Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pretima Pura Kroya Disimpan di Merajan Pemangku; Tempat Mohon Berkah

I Putu Suyatra • Rabu, 22 Januari 2020 | 20:06 WIB
Pretima Pura Kroya Disimpan di Merajan Pemangku; Tempat Mohon Berkah
Pretima Pura Kroya Disimpan di Merajan Pemangku; Tempat Mohon Berkah

TABANAN, BALI EXPRESS - Datang ke Pura Luhur Kroya di Banjar Nyambu, Desa Nyambu, Kediri, Tabanan, Bali, jangan coba coba usil. Apalagi tidak minta izin di dekat pohon Kroya.


Ada ratusan monyet berkeliaran di dekat Pura Luhur Kroya, hampir mirip dengan Pura Pulaki di Buleleng.
Adanya taman pemandian di kawasan pura, semakin membuat ratusan monyet ini  betah di pura.
Pura Luhur Kroya yang terletak di dekat Sungai Yeh Sungi, Banjar Nyambu, Desa Nyambu, Kecamatan Kediri, Tabanan ini, namanya diambil dari nama pohon Kroya yang tumbuh di area pura.


Ketika Bali Express ( Jawa Pos Group) datang akhir pekan kemarin, pemangku Pura Luhur Kroya, Jro Mangku I Ketut Parwata, 68, mengajak melewati jalan di belakang rumahnya. Akses jalan utama menuju ke pura dengan pangempon 300-an Kepala Keluarga (KK) ini adalah sebuah gang, di sebelah utara rumah Mangku Parwata.


“Kalau piodalan warga melewati gang ini. Begitupun ketika membawa pretima ke pura,” ujarnya.


Kenapa pretima (benda yang disakralkan) dibawa ke pura? Rupanya cara seperti itu dilakukan, sebab Pura Luhur Kroya sudah kehilangan dua kali pretima, sekitar tahun 1960-an dan 1970-an. Merasa tidak aman menempatkan pretima di pura yang jaraknya cukup jauh dari pemukiman itu, maka Jro Mangku Parwata dan pangempon memutuskan menyimpan pretima  berbentuk singa, kuda, dan sebuah kotak itu, di merajan rumahnya.


Sambil berjalan menyurusi persawahan yang hijau, Jro Mangku Parwata  menjelaskan sekilas sejarah pura yang berlokasi hampir 300 meter dari rumahnya. Jika menelisik sejarahnya, pura ini tidak memiliki catatan sejarah tertulis. Hanya cerita tutur turun temurun, dimana pangempon pura adalah warga yang rarud  (mengungsi) dari Kekeran di Mengwi pada masa lampau. Jro Mangku Parwata menjelaskan, ketika sampai di tempat tinggalnya sekarang para leluhur hanya mendapati hutan. Hutan lebat memiliki sebuah Griya gaib yang disebut Bet Griya. Di Bet Griya ini diyakini yang   berstana Ida Ratu Gede Putus.


Dikatakannya, sebagai warga yang baru datang ke tempat baru, para leluhurnya kemudian menyatakan akan menyungsung (memuja) Ida Ratu Gede Putus, jika diberi keselamatan membuka hutan dan bermukim di hutan itu. “Semua permohonan tersebut dikabulkan, berjalan lancar dan selamat ketika awal bermukim. Makanya disungsunglah beliau oleh warga sejak saat itu,” ujarnya.


Untuk mencapai pura, ada puluhan anak tangga yang harus dilewati. Udara yang sejuk setidaknya mengurangi kucuran keringat di hari menjelang sore itu. Selanjutnya, mata akan tertuju langsung ke sebuah pohon yang ada tempat sesajen. Palinggih dengan bentuk pelangkiran besar itu, menempel di pohon Kroya. Jro Mangku Parwata mengajak untuk mencakupkan tangan untuk meminta izin untuk ke pura. “Sebelum masuk pura, hendaknya ucap permisi. Jangan sembarangan, sebab di taru (pohon) ada Ida Ratu Gede Gerombong Selem dengan Ratu Ayu dan Mas Mecaling malinggih, yang menjaga keamanan kawasan pura. Membawa canang ketika masuk ke pura kalau mau sembahyang,” terang pria pensiunan PNS tersebut.



Saran Jro Mangku Parwata ini didasari pengalaman, ada orang jatuh di tangga kemudian keseleo, dan tidak bisa sembuh, padahal sudah ke dokter. Pilihan terakhir ketika nunas baos (meminta petunjuk orang pintar) didapati bahwa orang tersebut kena tegur dari yang malinggih di pohon Kroya tersebut. Sebagai permintaan maaf, maka orang tersebut mempersembahkan banten dengan tipat dan telur di palinggih pohon. Dia meminta maaf di sana,” ucapnya singkat.


Setelah melewati pohon Kroya, pamedek akan jalan menuruni anak tangga, baru memasuki area pura. Nampak ada taman penuh air. Taman air ini adalah tempat mandi puluhan monyet. Monyet di kawasan ini diyakini adalah salah satu dari sejumlah rencang ( sosok penjaga) di Pura Luhur Kroya. Warga pun meyakini, bahwa tidak boleh memburu monyet maupun rencang lainnya di pura. Monyet di pura ini  jumlahnya sangat banyak, bahkan hingga ratusan. “Bisa sampai 250 ekor monyet di sini, hanya saja mereka tinggal di hutan sebelah sana,” ujar Mangku Parwata menunjuk ke hutan lebat di seberang Sungai Yeh Sungi.



Keberadaan ratusan monyet tentu memancing pemburu. Hal ini dijelaskan Jro Mangku Parwata, bahwa dahulunya ada dari desa lain datang berburu ke hutan. Hasil buruannya adalah monyet, yang kemudian digotong  dibawa pulang. Malang tak bisa dihindari, si pemburu kemudian jatuh sakit dan tidak  kunjung sembuh. Akhirnya diketahui sakitnya  akibat memburu monyet di kawasan Pura Luhur Kroya. Si pemburu lantas membawa  banten penebusan untuk meminta maaf sekaligus memohon kesembuhan. Karena berada dekat dengan  kawasan pura, ratusan monyet juga hadir ketika piodalan di pura yang jatuh setiap satu hari setelah Purnama usai Buda Kliwon Pahang (Manis Purnama).


Kedatangan monyet ke pura tentu akan mengganggu pamedek dan prosesi piodalan. Jro Mangku Parwata tak menyanggah ada gangguan dari monyet, namun semuanya bisa diatasi. Ia menerangkan bahwa pangempon menyiapkan banten pajati dan pala gantung dengan berbagai jenis buah, canang, dan segehan. Buah-buahan itu dipersembahkan di Bet Griya dekat Pura Luhur Kroya. “Itu dilakukan tiga hari sebelum piodalan di pura. Hasilnya ketika piodalan, ajaib tidak akan ada monyet yang mengganggu piodalan. Memang ada yang datang, namun monyet  itu  hanya santai di area jaba pura,” papar pria yang pensiun tahun 2008 itu. Diakuinya pernah lupa mengaturkan banten pala gantung. Monyet  kemudian datang dan mengamuk, membuat pamedek kebingungan karena mereka masuk dan  mencari buah-buahan untuk dimakan.



Selain ratusan monyet,  juga ada rencang berupa macan gading yang bisa dilihat di  kala tertentu. Ada juga buaya yang terlihat seperti biawak yang sering berjemur di atas batu, juga ada landak. “Monyet biasanya mandi pagi di taman dan berjemur. Saya sering lihat, biasanya jam 10 pagi,” ungkapnya.
Pura dengan konsep dwi mandala ini, palinggihnya semua ada di area utamaning mandala. Mulai dari Palinggih  Ratu Gerombong Selem, Ratu Nyoman, Ratu Gede Putus, Ratu Gede Barak Api, Ratu Ayu, Ratu Made, Glagah Pancung, dan Palinggih Taman. Palinggih Ratu Gerombong Selem terletak paling barat di area utamaning mandala. Palinggih ini memiliki sebuah patung yang bagian kepalanya tertutup kain hitam putih. Ratu Gerombong Selem  dianggap sebagai pemberi perlindungan bagi orang yang mempunyai karya atau upacara. Melalui sarana pajati, pamedek yang punya karya akan memohon kepada beliau agar  diberi keselamatan. “Biasanya Ida memberi keselamatan pada karya itu, menghindarkan dari ilmu hitam dan juga tidak mengizinkan wong samar dibawah kuasanya mengganggu yang punya upacara. Kalau tidak melakukannya, biasanya ada saja kendala, sate cepat habis atau makanan cepat basi,” imbuhnya.



Melangkah ke sebelah timur, terdapat Palinggih Ratu Gede Barak Api. Sesuai namanya, patung di palinggih ini berwarna merah. Palinggih satu ini menjadi tempat warga meminta agar cuaca tidak hujan ketika ada karya. Adapun sarana prasarananya berupa pajati dihaturkan di Palinggih Ratu Gede Barak Api. Kemudian di rumah disiapkan banten Wangi dan Prasdaksina, dihaturkan di palinggih dekat kayu yang dibakar. Pembakaran kayu ini harus dilakukan dan dijaga tetap menyala selama upacara si pemohon berlangsung.



Selain itu, ada Palinggih Glagah Pancung, sebuah palinggih patung berwarna abu-abu dengan saput hitam puth. Palinggih ini menjadi tempat memohon keberkahan untuk pembangunan. Menggunakan banten pajati, warga akan membawa bambu yang menjadi simbol pancung. Pancung ini tidak memiliki ukuran standar. Bersamaan dengan pajati, pancung dari bambu juga ikut dihaturkan di palinggih.
“Nantinya bambu dibawa pulang dan ditancapkan saat pembangunan pondasi, saat membangun  rumah, bendungan ataupun yang lainnya. Harapannya pembangunan lancar dan bangunan juga kokoh,” pungkasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #pura #sejarah pura #tabanan