Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kelapa Bercabang Disodok Eksavator, Alat Berat itu Jatuh

I Putu Suyatra • Kamis, 26 Desember 2019 | 21:47 WIB
Kelapa Bercabang Disodok Eksavator, Alat Berat itu Jatuh
Kelapa Bercabang Disodok Eksavator, Alat Berat itu Jatuh

MANGUPURA, BALI EXPRESS - Tak hanya di Klungkung, di wilayah Badung juga ada kelapa bercabang. Yang cabangnya begitu banyak ada di Hotel Patra Bali, Kuta. Terlihat dari Pantai Jerman. Selain itu juga ada di Banjar Belang, Desa Sembung, Kecamatan Mengwi. Bagi warga sekitar, pohon kelapa tersebut bukanlah hal yang baru. Seorang warga yang kebetulan melintas,


Pan Griya, 65 (saat diwawancarai 2016), mengungkapkan bahwa pohon tersebut sudah berumur puluhan tahun. Awalnya pohon kelapa tersebut normal, tapi entah kenapa ketika mulai meninggi tumbuh cabang berjumlah empat. “Dulunya biasa, tapi tiba-tiba tumbuh cabang,” tuturnya.


 


Berdasarkan hal tersebut, dibangunlah sebuah palinggih yang terletak persis di sebelah utara batangnya. Ini dikarenakan masyarakat Bali percaya bahwa jika ada fenomena pohon kelapa bercabang, lokasi sekitar pohon kelapa adalah tanah panas atau ada aura magis di sekitar tempat tersebut. Palinggih tersebut cukup terawat dan berisi canang. Artinya, ada orang yang memperhatikan tempat tersebut. Keberadaan pohon kelapa tersebut bukannya dibiarkan begitu saja. Kakek berperawakan kurus tersebut mengungkapkan bahwa pohon kelapa tersebut sempat berusaha ditumbangkan.


“Pernah coba disodok pakai alat berat, tapi alatnya jatuh,” ujarnya. Letak pohon tersebut memang di pinggir persimpangan telabah (saluran air untuk sawah). Semenjak saat itu masyarakat membiarkan pohon tersebut,” katanya.


Tepat di sebelah selatan batang pohon kelapa tersebut terdapat telaga kecil berukuran sekitar 1,5 x 1 meter. Di pinggirnya diletakkan sebuah patung perempuan yang di atas kepalanya sebagai letak sesajen.


Setelah ditelusuri, ternyata lahan persawahan tersebut milik salah seorang warga, Made Seni, 43 (2016), yang rumahnya di sebelah utara dari lokasi. Ia menuturkan bahwa keberadaan pohon kelapa tersebut memang cukup aneh.


“Dulu sempat ngatur piuning (berdoa) dan diminta membangun palinggih di bawahnya,” ungkapnya. Tanpa panjang lebar, dibangunlah palinggih yang hingga kini ia rawat tersebut.


Saat ditanya, siapa yang berstana di tempat tersebut, ia mengatakan bahwa palinggih tersebut sebagai Panyawangan (tempat memuja secara jauh) Pura Tengahing Segara. Namun ia tidak tahu percis Pura Tengahing Segara tersebut dimana.


Yang jelas, ia secara rutin merawat tempat tersebut dan menghaturkan canang pada hari-hari tertentu, seperti Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, dan sebagainya.

Editor : I Putu Suyatra
#bali