Sebuah ritual yang sangat unik di Desa Subaya, Kintamani, Bangli. Disebut dengan nama Ngusaba Sambah, ada beberapa pantangan dan keyakinan atas ritual ini. Khususnya menyangkut ayunan besar.
NYOMAN DARMA WIBAWA, Bangli
RANGKAIAN upacara Ngusaba Sambah dilaksanakan bersamaan setelah upacara Ngusaba Desa, upacara ini jatuh tepat pada purnama sasih kapitu yang dilaksanakan di Penataran Agung Pura Bale Agung.
Dalam rangkaian upacara Ngusaba Sambah ada satu hal yang menjadi pembeda dari upacara lain yaitu ada Sanggah atau tempat pemujaan kepada Ida Bhatara yang dibuat diatas ayunan besar terbuat dari bambu, tali rotan, dan kayu dadap tis.
Ayunan tersebut dibuat tidak sembarangan namun ada beberapa proses yang harus di lewati agar ke sakralannya tetap terjaga. Upacara pembuatannya juga disebut Ngeramon Sanggah yang dilakukan setelah upacara Ngeramon Dangsil Pasek. Bahkan tinggi dari tiang bambunya mencapai ketinggian 12 sampai 15 meter.
Bendesa Adat Desa Subaya Wayan Bali Arta menjelaskan bahwa dibuatnya ayunan besar tersebut adalah rangkaian dari upacara Ngusaba Sambah yang disebut ngeramon sanggah. Hal ini dilakukan selama 3 hari oleh krama, namun ada beberapa harus dikerjakan dengan diawali oleh Paduluan Desa seperti menanam tiang penyangga alias tungked dan pembuatan tali anyaman yang dipakai mengikat ayunan setelah itu baru bisa dilanjutkan oleh krama.
Tahap pertama pembuatan ayunan diawali dari mencari hari baik untuk menanam dua batang tiang panjang yang disebut pemeneng dari sanggah yang terbuat dari batangan bambu Bali, tahap selanjutnya baru di pasang dua batang bambu petung yang menempel dengan dua tiang utama yang berfungsi sebagai tungked, setelah itu selesai selanjutnya baru di masing-masing pojok dipasang bambu petung dengan total empat batang yang berfungsi sebagai penyemah atau penyangga. Kemudian diutara dan selatan di berikan sepasang bamboo petung lagi yang berfungsi sebagai penunjang dan ditengah-tengah diisi tangga agar bisa naik menuju sanggah tempat Ida Bhatara berstana, proses terakhir pembuatan ayunan yang dibuat dari kayu dadap tis. “Ini semua ada rangkaiannya dari mulai dari mapejati sebelum dilanjutkan manam tiang utama yang harus dilakukan paduluan desa kemudian baru dilanjutkan oleh krama, nah untuk masing-masing bambu punya nama sekaligus fungsi masing-masing ada yang disebut pemeneng, tungked, penyemah, dan penunjang, itu semua dibuat selama 3 hari secara gotong royong oleh krama,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Post Gorup).
Lanjut Wayan Bali menceritakan bahan yang dipakai untuk membuat Sambah ini semuanya berasal dari alam seperti bambu Bali yang dulunya bahan utama yang dipakai oleh para Pangelingsir namun karena ukurannya yang lebih kecil dari bambu petung maka dirasa kurang kuat jika dipakai untuk menahan beban sanggah diatas jadi diputuskan untuk memakai dasar awal bambu Bali kemudian sisanya dipakai bambu petung agar tidak mengurangi makna dari bahan utama. “Awalnya pakai bambu yang besar dulu, baru tempel dengan bamboo petung. Agar maknanya tidak hilang,” lanjutnya.
Kemudian ayunan yang tebuat dari tali rotan tanpa di belah dua agar kuat untuk menahan beban dari papan ayunan yang terbuat dari bahan kayu dadap tis yang dipercaya sebagai kayu suci atau kayu sakti, nantinya dipapan ini akan diisi dengan hasil bumi yang ada di Desa Subaya.
“Semua hasil bumi, kayu dapdap tis dipercaya sebagai kayu suci,” imbuhnya.
Sementara itu salah seorang tokoh yang dipercaya sebagai Penasihat Adat Desa Subaya Ketut Suar menambahkan bahwa Setelah selesai melaksanakan proses Ngeramon Sanggah selama tiga hari barulah dilakukan upacara Nguntap atau menghadirkan (ngodal) Ida Ratu Ayu Mas Subandar Bhatara yang berstana di Pura Pengubengan. Disaat bersamaan juga dilakukakan ngodal Ida Bhatara yang berstana di Pura Pamujaan setelah dilakukan ngodal di kedua pura, kemudian Ida Bhatara di bawa menuju menuju ke Pura Bale Agung untuk di tempatkan di Sanggah yang ada diatas ayunan.
Setelah Ida sudah berada di Sanggah baru dipersembahkan rayunan lan canang raka oleh krama. Kemudian kesokan harinya kembali dilakukan upacara mengundang atau ngulapin Ida Bhatara di Pura Puseh, Pura Dang, dan Ida Bhatara di Khayangan Tiga masing-masing setelah proses selesai kemudian Ida Bhatara di bawa ke Sanggah ini, Setelah semua sudah berstana di atas barulah diberikan persembahan ajengan rayunan setelah itu baru diberikan persembahan tarian dari masing pragina dan sampai pada puncak acara,“Seperti itulah rangkaian setelah Ngeramon Sanggah, Ida Bhatara semuanya didatangkan kemudian distanakan di Sanggah yang ada di atas ayunan,” tambahnya.
Lanjut Suar ada beberapa aturan dan juga pantangan yang harus diikuti oleh krama seperti Ayunan sendiri bisa dipakai setelah upacara puncak selesai dengan dimulai pertama oleh paduluan desa kemudian dilanjutkan oleh Mangku Alit baru setelah itu dibebaskan untuk siapapun. Untuk pantangannya sebelum upacara berlangsung ayunan tidak boleh dipakai atau dinaiki karena hal tersebut akan mengurangi kesucian ayunan, namun jika dipakai selama satu hari setelah puncak diyakini kalau ada krama memakai ayunan bahkan sampai jatuh tidak akan terjadi apa-apa terhadap krama tersebut. “Jika digunakan sehari setelah upacara puncak, walaupun jatuh dari ayunan tidak apa apa,” sebut Suar.
Bahkan hal ini wajib bagi seluruh krama termasuk bayi walaupun tak mau berayun. Setidaknya menyentuh pun tidak apa karena diyakini agar tidak terjadi apa kepada bayi tersebut. Tapi jika lewat dari satu hari setelah puncak bahkan sampai semua dibongkar kembali ada krama menggunakan ayunan maka dipercaya akan terjadi celaka. Atau akan ada kejadian tertentu terhadap krama tersebut hal ini karena Ida Bhatara di percaya tidak memberikan izin. “Seperti itu aturan dan pantangannya, kemudian siapapun bisa mencoba ayunan ini termasuk krama yang bukan asli disini,” tutupnya.
Editor : I Putu Suyatra