Berat sekali. Saat disunggi seperti ada yang menekan,” ungkapnya.


Menariknya, setelah berhasil memindahkan dan membawa pulang, ia berencana menggunakan bengkuang tersebut sebagai bahan rujak. “Rencananya saya pakai lodek (rujak),” ujarnya.


Setelah itu ia berangkat ke Pura Pucak Gegelang untuk sembahyang. Sepulangnya dari pura, keinginannya menggunakan bengkuang tersebut sebagai lodek hilang. Oleh karena itu, bengkuang tersebut dibiarkan begitu saja.


Tiga hari kemudian datanglah nak lingsir (pendeta) dari Bongkasa, Mpu Putra matirta yatra dengan jro mangku dari Pura Andakasa ke Batulantang. Mengetahui tentang bengkuang itu, beliau meminta agar bengkuang tersebut dihaturkan ke pura karena merupakan pica (anugrah) atau duwen (milik) Ida Bhatara.


“Ada jro panyungsung (pengikut) dari Karangasem datang ke rumah untuk mengambil bengkuang tersebut. Setelah coba diangkat, ternyata tidak bisa,” ujarnya.


Akhirnya Jro Mangku Murdiana pun membantu menaikkan bengkuang untuk disunggi oleh panyungsung agar bisa dibawa ke Pura Kancing Gumi. Dan dikubur di Pura Kancing Gumi.


Pada saat itu, jro mangku istri yang waktu itu masih sakit meminta agar sang suami ikut ke pura agar tahu isi dari bengkuang tersebut, tapi ia menolaknya. “Ah.. ada sing hubunganne ajak bengkuang (tidak ada hubungannya dengan bengkuang)”, ujarnya mengulang ucapannya waktu itu.


Sesaat kemudian tiba-tiba ia merasakan panas tiba-tiba. Keringatnya mengucur deras. “Tiang peluh pidit (saya berkeringat banyak),” ungkapnya.


Tapi ia tetap tidak mau ikut ke pura. Esoknya adik sepupunya datang dan mengatakan bahwa bengkuang tersebut harus dibuatkan palinggih. “Saya bilang, untuk apa membuat palinggih dimana-mana,” ujarnya dengan maksud menolak.


Tiba-tiba malam hari ia bermimpi sedang ngayah (kerja bakti) di Pura Kancing Gumi. Saat yang sama ada tiga orang yang sudah maraga putus (orang suci) di sana. “Nah, api cening belog, nak bapa lakar nampingin cening. Cuma cening ngayab, bapa muput (Ya, walaupun kamu bodoh, Bapa akan mendampingimu. Kamu hanya ngayab, Bapa yang menyelesaikan),” ujar sang pendeta dalam mimpinya.


 


Meskipun demikian, ia tetap tidak menghiraukan. Bengkuang tersebut tidak dibuatkan palinggih. Ia mengaku saat itu tidak berminat sedikitpun menjadi pamangku ataupun balian (tabib). Setelah itu ia nunasang untuk mencari solusi tentang bengkuang tersebut.


Dikatakan bahwa Ida Bhatara sebenarnya mapaica (memberi anugrah) berupa batu putih. Dilihat dengan mata telanjang memang benda tersebut adalah bengkuang, namun sebenarnya itu adalah batu. Ia pun kembali diminta menjadi juru sapuh. Ia mulai merasa merinding. Meski begitu, Jero Mangku Made Murdiana belum mempercayainya.  (bersambung)

Editor : I Putu Suyatra
#hindu