Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Di Pura Dalem Pande Majapahit Tak Berlakukan Panca Sembah

I Putu Suyatra • Jumat, 25 Oktober 2019 | 22:02 WIB
Di Pura Dalem Pande Majapahit Tak Berlakukan Panca Sembah
Di Pura Dalem Pande Majapahit Tak Berlakukan Panca Sembah


MENGWI, BALI EXPRESS - Pura Dalem Pande Majapahit Tatasan  merupakan pura bagi para warga trah pande yang berada di Desa Buduk, Kecamatan Mengwi. Ada hal unik yang dilakukan  umat bila sembahyang saat piodalan.


 


Pura Dalem Pande Majapahit Tatasan dibangun oleh keturunan dari warga Pande yang berasal dari wilayah Tatasan, Denpasar.


Pemangku Pura Dalem Pande Majapahit Tatasan, Jro Mangku I Made Rasna, 64,  mengaku tidak mengetahui kapan pura dibangun. "Orang tua saya maupun tetua-tetua dahulu tidak pernah  menceritakan bagaiamana kehadiran pura ini di Desa Buduk,” ujarnya saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin di Buduk, Badung.


Pura ini  masih menggunakan batu paras dan bata merah. Sehingga terlihat  berbeda dengan pura masa kini yang kebanyakan menggunakan batu hitam sebagai bahan utama.
Pangempon pura, lanjutnya,  memang mempertahankan keberadaan pura dengan arsitektur lama seperti dari awal pura ini ada.


Menurut tutur tetua yang didengar Mangku I Made Rasna,  bahwa pendirian Pura Dalem Pande Majapahit Tatasan ini dilakukan oleh keturunan dari Pande yang berasal dari wilayah Tatasan, Denpasar.



Karena pusat pangempon puranya di Tatasan, Kelurahan Tonja, maka setiap setahun sekali dia dan pangempon lainnya ketika Saraswati tangkil (sembahyang) ke Tatasan, Tonja. “Jadi, pada pagi hari saat Hari Raya Saraswati kami sembahyang dulu ke Tatasan, siangnya baru sembahyang di pura kami yang di Buduk ini,” papar pria yang berprofesi menjadi guru ini. Dari cerita tetua dahulu, Jro Mangku I Made Rasna  mengetahui bahwa Pura Dalem Pande Majapahit Tatasan didirikan untuk diempon oleh trah pande yang tinggal di sebelah barat Tukad (sungai) Mati. Dia pun tidak bisa memastikan, alasan soal hanya  trah pande di Barat Tukad Mati yang boleh ngempon (menangani) pura. “Itu hanya cerita  konon saja ya, soalnya ada juga pangempon yang tinggal tidak di sebelah barat Tukad Mati dan biasa saja,” tuturnya. Soal aturan tak tertulis itu, lanjutnya, tetkait soal kepercayaan, tidak ada ukuran pastinya tentang tutur yang diberikan tetua itu kepada generasi sekarang.



Warga Pande panyungsung Pura Dalem Pande Majapahit Tatasan di Buduk, termasuk golongan Pande yang berprofesi untuk penempaan besi. Mulai dari membuat pisau, sabit, dan lainnya. “Hingga kini pangempon kami banyak yang masih membuat pisau atau sabit,” terangnya lagi.



Sebagai trah Pande, Jro Mangku I Made Rasna  juga memiliki perapen di rumah untuk membuat perkakas  dari besi. Walau sibuk mengajar, ia  tetap mengusahakan setiap minggu menyalakan api di perapennya. “Pangempon pura kami masih banyak yang memande, ada yang di Banjar Umakepuh, Desa Buduk, lalu di Pererenan juga hingga  sekarang masih  membuat pisau,” ungkapnya.



Diakuinya sembahyang di Pura Dalem Pande Majapahit Tatasan, berbeda dengan cara sembahyang pada umumnya yang melakukan panca sembah (lima kali puja atau sembah). Di tempat ini persembahyangan dilakukan  sebanyak sembilan kali. Adapun tahapannya dimulai dengan memuja Ida Sang Hyang Widhi langsung menggunakan kwangen. “Kita tidak mengawalinya memakai sembah tanpa sarana  seperti pada umumnya. Langsung pakai kwangen,” terangnya.



Menurut Jro Mangku I Made Rasna, sembahyang tidak diawali dengan tangan puyung, karena kwangen yang pertama dipakai itu sudah ditujukan langsung ke Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selanjutanya usai menggunakan kwangen,  menggunakan bunga yang   ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi. Tahap ketiga dan keempat menggunakan kwangen, lalu bunga yang ditujukan kepada Ida Bathara Nabe Kawitan. Ini untuk penghormatan ke Sasuhunan yang disungsung pangempon.



Tahap kelima dan keenam dengan kwangen, lalu bunga, yang  ditujukan kepada Ratu Pande Aji Sakti. "Ratu Pande Aji Sakti ini ditujukan secara tidak langsung kepada Dewi Saraswati karena memberikan anugerah pengetahuan bagi trah Pande. Makanya, kita juga khususkan Hari Raya Saraswati memuja beliau. Jika tangkil ke pusat di Tatasan, Denpasar, maka pulangnya kembali kita sembahyang di sini dengan menghaturkan soda. Jika tidak pas tangkil, ada upacaranya juga,” terang Jro Mangku I Made Rasna.



Persembahyangan tahap ketujuh dan kedelapan adalah dengan sarana kwangen dan bunga, yang ditujukan kepada leluhur. “Spesialnya di sini memakai dua buah kwangen dan dua buah bunga,” paparnya.



Terakhir, yang kesembilan adalah sembahyang tangan tanpa sarana (sembah puyung), merupakan sembahyang penutup yang ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Selain mengadakan upacara khusus  ketika  Saraswati, Pura Dalem Pande Majapahit Tatasan  yang diempon 80 Kepala Keluarga (KK) yang sebagian besar diluar daerah ini, menggelar  piodalan saat  Anggara Kasih Medangsia. 



Di Pura Dalem Pande Majapait Tatasan di utamaning mandala dibangun palinggih candi yang tinggi sebagai stana Ida Sang Hyang Widhi, kemudian ada Meru Tumpang Tiga sebagai stana Kawitan. Lalu ada Kemulan Agung, Perapen sebagai stana Brahma Geni, Painggih Taksu untuk nunas taksu pande bagi pangempon. Ada Pelik Sri, Piyasan, dan Beji untuk pstoyan saat piodalan. Khusus di area jaba pura  terdapat Palinggih Ratu Nyoman.

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #pura #sejarah pura