PETANG, baliexpress.id - Berbagai kejadian tak membuat Jero Mangku Made Murdiana, pemangku pertama Pura Kancing Gumi di di Desa Adat Batulantang, Desa Sulangai, Petang, Badung percaya. Dia belum juga mau menjadi pemangku di sana. Sementara istrinya, Jero Mangku Istri Putu Sudarmi masiih sakit. Hingga akhirnya dia mengantar istri berobat sampai ke Lombok.
Saat diobati, dikatakan bahwa sang istri terkena bebai (guna-guna) oleh tabib. Sudarmi yang saat itu karauhan (trance) dipukul-pukul oleh orang yang mengobati tersebut dengan tujuan untuk disadarkan. Dikatakan pula oleh sang tabib bahwa yang merasuk itu bukanlah bhatara.
“Akhirnya tidak berapa lama balian tersebut meninggal,” kata Jro Mangku Murdiana, Juli 2016.
Setelah itu, Murdiana kembali nunasang ke daerah Tegal Seet. Ada hal ganjil, saat membeli enam nasi bungkus. Kejadian ganjil pun kembali terjadi. Saat bungkus nasi dibuka, Jro Mangku mendapat makanan berbeda. “Lima nasi dengan lauk daging babi. Yang satunya untuk saya ternyata berlauk ikan laut berisi sayur seperti daun kelor,” ujarnya. Padahal dagang tersebut tidak menjual makanan seperti itu.
Sekitar pukul 17.00 mereka pun mendapat giliran dipanggil. Karena pasien menumpuk, akhirnya ramai di dalam ruangan. Baru duduk, ternyata sang balian kaselir (trance). “Sapuh, manira tedun (Sapuh, ini saya yang turun, Red),” ujar sang balian sembari menunjuk Murdiana.
“Kipak-kipek ajak manira ngaraos, (Menoleh kesana kemari kamu saya ajak bicara),” lanjutnya menirukan.
Ia yang tidak merasa sebagai juru sapuh kebingungan. “Setelah diperhatikan telunjuknya tepat mengarah ke saya. Saya merasa merinding,” ungkapnya.
Ia pun akhirnya diberi pilihan, yakni bersedia ngiring sebagai pamangku atau pragat, dalam hal ini meninggal. Sebagai cirinya akan diutus prajuru adat.
Setelah itu, ada Ida Bhatara dari Mayungan, Pura Manik Toya datang dan akan singgah ke Pura Kancing Gumi. Ia yang mengetahui hal tersebut berusaha menghindar dengan mengambil arit dan pergi ke kebun.
Tiba-tiba saat melitas di Pura Dalem ia bertemu dengan salah seorang warga yang sudah tua. Ia pun ditegur untuk ke pura. Namun tetap dia ke kebun di daerah Bukit Cepaka.
Sampai akhirnya ada kejadian aneh terkait batang koping, yang ditarik sangat sulit kemudian dipotong. Namun potongan batang itu nancap, sangat kuat tidak
merebahkannya.
“Belum selesai, tiba-tiba datang prajuru desa memanggil-manggil dan saya disuruh ke pura,” ungkapnya.
Karena teringat akan pilihan yang diberikan kepadanya tempo hari, yakni bersedia menjadi pamangku atau hidupnya berakhir serta ciri prajuru tersebut, akhirnya ia pun bersedia menjadi pamangku.
Hingga kini, Jro Mangku Made Murdiana, setia menjadi pamangku Pura Kancing Gumi didampingi sang istri, Jro Mangku Istri Putu Sudarmi yang telah pulih. Mereka bersikap sangat ramah terhadap pamedek atau orang yang datang untuk sembahyang. (habis)
Editor : I Putu Suyatra