DENPASAR, BALI EXPRESS - Mawinten adalah penyucian diri untuk meningkatkan kualitas diri. Dengan Mawinten berarti mengubah status kehidupan menuju lebih fokus pada masalah kesucian, keagamaan, dan spiritual. Lantas, siapa saja yang bisa mengikuti pawintenan ini?
Mewinten adalah salah satu jenis dari upacara manusa yadnya. Belakangan umat semakin menyadari bahwa Mawinten itu penting bila ingin belajar pengetahuan agama maupun masalah lainnya. Mengikuti pawintenan berarti ingin lebih meningkatakan diri dalam pengabdian kepada umat maupun Sang Hyang Widhi Wasa.
Pawintenan sejak kecil sejatinya dilakukan. Seseorang ketika bersekolah ada pawintenan yang dinamai upanayana. Pawintenan yang diakukan jika anak mulai akan menimba ilmu ini, sebagai pertanda sudah mulai bisa belajar. Selain itu, ada pawintenan Saraswati untuk tingkat lanjutan agar bisa menerima ilmu pengetahuan dari Sang Hyang Aji Saraswati.
Menurut Ida Pandita Mpu Yogiswara dari Pemogan, Denpasar Selatan, dengan mengikuti pawintenan Saraswati, maka seseorang bisa mempelajari pengetahuan yang lebih. Tidak hanya itu, orang yang sudah mawinten Saraswati bisa melakukan yadnya paling sederhana, seperti mengahaturkan canang dan bisa belajar yadnya-yadnya dasar lainnya yang ingin diketahui.
Selanjutnya ada pawintenan kepemangkuan, yakni pawintenan yang dilakukan oleh seseorang yang ingin jadi pemangku yang selanjutnya bisa ngayah di sebuah pura.
“Tidak terbatas pada pura besar saja ya, bahkan dalam sebuah pura keluarga (merajan) juga bisa ada pemangkunya,” ujar Ida Pandita Mpu Yogiswara saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Griya Gede Manik Uma Jati, Jalan Dangin Uma, Banjar Jaba, Kepaon, Pemogan, Denpasar Selatan, kemarin.
“Menurut opini saya, sebuah Sanggah Kemulan juga perlu mempunyai pemangku. Bisa dipilih dari anggota keluarga yang dituakan,” imbuhnya.
Tujuan adanya pemangku di kemulan, menurut pria kelahiran tahun 1975 ini, agar bisa memimpin persembahyangan di keluarga. "Selain itu, Kemulan adalah sejatinya yang paling utama untuk tempat kita sebagai umat Hindu bersembahyang. Dikatakannya, Kemulan itu luar biasa, dari mantra 'Om Dewa Dewa Tri Dewanam, Tri Murti Tri Lingganam, Tri Purusa Suddha Nityam, Sarwa Jagat Jiwatnam'. Artinya, Om, Para Dewa utamanya tiga dewa (Brahma, Wisnu, Siwa) adalah tiga wujud, Tri Purusa yang suci selalu, adalah roh (atman) semesta dan isinya.
"Nah di sini kita tahu bahwa di Kemulan itu semua Dewa, terutama Tri Murti ada. Jadi sangat utama sekali Kemulan itu,” terangnya.
Lebih lanjut Ida Pandita Mpu Yogiswara menerangkan tentang mantra 'Om Guru Dewam, Guru Rupam, Guru Madyam, Guru Purwam, Guru Paramtama Dewam, Guru Dewa Suddha Nityam', yang memiliki arti : Om Guru Dewa, yaitu Guru Rupam (Nyata), Guru Madya (Sekala Niskala),Guru Parwa (Guru Niskala) adalah guru para Dewa, Dewa Guru suci selalu.
Dari mantra yang digunakan di Kemulan ini, Ida Pandita Mpu Yogiswara menjelaskan bahwa umat ketika sembahyang di Kemulan akan mendapat tuntunan juga. "Hal inilah yang menyebabkan walau seseorang hanya mawinten kepemangkuan untuk jadi pemangku di merajan sangat utama," urainya
Selain dua mantra yang disebutkan, Ida Pandita Mpu Yogiswara juga menambahkan tentang mantra 'Om, Brahma, Wisnu, Iswara Dewam, Jiwatmanam Trilokanam, Sarwa Jagat Pratistanam, Suddha Klesa Winasanam, Om Guru Paduka Dipata Ya Namah'. Matra tersebut memiliki arti : Om Hyang Widhi, bergelar Brahma, Wisnu, Iswara yang berkenan menjiwai Triloka, semoga seluruh jagat tersucikan, bersih dan segala noda terhapuskan oleh Mu, Om Hyang Widhi selaku Bapak Alam, hamba memujamu.
Ida Pandita Mpu Yogiswara menjelaskan bahwa mantra ini erat hubungan dengan uttpti, stiti, dan pralina. Dijelaskannya, Kemulan menjadi representasi kelahiran, hidup dan matinya manusia. Manusia dari lahir melakukan berbagai upacara dari Tutug Kambuhan, Nganten (menikah) di Kemulan, dan akhirnya setelah diaben juga dilinggihkan di. Kemulan.
“Menjadi pemangku di Kemulan sangat istimewa. Jangan dianggap remeh, karena sembahyang di Kemulan sangatlah utama bagi umat,” tegasnya.
Menjadi pemangku, lanjut Pandita yang dikaruniai satu anak ini, adalah sebuah pengabdian. Niat menjadi pemangku harus karena ingin melayani umat ataupun membantu sulinggih. Tidak hanya itu, seorang pemangku menurut pria yang merupakan bungsu dari 13 bersaudara ini, tidak hanya bisa nganteb saja, tetapi juga harus bisa dharma wacana.
“Jika ingin ikut beryadnya dalam artian lebih daripada orang biasa, maka boleh ikut pawintenan kepemangkuan,” terangnya.
Ida Pandita Mpu Yogiswara memaparkan, jika memang ingin jadi pemangku dan memakai atribut pemangku, seseorang harus beranggung jawab atas apa yang ia gunakan. “Seorang pemangku tidak ngaturan canang sama nganteb, tetapi bisa bermantra dengan baik, minimal Tri Sandya. Selain itu, juga harus bisa dharma wacana,” beber pria yang malinggih 6 Agustus 2017 ini.
“Saya selalu berikan pengarahan pada orang yang ingin ikut pawintenan. Saya pun juga memberikan opsi untuk belajar bersama. Misalnya seminggu sekali ketemu di pura membahas apa yang kurang, dan yang ingin ditanyakan dan kendala lain yang dihadapi,” tambahnya.
Belakangan banyak yang justru mawinten kepemangkuan, apa sejatinya yang mereka cari? Ikuti seri berikutnya.
Editor : I Putu Suyatra