Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Unik! Ada Pretima Pria Berkacamata di Pura Ratu Alit Sakti

I Putu Suyatra • Rabu, 18 Desember 2019 | 19:01 WIB
Unik! Ada Pretima Pria Berkacamata di Pura Ratu Alit Sakti
Unik! Ada Pretima Pria Berkacamata di Pura Ratu Alit Sakti

ABIANSEMAL, BALI EXPRESS - Pura Ratu Alit Sakti di Banjar Tagtag, Desa Sibang Gede, Abiansemal, Badung, Bali, berbeda dengan pura pada umumnya yang mempunyai tempat  khusus. Pura yang berdiri di pekarangan rumah ini, merupakan pura keluarga, namun memiliki keistimewaan. Bagaimana cerita unik pura yang diempon satu keluarga ini?


Meski hanya ada satu palinggih, Pura Ratu Alit Sakti ternyata membawa keberkahan bagi umat yang datang bersembahyang. Tidak hanya bagi pangempon, tetapi juga bagi orang luar yang  datang bersembahyang.


Jro Mangku I Nyoman Sarma, 57, mengatakan,  tidak mengetahui secara jelas
sejarah Pura Ratu Alit Sakti. Orang tua maupun tetuanya tidak pernah menceritakan secara jelas alasan keberadaan pura bisa berdiri di pekarangan keluarganya. “Sudah napet (nemunya) ada sejak dahulu. Jadi, saya tidak bisa memastikan hal ini,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.



Bila masuk ke  lokasi pura, banyak berjejer palinggih. Namun, di Pura Ratu Alit Sakti  hanya ada satu palinggih yang  berdiri paling hulu.  Palinggih dengan ukuran sekitar dua kali dua meter itu,  menempel jadi satu dengan gedong wastra. Palinggih tersebut nampak berdiri gagah, karena baru direnovasi lima tahun lalu. “Kalau palinggih yang lainnya itu pura merajan keluarga dan pura ibu saya,” sebut Jro Mangku I Nyoman Sarma.



Walau hanya memiliki satu palinggih, lanjut Jro Mangku I Nyoman Sarma, ternyata banyak didatangi orang untuk bersembahyang karena dinilai secara niskala punya keistimewaan.  Ida Ratu Alit Sakti sangat baik kepada umat yang datang . “Katanya dahulu ada dalang bernama Dalang Sulangait di sini. Beliau memainkan 12 wayang, namun kini sudah tidak ada yang memainkannya,” ucap Jro Mangku I Nyoman Sarma sambil menunjuk ke arah kotak di palinggih yang ditutup kain  hijau muda.



I Wayan Sudiana, 31,  anak pertama Jro Mangku I Nyoman Sarma mengatakan,
wayang tersebut kini sudah rapuh, pegangan wayang yang terbuat dari bambu tidak bisa digunakan lagi.



Sempat terpikir keduanya untuk membeli wayang baru, namun harga satu set wayang sangat mahal, niat itupun diurungkan. Di sisi lain, kalau pun ada yang baru nantinya tak ada yang bisa memainkan. "Anggota keluarga kami tidak ada yang bisa ngawayang,” ujar Jro Mangku I Nyoman Sarma.



Sebagai pura yang memiliki wayang, pura ini menarik minat para dalang untuk nunas taksu (aura magis) dalang.



Para dalang yang datang tersebut mengetahui keberadaan Pura Ratu Alit Sakti dari mulut ke mulut. Dalang yang akan nunas taksu biasanya mempersembahkan  pajati untuk mapikeling (pemberitahuan) siang hari.



Malam harinya dilanjutkan meditasi oleh si dalang di depan palinggih. “Masalah dapat paica (berkah) dari  Ida saya kurang tahu,” terang Jro Mangku I Nyoman Sarma.



Keistimewaan lainnya juga bisa ditemukan di pura ini. Ada sebuah tongkat dililit dengan kain kasa putih yang dipercaya  mampu mengobati ternak yang sakit, khususnya babi dan sapi. Warga biasanya datang kala ternaknya sakit, membawa canang ataupun pajati, kemudian meminta bantuan Jro Mangku I Nyoman Sarma untuk nunas tirta.



Proses nunas tirta ini sedikit berbeda. Jika setelah tirta didoakan biasanya langsung bisa digunakan, namun disini ada proses tambahan. Pemangku akan mencelupkan tongkat ke dalam sangku (tempat tirta), setelah proses itu, tirta baru bisa digunakan. Pemilik ternak akan mencipratkan tirta dan mengoleskan bawang yang didoakan kepada ternaknya. 



“ Warga biasanya berkaul (sesangi) agar ternaknya sehat kembali. Bila diberkati, warga  akan bayar kaulnya saat piodalan di Tumpek Wayang. Sehingga sering kali banyak yang datang mengaku akan bayar kaul di pura ini,” bebernya.



Keunikan lainnya,  tongkat ini akan dipendak (dibawa) ke merajan milik warga yang akan melaksanakan karya besar, seperti ngenteg linggih. Tongkat akan dipendak satu hari sebelum puncak karya dan akan budal (dibawa kembali) keesokan harinya, sehabis upacara puncak. Ketika budal akan dipersembahkan tipat bantal. "Sampai sekarang warga di Banjar Tagtag masih melakukannya. Alasannya, dengan memendak tongkat dari Pura Ratu Alit Sakti maka upacara karya akan berjalan lancar,” tutur I Wayan Sudiana.



Yang menarik lainnya, di pura ini ada pretima (benda yang dikeramatkan) pria berkacamata.  “Saya pun dari dahulu sudah mendapatkan seperti itu, tidak tahu asal muasalnya. Sering orang terkejut sembari tersenyum melihat ada pretima berkaca mata ,” paparnya.



Pura Ratu Alit Sakti dipercayai  punya rencang ( sosok penjaga gaib) berupa banteng dan kereta. Suara kereta berjalan  dan hentakan kaki banteng berjalan di pekarangan rumah Mangku Sarma kerap terdengar, namun ketika  dicari sumber suaranya tidak pernah ketemu wujudnya. “Anak kedua saya pernah pintunya digedor sama rencang Ida  saat tidur,” ucap  Jro Mangku I Nyoman Sarma yang diiyakan oleh Wayan Sudiana.



Selain itu, banyak yang menerawang Pura Ratu Alit Sakti memiliki jinah bolong (uang kepeng) dengan gambar arjuna, bima  dan lainnya. Paica itu konon untuk yang ingin menjadi dalang dan orang-orang yang bekerja di bidang seni, seperti tari dan tabuh.



Disinggung soal tak ada batas dua tempat sembahyang ini, Jro Mangku I Nyoman Sarma mengaku tidak ada masalah karena sejak awal kondisinya seperti itu.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #pura unik #hindu #pura #sejarah pura #badung