Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Dalem Tungkub, Punya Sedan Gaib, Pantang Persembahkan Daging Babi

I Putu Suyatra • Jumat, 25 Oktober 2019 | 22:14 WIB
Pura Dalem Tungkub, Punya Sedan Gaib, Pantang Persembahkan Daging Babi
Pura Dalem Tungkub, Punya Sedan Gaib, Pantang Persembahkan Daging Babi


MENGWI, BALI EXPRESS - Ada hal tidak biasa di Pura Dalem Tungkub. Ketika piodalan, pamedek tidak boleh mempersembahkan upakara berisi  daging babi. Bahkan, tidak boleh memakan nasi dengan lauk babi di area pura. Kalau berani akan ada risikonya.


Pura Dalem Tungkub yang terletak di Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Mengwi, Badung, memiliki keistimewaan dari posisinya. Berlokasi di Gang Rajawali, pura yang piodalannya jatuh pada Purnama Sasih Kapat ini, dianggap sebagai ibu dari Pura Beten Bingin dan Pura Dalem Dukuh Sakti yang juga berlokasi di gang yang sama.



Pura Beten Bingin sebagai anak laki-laki dan Pura Dalem Dukuh Sakti sebagai anak perempuan, status anak dan ibu ini sendiri adalah secara niskala. Ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya pekan kemarin, pemangku Pura Dalem Tungkub Jro MangkuI Putu Wardana, 51,  mengungkapkan bahwa makna dari nama pura tempatnya ngayah ini adalah mengayomi. “Nungkubin jagat Mengwitani, karena pura ini salah satu pura tertua di Mengwitani,” ujarnya, sembari menggendong sang cucu.



Melihat dari depan saja,  seseorang akan merasa aura pura ini berbeda. Ada dua buah patung berwajah  seram menyambut di pintu depan. Sebagai Pura Dalem, pura ini memiliki petapakan bernama Ratu Gede Landung. Rupanya, petapakan ini tidak serta merta sejak awal sudah ada. 80 tahun yang lalu lewat pawisik (petunjuk gaib), Ida Batara Dalem Tungkub meminta kepada pangempon pura agar dibuatkan petapakan khusus, yakni Ratu Gede Landung. “Jadi, pangempon kala itu membuatkan sesuai permintaan Ida,” terang pemangku yang tinggal 50 meter di timur pura.



Selain ada petapakan, awalnya ada pohon beringin di jaba tengah pura berdiri kokoh. Jro Mangku I Putu Wardana menjelaskan bahwa pohon besar itu roboh pada 20 Juni 2015. Dia  ingat kalau pohon tumbang pukul 15.50 Wita, tepat pada Tumpek Wariga. Karena pohon yang tumbang ada di area pura, maka dilakukanlah nunas baos (meminta petunjuk).



Hasilnya, diketahui bahwa pohon beringin itu sudah berusia 3,5 abad dan memang tumbang karena usia, bukan hal niskala. Selain itu, juga diketahui bahwa Sang Hyang Ratu Gede Sapuh Jagat yang berstana di pohon tersebut pindah ke Pura Dalem Brerong. Sehingga setiap piodalan mapikeling (memohon izin) agar Sang Hyang Ratu Gede Sapuh Jagat berkenan hadir.



Sama halnya dengan pura tempat anak-anaknya berstana, Pura Dalem Tungkub juga jadi tempat nunas tirta panginih-nginih agar bisa hemat dalam setiap karya. Perbedaanya adalah di Pura Dalem Tungkub tidak mengaturkan segehan dengan jeroan babi, seperti di Pura Beten Bingin. Alasan tidak adanya penggunaan segehan khusus degan jeroan babi ini karena Ida Batara Dalem Tungkub nyukla. “Sebagai penggantinya, maka diaturkan segehan pancawarna, hitam, putih, kuning, dan hitam ditambah prasdaksina lengkap,” terang Jro Mangku I Putu Wardana.



Nyukla di Pura Dalem Tungkub sendiri menandakan tidak boleh ada upakara dengan unsur babi yang digunakan. Tidak hanya saat mempersembahkan banten atau upakara, pangempon pun sebaiknya tidak membawa nasi dengan lauk babi dan makan di area pura.



Pengalaman selama ini, lanjutnya,  seseorang yang membawa nasi dengan lauk babi mengalami diare, setelah makan nasi dengan lauk babi  di lingkungan pura.
Walau nyukla dengan daging babi, tidak lantas membuat  orang mempersembahkan babi guling karena alasan membayar khaul jadi batal.



Jro Mangku I Putu Wardana membeberkan bahwa ada pangempon yang tanpa sengaja masesangi (berhaul)  dengan daging babi guling. “Sebagai pemangku, saya nguningan (menyampaikan) ke Ida Batara bahwa ini adalah persembahan dari pangempon, , bukan permintaan Ida yang berstana, sehingga setelah selesai bayar kaul tidak terjadi apa-apa,” papar pria yang mengaku tak pantang memakan makanan dengan lauk babi.



Seperti pura tempat anaknya berstana, lanjut pria yang memiliki tiga anak ini,
Pura Dalem Tungkub juga menjadi lokasi orang untuk nunas tamba (mohon obat) dan juga untuk nunas (mohon) perlindungan di pekarangan rumah saat ada karya.


“Biasanya nunas tamba dengan membawa canang atau pajati. Sesuai hasil nunas baos (mohon petunjuk dari tokoh supranatural),  ada yang mencari lumut di pura untuk boreh. Kalau perlindungan untuk menangkal hal jahat, maka nunasnya di Palinggih Ratu Nyoman Sakti Perbekel,” jelasnya.



Pura Dalem Tungkub sebagai stana Ratu Gede Dalem Tungkub ini, memiliki banyak rencang  (sosok penjaga gaib). Selain ada  ular, singa, dan jaran (kuda), di pura ini ada mobil sedan gaib. 


Tetangga Jro Mangku I Putu Wardana pernah melihat kejadian aneh, saat melintas di gang menuju pura dengan sepeda, tiba-tiba melihat mobil sedan datang dari arah barat. Ukuran gang yang sempit membuat dia tidak bisa menghindar, dan  langsung jatuh dari  sepeda. Namun, ketika bangun ternyata tak ada mobil sedan yang seakan menghadangnya tadi.


“Dia menceritakan kejadian aneh itu kepada saya. Saya perkirakan itu rencang Ida dengan kendaraannya lewat. Tetangga saya heran, bisa ada sedan gaib,” ungkap Jro Mangku I Putu Wardana.


Pengalaman lainnya, lanjutnya, dahulu di dekat pura menjadi lokasi bermain anak-anak. Tidak diketahui sampai suatu ketika ada dahan kayu jatuh ke arah seorang anak. “Anaknya kelas tiga kala itu, dia meninggal. Kini dia ngayah di pura itu, ganteng anaknya. Saya pernah lihat  dia duduk-duduk di area jaba tengah. Mungkin sekarang dia sudah besar dan ngayah di sana,” bebernya.



“Hal tersebut diketahui dari nunas baos, Ida Batara Ratu Gede Dalem Tungkub menyukai anak-anak,” imbuhnya.


Peristiwa lainnya saat dirinya mempunyai hajatan karya, ada seseorang asing datang meminta makanan. Dia pun membagikan makanan itu kepada orang asing itu, dan tidak diduga orang itu adalah jero samar (makhluk gaib). “Ini mengingatkan saya, bahwa kita tidak boleh pelit kepada  siapapun itu,” tegas pria yang sudah memiliki dua orang cucu ini.


Di Pura Dalem Tungkub dibgun sejumlah palinggih. Di utamaning mandala ada beberapa palinggih, yakni Palinggih Gedong Agung Dalem Tungkub, Gedong Ratu Made, Gedong Ratu Nyoman, Pelik Paparuman, Ratu Mas Sakti, Palinggih tempat penyimpanan Petapakan Ratu Gede Landung, Bale Gong, Bale Sambyangan. Di Jaba tengah terdapat Palinggih Ratu Gede Sapuh Jagat, sebagai pengganti pohon beringin, dan di sudut dekat pintu masuk dibangun Palinggih Ratu Nyoman Sakti Perbekel.

Editor : I Putu Suyatra
#mengwi #hindu #pura #sejarah pura