Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Puseh Desa Buwit Penuh Misteri; Sembahyang Menghadap ke Barat

I Putu Suyatra • Minggu, 2 Februari 2020 | 01:35 WIB
Pura Puseh Desa Buwit Penuh Misteri; Sembahyang Menghadap ke Barat
Pura Puseh Desa Buwit Penuh Misteri; Sembahyang Menghadap ke Barat


TABANAN, BALI EXPRESS - Tidak hanya di Pura Mekah di Ubung saja  umat sembahyang menghadap ke barat. Di Pura Desa, Puseh, dan Bale Agung di Desa Buwit, Kediri, Bali, rupanya punya kemiripan. Namun, bedanya pura ini bukanlah pura pemaksan, namun pura kahyangan desa.


Menyusuri jalanan Desa Buwit akan menemukan pohon beringin besar menjulang tinggi di dekat Kantor Desa Buwit, Kediri, Tabanan. Pohon beringin itu tepatnya berlokasi di Pura Desa, Puseh dan Bale Agung. Setelah melihat pohon beringin, ada hal menarik lainnya, saat mata tertuju pada Pura Tri Kahyangan Desa, yang  pintunya menghadap ke timur. Posisi pintu pura ini tergolong unik, karena jarang ditemukan di Bali.



Bendesa Desa Adat Buwit, I Gusti Alit Putu Widana, 64, mengakui bahwa keberadaan Pura Desa, Puseh, dan Bale Agung memang cukup unik dan jarang ditemukan. Posisi menghadap ke timur, lanjutnya, tidak hanya pintu masuk, tetapi juga palinggih utama di pura.  “Palinggih Padma Tiga sebagai palinggih utama pura juga menghadap ke timur, sehingga kami sembahyang akhirnya harus menghadap ke barat,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.


Memasuki pura dari arah timur, pura dengan Tri Mandala ini memiliki bale tempat pertemuan di sebelah nistaning mandala. Bale Agungnya posisinya  menghadap ke selatan, namun menurut Bendesa Adat dua periode ini, untuk sembahyang pamedek  tetap menghadap ke barat.



Dikatakan I Gusti Alit Putu Widana, sejarah Pura Desa, Puseh dan Bale Agung yang berlokasi di perbatasan Banjar Kelakahan Gede dan Delod Sema tersebut, memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan Puri Kaba Kaba. "Buwit pada masa lalu adalah wilayah Kerajaan Kaba Kaba, sehingga konon dulunya pembangunan Pura Desa, Puseh dan Bale Agung di Desa Buwit atas restu dari Raja Kaba Kaba," terangnya.


Dalam restu tersebut, lanjutnya, diketahui Raja Kaba Kaba yang memerintah kala pembangunan pura meminta agar posisi pura menghadap ke timur. Alasan posisi ini menghadap ke timur pun tidak dijelaskan secara spesifik dari panglingsir, sehingga I Gusti Alit Putu Widana tidak bisa memberikan keterangan mendetail.  


“Ada yang mengungkapkan karena posisi Puri Kaba Kaba di sebelah timur desa, maka posisi pura akhirnya dibuat menghadap ke timur,” terangnya.


Di utamaning mandala, memang  tidak semua palinggih menghadap ke timur.  Namun, palinggih dengan batu hitam yang merupakan Padma Tiga berdiri dengan posisi ke timur. Sebagai palinggih utama, maka warga Desa Buwit menjadikan posisi Padma Tiga sebagai patokan arah sembahyang di pura yang piodalannya jatuh Sukra Pahing Wuku Dunggulan itu.


“Karena Palinggih Padma Tiga menghadap ke timur, maka kami sebagai warga desa saat sembahyang juga akhirnya menghadap ke barat. Kami pun tidak pernah mempertanyakan tentang kenapa  warga di desa kami berbeda posisi sembahyangnya. Sebab, sudah berlangsung sejak lama sekali,” ucap I Gusti Alit Putu Widana.


Soal pohon beringin yang ditunjuk I Gusti Alit Putu Widana, rupanya punya cerita mistis yang cukup melegenda bagi warga desa. Di  pohon beringin tersebut banyak orang mengalami hal yang tidak masuk akal.


Salah satu cerita yang umum diketahui warga adalah larangan menggunakan saput (kain) berwarna poleng (hitam-putih) ketika melintas di jalan dekat pohon beringin. Larangan ini berlaku bagi warga yang bukan pangempon pura.


Jika ada orang yang melintas dengan saput poleng, lanjutnya, maka mereka seolah akan melihat jalan raya di sebelah beringin, padahal jalan tersebut hanyalah jalan setapak biasa.


“Jadi seolah yang dilihat jalan raya, jadi mereka akan tertarik melintas ke pura dan sesampai di sana tiba-tiba melihat  laut atau sungai. Akibatnya, mereka kebingungan dan mengangkat kainnya ke atas. Peristiwa itu pernah dialami rombongan sekaa gambel,” beber pria yang juga bekerja sebagai petani di waktu luangnya tersebut.



Dikatakan I Gusti Alit Putu Widana, bahwa jalan setapak dekat beringin dahulunya adalah akses utama. Sehingga banyak warga yang bukan dari Buwit tidak tahu larangan tersebut, dan lantas mengarah langsung ke sana. Walaupun hanya berupa jalan setapak. “Ada  orang suka berburu  burung, dan kebetulan bertengger di pohon beringin. Namun, pemburu tersebut rupanya melihat jalan di lubang beringin. Sebelumnya memang ada lubang, nah di sana terlihat jalan beraspal, juga melihat   sungai. Padahal, kalau dilihat seksama, itu got bukan jalan,” paparnya, sambil menunjuk bekas lubang yang kini tertutup batang beringin.


Dikatakannya, hingga saat ini  warga Desa Buwit menghormati larangan di pohon beringin Pura Desa, Puseh dan Bale Agung. “Untuk mencegah kejadian yang tak diinginkan, akhirnya ada jalan baru beraspal yang dibangun di sebelah selatan pura, sehingga warga aman melintas, tidak lagi ke jalan dekat beringin yang jadi akses utama,” pungkas I Gusti Alit Putu Widana.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #unik #hindu #pura #sejarah pura #tabanan