ABIANSEMAL, BALI EXPRESS - Pura Dhalem Mpu Haji di Banjar Bantas Kelod, Desa Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali, terlihat megah. Ada sebagian orang yang penasaran soal nama pura yang dianggap aneh.
Tampak depan Pura Dhalem Mpu Haji sangat bagus, terlihat seperti baru diperbaiki. Apalagi di area utamaning mandala pura, palinggih pura tetap mempertahankan arsitektur pura yang kuno dan klasik.
Pemangku Pura Dhalem Mpu Haji, Jro Mangku I Ketut Gebrog, 80, menceritakan bahwa keberadaan pura ini sudah lama. Pria yang sudah berusia kepala delapan ini pun tidak mengetahui sejarah pasti sampai berdirinya pura ini di Sibang Gede.
Diakuinya, para tetua di pura tidak pernah menceritakan tentang pura tempatnya ngayah (mengabdi) sebagai pemangku.
Penggunaan nama Haji pada pura ini, lanjut Jro Mangku I Ketut Gobreg, disebabkan oleh gelar dari Ida Dhalem Shri Haji Kresna Kepakisan yang memerintah di Bali sejak tahun 1352 — 1380 Masehi. Penggunaan nama Haji tidak memiliki sangkut paut dengan hal yang lain.
“Kami pangempon pura adalah pretisentana dari beliau sendiri,” ujar Jro Mangku I Ketut Gobreg, saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu.
“Mungkin kami keturunan dari Shri Haji Kresna Kepakisan yang pindah ke sini dahulu kala. Tetapi kami tidak terlalu tahu bagaimana hubungannya, sebab tidak ada lontar maupun tutur dari tetua saya dahulu,” tambahnya.
Pura Dhalem Mpu Haji diempon 90 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Abiansemal, mulai dari Dharmasaba, Sibang Gede dan Sibang Kaja. Dikatakannya, ada tiga pretima (sosok atau benda yang disakralkan) sangat unik yang disimpan di Gedong Ida Sasuhunan Dalem.
Ada pretima berbentuk perahu dengan sebuah patung pria di atasnya. Kemudian ada pretima dengan penyu yang ditunggangi oleh sosok pria. Pretima ketiga berbentuk naga yang juga ditunggangi seorang pria. Jro Mangku I Ketut Gebrog sekali lagi mengaku kurang tahu soal ketiga pretima tersebut, juga maknanya.
“Saya tidak berani mengatakan bagaimana arti dari ketiga pretima yang ada di pura, biar tidak salah saya menjelaskan,” tandasnya.
Tahun 2017 ketika karya (piodalan besar) Jro Mangku I Ketut Gobreg bersama pangempon pura mengecat ulang pretima. Namun sebelum melakukannya hanya mapikeling, bukan berdasarkan petunjuk niskala.
“Ada mapikeling ( meminta izin) kepada beliau saja. Kemudian langsung dicat,” ujarnya.
Dikatakannya, kondisi pura awalnya sudah rusak. Berkat bantuan dari Pemkab Badung akhirnya diperbaiki, dan diserahkan ke pangempon Desember 2019.
Prosesi piodalan Pura Dhalem Mpu Haji yang jatuh pada Buda (Rabu) Umanis Wuku Medangsia ini tidak ada ritual tabuh rah. Hanya ada prosesi ke Pura Taman Beji yang terletak di sungai tidak jauh dari pura. “Kami pasucian ke Pura Taman Beji sore hari. Tabuh rah tidak ada kewajiban untuk dilaksanakan,” ungkapnya.
Ketika disinggung soal rencang atau sosok penjaga gaib di pura, Jro Mangku I Ketut Gebrog mengaku tidak pernah tahu dan tidak pernah mendengar tentang hal seperti itu. “Tidak berani saya mengatakan ada, kalau saya belum lihat sendiri,” tandasnya.
Pura Dhalem Mpu Haji memiliki konsep Tri Mandala. Area utamaning mandala menjadi tempat semua palinggih berdiri di pura ini. Ada palinggih Ratu Ngurah Agung, Pelik Sari, dua buah Gedong Kawitan dengan meru tumpang tiga, Padmasana, Palinggih Sapta Patala, Gedong Ida Dalem Sasuhunan, Palinggih Pangapit Gedong ada dua buah dan Palinggih Ibu. “Palinggih Sapta Patala ini adalah palinggih untuk pemujaan Ida Sang Hyang Widhi yang menguasai isi gumi (isi bumi), sehingga manusia dapat hidup. Walau posisinya di belakang, tapi fungsinya sangat penting,” pungkas pemangku yang memiliki lima anak ini.