DENPASAR, BALI EXPRESS - Semua makhluk hidup di dunia akan mati. Manusia pun tak bisa menghindar dari kematian. Meski jadi bagian dari keharusan, namun kematian menjadi peristiwa yang menakutkan. Lantas, haruskah seseorang takut akan kematian atau sebaliknya?
Meninggal atau mati tidak mengenal tua, muda, besar maupun kecil, juga kaya atau miskin. Oleh sebab itu, seseorang hendaknya ketika hidup mesti mengenal esensi hidupnya sebagai manusia. Tujuan dia lahir sebagai manusia dan alasan bisa ada di dunia ini. "Setelah mengetahui apa itu hidup, maka manusia pun sebaiknya bisa mengerti apa itu esensi dari kematian karena hal yang wajar. Kematian itu seperti seorang manusia mengganti baju kotor dengan baju yang baru,” ucap
dosen Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Prof Dr I Wayan Suka Yasa MSi ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya di Peguyangan, Denpasar.
Dikatakan pria 60 tahun ini, badan berasal dari material, sehingga mau tidak mau harus diganti oleh sang Atma. "Atma akan berpindah membawa badan halus untuk Punarbhawa (lahir kembali) dengan badan yang baru," terangnya.
Dijelaskan Prof Dr I Wayan Suka Yasa MSi, konsep lapisan badan manusia dalam Hindu dikenal dengan Tri Sarira, yaitu terdiri atas Sthula Sarira,Suksma Sarira, dan Antakarana Sarira. Sthula Sarira adalah badan kasar manusia yang berasal dari Panca Mahabutaha (pertiwi, apah, bayu, teja, akasa). Kemudian ada badan halus yang disebut Suksma Sarira, yakni bagian tubuh manusia yang bisa merasakan, akrab sebagai Panca Indria, dimana dalam Hindu dikenal dengan Panca Budhindriya yang terdiri atas indra penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan, dan pengecap. Kemudian ada Panca Kamendriya yang terdiri atas indra penggerak pada tangan, kaki, perut, kemaluan, dan dubur. “Ini badan halus, sederhananya tempat dari keinginan, ego, napsu, dan semacamnya. Semua itu akan selalu melekat dan dibawa oleh lapisan badan ketiga kita,” terangnya.
Lapisan badan ketiga adalah Antakarana Sarira, yakni Atma pada diri manusia. "Atma ini adalah yang menyebabkan badan kasar manusia seolah-olah hidup. Atma diibaratkan
seorang sopir kendaraan dan mobilnya adalah badan kasar. Kalau mobil sudah tua dan rusak hingga tidak bisa dipakai, pasti akan diganti dengan mobil baru. Maka seperti itulah Atma saat meninggalkan badan kasar kita,” paparnya.
Dikatakannya, badan kasar yang terdiri dari Panca Mahabutha itu, terus berproses. Dari bagus kondisinya ketika manusia lahir sampai mulai menua dan akhirnya harus diganti.
Perbedaan yang mencolok antara lapisan badan kasar dengan dua lapisan lainnya (badan halus dan rohani), membuat badan kasar tidak bisa ikut Punarbhawa. "Badan halus dan rohani melekat bersama, ikut kembali lahir ke dunia. Maka dari itulah sifat ego seseorang pada kehidupan sebelumnya juga bisa ikut pada kelahiran yang sekarang,” bebernya.
"Sebagai manusia pada umumnya akan tetap menjawab takut jika ditanya tentang kematian. Jarang yang akan menjawab berani mati. Itu terjadi karena semua manusia terikat oleh ikatan duniawi. Takut kehilangan harta, takut meninggalkan keluarga,” ujarnya.
Dikatakan Prof Dr I Wayan Suka Yasa, takut menjadi pengunci hidup manusia agar tidak bisa berkembang ke arah yang lebih baik. "Orang yang takut akan datangnya kematian adalah orang yang masih dalam tahap kesadaran ragawi," paparnya.
Ditambahkannya, kesadaran ragawi membuat manusia terikat kuat akan kehidupan dunia ini. Semakin takut seseorang, maka ikatannya semakin kuat mencengkramnya. “Berbeda dengan yang telah mempunyai kesadaran tinggi, dia akan siap saja meninggal kapan pun itu.
Sama dengan mengerti esensi kehidupan, belajar filosofi agama adalah jawaban agar manusia tidak takut akan kematian," ungkapnya. Jadi, perluas pemahaman rohani, tattwa agama dan hakikat tentang hidup serta kematian. “Kenapa aku harus hidup, siapa aku sebenarnya, untuk apa aku mesti dilahirkan, darimana aku berasal. Pertanyaan-pertanyaan itu bisa jadi tuntunan awal dalam menghadapi ketakutan akan kematian,” bebernya.
Melalui pembelajaran setiap hari, lanjutnya, maka seseorang kelak akan bisa mendapatkan pengalaman rohani. Dia akan mulai mengerti akan esensi hidup dan mati. Dari sana mulai berkurang rasa takut akan kematian.
Ditegaskannya, ketika sudah mengerti esensi akan kematian, seseorang tidak akan takut meninggalkan harta bendanya, pergi meninggalkan keluarga yang dicintainya dan hal lain yang bersifat duniawi. Sebab, kesadaran yang tinggi, membuat manusia tahu inti esensi hidup dan mati, yang bertujuan agar kembali menyatu dengan Ida Sang Hyang Widhi.
Editor : I Putu Suyatra