Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Satukan Piodalan di Pura Beten Bingin, Warga Jumpayah Kena Musibah

I Putu Suyatra • Selasa, 15 Oktober 2019 | 23:50 WIB
Satukan Piodalan di Pura Beten Bingin, Warga Jumpayah Kena Musibah
Satukan Piodalan di Pura Beten Bingin, Warga Jumpayah Kena Musibah


MENGWI, BALI EXPRESS - Pura Luhur Beten Bingin di Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Badung, salah satu pura unik karena harus melaksanakan dua kali piodalan. Kenapa tidak bisa disatukan?


Kawasan  Pura Luhur Beten Bingin di Banjar Jumpayah,  beberapa bulan lalu kena musibah. Pohon beringin di depan kiri pura mengalami kebakaran, dan hingga kini tampak bekas hitam akibat kebakaran  terlihat jelas. Pohon beringin itu kini tampak seperti pohon pule karena seluruh daunnya  sudah habis.


 


“Sebenarnya dahulu  beringin dililt sama pulai. Lambat laun malah pulenya lebih mendominasi,” ujar pemangku Pura Luhur Beten Bingin, Jro  Mangku Nyoman Sura Atmaja, 55, saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin.


Jro Mangku Nyoman Sura Atmaja menjelaskan,  keberadaan Pura Luhur Beten Bingin sudah berdiri sejak lama, dan tidak diketahui kapan pastinya. Hal sama juga didapat dari cerita ayahnya.


 


Pohon beringin  tidak hanya di depan pura saja,  di bagian belakang juga ada poon beringin menjulang tinggi. “Kedua pohon sudah dipagari, karena termasuk area suci,  untuk mencegah masuknya orang  cuntaka ke area sekitar pohon,” paparnya sambil menunjuk pagar di sekitar pohon.


Pura Luhur Beten Bingin, adalah salah satu dari sedikit pura yang memiliki dua piodalan.  Jro Mangku Nyoman Sura Atmaja, menunjukkan ada dua buah palinggih di utamaning pura. Gedong Ratu Gede di area timur menghadap ke barat memiliki piodalan Umanis Galungan (Wraspati Umanis Dunggulan) dan Gedong Rambut Sedana yang menghadap ke selatan memiliki piodalan Buda Wage Ukir. Sedangkan Palinggih Padma tiga sebagai stana Ratu Mas yang terletak di antara dua gedong tersebut sebagai tempat pemujaan kawitan.



Ditanya mengenai alasan piodalan yang berbeda dua minggu itu, Jro Mangku Nyoman Sura Atmaja menerangkan bahwa dahulu sempat piodalan dijadikan satu, yakni  dipilih Buda Cemeng Ukir sebagai hari piodalan. Selama lima tahun atau skeitar 10 kali piodalan dilaksanakan berbarengan. Namun, terjadi peristiwa  buruk . “Ada pangempon yang meninggal, dijatuhi kelapa ketika berada di sekitar pura. Selain itu, pangempon juga banyak yang sering sakit. Selalu ada saja cobaan,” ungkapnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin.


 


Dikatakannya, demi mencegah terjadinya hal buruk lagi, diputuskan untuk  nunas baos (memohon petunjuk) jepada yang mengerti urusan niskala. "Didapati hasil, bahwa piodalan tidak bisa disatukan. Dari nunas baos juga diuraikan bahwa piodalan itu seperti otonan pada manusia. Tidak bisa dua manusia dengan hari otonan berbeda diupacarai pada hari yang sama. Apalagi Ratu Gede di Pura Luhur Beten Bingin adalah ayah dari Batara Rambut Sedana. Masa piodalan ayah ikut anaknya,” tegas Jro Mangku Nyoman Sura Atmaja.



Akhirnya setelah itu piodalan kembali diadakan dua kali tiap enam bulan. Tidak hanya itu. Untuk melaksanakan piodalan pratima pura harus lunga (dipindah)  dari Pura Desa Mengwitani. “Pratima disimpan di Pura Desa, karena di sini dahulu sepi, sehingga tiap piodalan lunga dulu beliau dari sana. Jika piodalan di Ratu Gede maka hanya pratima Ratu Gede saja yang dihias, sedang pratima Rambut Sedana hanya ditempatkan di gedongnya saja,” aku  pria yang dikaruniai dua anak ini.

Editor : I Putu Suyatra
#mengwi #hindu #pura #sejarah pura #badung