SIBANG GEDE, BALI EXPRESS - Usia ratusan tahun jembatan alias kreteg kuno, rupanya mulai mengikis bentuk jembatan. Bahkan terlihat lubang besar di sisi tengah jembatan. Kondisi peninggalan sejarah era Kerajaan Mengwi ini, terkesan dibiarkan dihabisi zaman.
Lalu- lalang sepeda motor menderu melewati kreteg tua yang menghubungkan Desa Sibang Gede dengan Dharmasaba di Kecamatan Abiansemal, Badung. Meski tidak terlalu ramai yang melintas, namun warga menjadikan jembatan kuno ini sebagai alternatif agar lebih cepat sampai tujuan, tinimbang harus melewati jembatan baru di sebelah barat yang ramai.
Kondisi jembatan yang mulai erosi, membuat pengguna jalan sering kali bergantian untuk melintas. Bagian erosi membuat lubang besar dan ditumbuhi semak belukar, sehingga perlu kehati-hatian bila melintas.
Tokoh Puri Kamasan Sibang Gede, I Gusti Agung Oka Pabian, 85, yang menemani Bali Express pekan kemarin, menelusuri jembatan tua ini, kemudian mengajak melihat prasasti di dinding gua yang membuktikan pendiri jembatan tua itu. Prasasti pertama yang bertuliskan aksara Bali, tertulis Palinggih Ida Bathara Sakti Anak Agung Agung Gde Kamasan Sakti kaping tiga. Prasasti kedua di sebelah selatan bertuliskan Palinggih Kyai Anglurah Gde Putu Mambal kaping tiga.
“Prasasti ini membuktikan keduanya adalah pembuat dari kreteg tua ini,” ucap I Gusti Agung Oka Pabian.
Dikatakannya, jembatan yang awalnya jadi jalur utama transportasi warga dari dan menuju Sibang Gede ini, mulai berubah ketika Belanda berhasil mengalahkan Kerajaan Badung. Demi membangun koneksi transportasi yang lebih baik ke wilayah utara Badung, lanjutnya, Belanda mulai membangun jembatan baru yang jaraknya sektar 100 meter dari kreteg tua. Pembangunan jembatan baru oleh Belanda dilakukan tahun 1917, karena mereka meragukan kekuatan kreteg tua.
“Selama pembangunan jembatan baru oleh Belanda, kreteg tua tetap menjadi urat nadi lalu lintas masyarakat. Setelah jembatan baru selesai tahun 1920, keramaian lalu lintas berpindah ke jembatan buatan Belanda,” papar pensiunan PNS di Universitas Udayana itu.
Kreteg tua pun mulai sepi dan hanya dimanfaatkan oleh warga sekitar saja. Kondisinya pun lama kelamaan kurang mendapat perhatian, sehingga semak belukar mulai tumbuh, kemudian pohon-pohon mulai merusak batu padas. Akibatnya adalah erosi di beberapa bagian jembatan.
I Gusti Agung Oka Pabian mengatakan, walau kondisi jembatan sudah erosi di beberapa bagian, namun kekuatan jembatan ini sangat kokoh. Keyakinan tersebut berdasarkan pada beberapa bencana yang terjadi di Bali, namun tidak membuat jembatan ini rusak parah. Tahun 1963 ketika terjadi letusan dahsyat Gunung Agung, hanya terjadi kerusakan kecil saja di jembatan itu. Kemudian disusul kembali dengan gempa besar Seririt dengan kekuatan 6,2 Skala Richter (SR) tahun 1976. Ketika gempa tersebut, hanya ada kerusakan ringan saja pada jembatan tua Sibang Gede.
Baginya, mengacu pada sejumlah bencana tersebut,jembatan tua merupakan sebuah karunia mahakarya yang benar-benar dibuat dengan baik oleh I Gusti Agung Kamasan Sakti III dibantu I Gusti Agung Mambal Sakti III bersama rakyatnya ratusan tahun lalu. Walau tidak rusak karena bencana alam, rupanya waktu telah menjadi 'musuh' jembatan tua itu.
Pohon kayu bahkan tumbuh berdiri kokoh di sisi jembatan, sehingga perlu perhatian khusus bagi peninggalan bersejarah ini, karena jika dibiarkan akan bisa membuat jembatan itu roboh. Bentuk jembatan pun tidak terlihat karena sudah tertutupi oleh rerumputan.
“Pernah mendapat bantuan jembatan ini dibenahi, namun jebol lagi,” sebutnya, sambil menunjuk bagian jembatan yang rusak. Ditambahkannya, sempat ada perhatian tentang jembatan ini untuk dijadikan lintasan rafting karena medannya yang cocok dan melewati jembatan bersejarah itu. Waktu mendapat perhatian seperti itu, segera dilaksanakan pembersihan pohon dan rumput, sehingga fisik jembatan dapat terlihat dengan mudah.
Namun, rencana tersebut urung hingga kini, dan akhirnya kembali karya warisan leluhur tersebut terbengkalai dan ditumbuhi pepohonan.
“Banyak orang juga kini tidak tahu ada peninggalan bersejarah di Sibang Gede,” ucapnya lirih.
Kondisi lingkungan sekitar jembatan tua juga kurang terawat. Kala menelusuri sisi Sungai Ayung sebelah timur jembatan, dan menapaki sejumlah anak tangga, terlihat ada batu dengan sebuah palinggih. Kondisi palinggih ternyata rusak, kepalanya terpotong.
I Gusti Agung Oka Pabian yang menunjuk ke bawah, mengatakan Sungai Ayung konon sangat angker. “Dahulu pernah ada orang yang sendirian memancing di kawasan bawah jembatan dan tenggelam. Katanya dia tiba-tiba tertarik melihat ikan kecil di sungai itu," pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra