ABIANSEMAL, BALI EXPRESS - Pura Taman Beji Panti di Sibang Gede, Abiansemal, Badung, punya fungsi lebih khusus dengan pura sejenis yang ada. Selain untuk malukat, di pura yang terletak dekat dengan Tukad Ayung ini, juga ada tradisi Nunas Sari dan untuk ritual Otonan anak yang belum berusia maksimal 15 tahun.
Pura Taman Beji Panti di Desa Sibang Gede, Abiansemal, Badung, tergolong unik karena terletak di sebuah goa. Jika pamedek ingin sembahyang, maka harus masuk ke dalam goa hati hati.
Pintunya hanya selebar setengah meter, hanya cukup untuk satu orang. Setelah melewati pintu kecil, pamedek harus berjalan perlahan melewati jalan diantara dua kolam, agar tidak jatuh. Remang-remang cahaya menunjukkan ada masing-masing tiga pancuran di tiap kolam. Airnya pun mengalir cukup deras. Setelah berjalan sekitar 10 meteran, akan sampai di area gua. Cukup gelap, sehingga harus memakai senter untuk melihat sekeliling agar tidak terpeleset.
Hening, begitulah yang terjadi di dalam gua. Terlihat satu palinggih yang pelatarannya berisi canang. Hanya ada suara air di dalam gua menemani pamedek ketika sembahyang.
Mangku I Wayan Sutarka, 67, selaku panglingsir Pura Taman Beji Panti menerangkan, tidak ada sejarah pura secara jelas. Cerita dari tetua pun tidak dapat menjelaskan secara gamblang bagaimana berdirinya pura dengan kelebutan (sumber air) di dalam gua yang gelap itu. “Saya nanya sama orang tua, ya jawabannya hanya sudah napet (sudah ada). Hanya itu yang saya dapat ketika ditanya keberadaan pura,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.
Walau tidak terdapat catatan sejarah yang pasti, pura yang berlokasi di Jalan Taman Beji, sebelah SDN 2 Sibang Gede, Banjar Srijati, Abiansemal ini, dianggap memiliki keistimewaan. Pura Taman Beji Panti seringkali didatangi oleh orang untuk malukat (ritual membersihkan diri). Hal itu diketahui karena proses malukat dilakukan dengan medatangi pemangku pura sebelum melaksanakannya. Mangku Sutarka didampingi Pemangku Pura Taman Beji Panti yang baru, Mangku Nyoman Rike Aryasena, menegaskan, tidak boleh sembarang orang masuk ke pura untuk malukat, sebab Taman Beji dianggap tenget (angker). Apalagi orang yang baru pertama kali datang ke pura, sebaiknya datang ke pemangku kalau mau sembahyang atau malukat.
Dikatakannya, proses malukat dimulai dengan pamedek harus mandi di tempat pemandian umum, dimana air dari kelebutan (sumber mata air) dialirkan keluar. Hal ini dilakukan untuk membersihkan diri sebelum dilukat. Usai mandi, pamedek baru akan sembahyang dan nunas tirta (mohon air suci), baik untuk malukat dengan mandi ataupun hanya masirat (diperciki) tirta saja.
“Kebanyakan yang datang karena petunjuk dari tokoh pengobatan (usadha ), bahwa akan mendapat kesembuhan di sini. Secara spesifik tidak saya tahu malukat di sini khusus untuk penyakit apa,” papar pria yang menjadi juga menjadi pemangku Pura Dalem Srijati tersebut.
Kalau kesembuhan, lanjutnya, banyak yang sembuh juga. "Tetapi saya tidak bisa bilang semua penyakit bisa disembuhkan ya. Biar tidak salah juga,” imbuhnya.
Selain sebagai tempat malukat, Pura Taman Beji Panti adalah Pura Beji dari Pura Kahyangan Tiga di Sibang Gede. Tidak hanya itu, pura ini menjadi tempat nunas tirta bagi seluruh warga di Sibang Gede ketika Umanis Galungan. Nunas tirta di pura yang piodalannya jatuh pada Buda Cemeng Merakih ini wajib dilakukan. “Tradisi ini dinamakan sebagai tradisi Nunas Sari. Dinamakan Nunas Sari karena setiap warga membawa canang sari saat nunas tirta tersebut,” ucap Mangku Sutarka.
Warga dari Sibang Gede akan datang berduyun-duyun mulai jam lima pagi. Menurut Mangku Sutarka, kedatangan warga semakin pagi semakin baik. Biasanya sampai pukul 07.00 pagi, semua warga sudah usai nunas tirta di Pura Taman Beji Panti. Sesampai di rumah, warga mulai menyiratkan tirta ke palinggih di merajan, dimana banten dari upacara Galungan sehari sebelumnya masih ada. “Banten tidak bisa dilebar (diturunkan) dan dibawa pulang kalau belum diperciki tirta dari Pura Taman Beji Panti. Ini sudah tradisi tandasnya,” tandasnya.
Adapun makna dari nunas tirta, lanjut Mangku Sutarka, sebagai pembersihan diri, sekaligus melanjutkan merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Selesai menyiratkan tirta di merajan, warga baru kemudian mengambil banten dan membawa ke rumah.
Ditambahkannya, fungsi lain dari tirta Pura Taman Beji Panti, juga digunakan sebagai tira untuk natab banten oton anak yang belum akil baliq. Anak akan natab banten kemudian baru diizinkan keluar rumah untuk jalan-jalan. Tradisi ini hanya dilakukan untuk anak-anak belum berusia 15 tahun, karena dianggap masih suci. “Kepercayaan orang tua dahulu bahwa Bathara Bathari turun ke dunia ketika Umanis Galungan untuk melihat umatnya. Maka, spesial buat anak-anak yang masih dianggap suci dibuatkan banten untuk ditatab. Kalau sudah berumur di atas 15 tahun sudah tidak bisa,” beber Mangku Sutarka.
Kedua tradisi tersebut, selalu dilaksanakan hingga kini. Pura Taman Beji Panti dipercaya tenget (angker) oleh tetuanya sejak dahulu. Duwe ( sosok penjaga gaib) berupa ular dan naga, konon ada di lingkungan pura. Selain itu, ada panghuni niskala yang orang tua dahulu konon bisa melihatnya. “Kalau sekarang saya tidak tahu, apa menampakkan diri lagi. Hanya pesan orang tua sejak dahulu jangan macam-macam, berlsku aneh kalau ada di kawasan pura,” ujar Mangku Sutarka.
Dijelaskannya, air kelebutan tidak pernah surut. Melimpahnya air kelebutan pun akhirnya dimanfaatkan untuk membuat penampungan air dan menjadi sumber air minum bagi warga. Hingga kini ada ratusan kepala keluarga sudah menerima manfaat itu. “Mereka langganan, air dipompa ke atas karena pemukiman ada di atas sana,” imbuh Mangku Nyoman Rike Aryasena yang mengantar koran ini menyusuri area pura.
Pura yang menjadi stana Dewa Wisnu dengan manifestasi sebagai Ratu Gede Taman ini, mempunyai dua palinggih di depan gua, yakni Palinggih Taksu pura dan palinggih Gedong Sari.