DENPASAR, BALI EXPRESS - Setiap perbuatan (karma) memberikan akibat kepada yang melakukannya, terlepas baik-buruk hasilnya. Namun, harus disadari bahwa hasil dari perbuatan itu, tidak hanya diterima pelakunya, tapi juga orang lain.
Jangan menilai perbuatan (karma), hasilnya hanya dinikmati sendiri atau yang melakukannya. Namun, keturunan atau keluarga juga bisa menerima hasil dari karma buruk itu.
Menurut Direktur Pasca Sarjana Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Prof Dr I Wayan Suka Yasa MSi, ada tiga jenis penyakit dalam hidup, yakni sakit fisik, sakit psikis, dan sakit supranatural. Sakit fisik dan sakit psikis adalah hal yang lumrah didengar dan diketahui orang secara umum.
“Penyakit supranatural akibat dari karma buruk seseorang di masa lalu yang menyebabkan pelaku terkutuk," ujar Prof Dr I Wayan Suka Yasa MSi kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya, Peguyangan Kangin, Denpasar, pekan kemarin.
Terkutuk dalam hal ini, lanjut pria 60 tahun ini, disebabkan seseorang membawa-bawa keturunan agar merasakan hal yang ia rasakan. "Penyakit ini akhirnya memengaruhi hidup keturunannya sebagai dampak karma buruk leluhurnya,” terang pria berkacamata ini.
Dikatakannya, dalam Sarasamuccaya 356, dijelaskan, ada orang yang telah berusaha giat, penuh pertimbangan, bijaksana, suka membantu dan menyenangkan orang lain, berjiwa pahlawan, telah menaklukkan hawa nafsu dan berwajah rupawan. Namun, ternyata dalam hidupnya ia menjadi budak dari orang berjiwa rendah. "Semua itu adalah buah dari karma masa lalunya. Begitulah kenyataan, pada masa modern ini ada yang selalu kerja keras, namun hidupnya selalu miskin. Sebabnya, ya hasil karma masa lalunya, jalan yang ia harus hadapi di kehidupan sekarang,” sebut Wayan Suka Yasa memberi salah satu contoh.
Berkaitan dengan karma yang bisa menurun ke anak cucu, pria ramah ini mengungkapkan, biasanya akibat sumpah leluhurnya. Dia memaparkan, ketika seseorang melakukan kesalahan dan membela diri dengan bersumpah bahwa keturunannya tidak akan makmur bila ia salah, maka hasilnya anak cucu yang menderita akibat karma ini. “Kita bicara filosofinya, susah untuk membuktikan. Memang itu bisa terjadi, bahkan sampai tujuh turunan tidak makmur hidupnya, ujarnya.
Diingatkannya, sebagai manusia seyogyanya melakukan hal yang baik semampunya, agar anak cucu terhindar dari karma buruk.
Salah satu perbuatan buruk yang juga bisa berdampak pada keturunan, lanjut Wayan Suka Yasa, adalah tidak membayar utang piutang sampai meninggal. Dikatakannya, sering sekali seseorang pura-pura lupa membayar utang, berusaha mencari alasan agar tidak dimintai membayar utang hingga putus hubungan akibat utang tersebut.
Sifat seperti itu, bagi pria yang asli Tabanan ini, sangatlah tidak baik, sebab ada kepercayaan juga bawa anak harus mengalami kehilangan untuk membayar utang orang tuanya. “Ada kepercayaan, konon si anak bisa kehilangan harta benda akibat harus membayar utang orang tuanya pada orang lain secara niskala," urainya. Menurutnya, alangkah baiknya memang utang harus dibayar, agar anak cucu tidak terkena imbas di kemudian hari.
Ditegaskannya, tidak hanya karma buruk dari leluhur bisa berdampak pada anak cucu. Karma perbuatan anak cucu juga bisa berdampak pada leluhurnya. Hal ini tentu lebih mudah dilihat secara nyata.
Dicontohkannya, ada sepasang suami istri yang punya nama baik terpandang di lingkungannya, kemudian punya anak pemabuk. Apa yang terjadi? Orang bisa merendahkan si orang tua tersebut, karena dianggap gagal mendidik. Padahal, orang tuanya sudah mendidik dengan baik, tetapi yang didapat sebaliknya. " Kasus model seperti ini namanya ada hubungan karma antara anak dan orang tua. Karma si anak juga berperan penting bagi orang tua walaupun sudah meninggal. Jadi, sebagai anak dengan perbuatan baik akan memberikan dampak baik pada leluhur,” tambah pria murah senyum ini.
Wayan Suka Yasa meyakini untuk memiliki anak yang suputra, bisa berdampak karma baik pada orang tua, maka calon orang tua harus melakukan hubungan baik. "Pikiran baik menjadi awal yang bagus untuk menciptakan keturunan yang baik. Sebab, ketika berhubungan suami istri ini, akan menarik atma dari alam sana untuk reinkarnasi. Jadi, selalu berpikiran positif agar keturunan yang dihasilkan juga baik,” pungkasnya.
"Karmaphala identik dengan sebab akibat, seperti pepatah siapa yang menabur angin, maka akan menuai badai. Namun, tak banyak yang memikirkan ternyata karmaphala hasilnya bisa mengenai keluarga," terangnya.
Sebagai umat Hindu, lanjutnya, karmaphala adalah ajaran yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan.
Dirambahkannya, Karmaphala (hasil perbuatan) adalah salah satu dari lima bagian Panca Sradha.
Secara etimologi, Panca Sradha berasal dari kata Panca dan Sradha. Panca berarti lima dan sradha berarti keyakinan. Jadi, Panca Sradha adalah lima (5) keyakinan yang dimiliki oleh umat Hindu, yakni percaya terhadap adanya Brahman, percaya terhadap adanya Atman. Kemudian percaya terhadap adanya Karmaphala, percaya terhadap adanya Punarbhawa, dan percaya terhadap adanya Moksa.