DENPASAR, BALI EXPRESS - Palinggih berdampingan dengan kloset begitu viral. Para pemilik mengaku mendapat pawisik menjadi latar belakang pembuatannya. PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Bali pun turun tangan untuk atasi masalah ini. Lalu bagaimana solusinya mencerna pawisik yang aneh-aneh?
Direktur Pasca Sarjana Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa, M.Si., menyatakan pembuatan kloset di samping palinggih tidak sesuai etika. Dirinya meyatakan itu adalah kegiatan yang menyimpang karena tidak berdasarkan sastra.
“Tidak baik itu, ini tidak sesuai dengan sastra dan tradisi di Bali,” ucapnya dengan tegas.
Prof. Wayan Sukayasa pun mengerti bahwa terkadang ada pawisik yang datang lewat mimpi. Namun ia mengatakan itu jangan dipercaya begitu saja. Pawisik di mimpi menurutnya bisa dipercaya atau tidak, untuk itu umat harus memilahnya menggunakan pemahaman Catur Pramana. Sehingga bisa beragama dengan benar dan baik tidak menjadi blunder ke depannya.
Catur Pramana sendiri empat pedoman pengamatan dalam Hindu untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Terdiri dari, Pratyaksa Pramana berarti mengamati lansung dan membuktikan dengan empiris. Kedua Anumana Pramana membuat kesimpulan apakah hal yang diamati logis. Ketiga Sabda Pramana, merujuk apakah solusi yang ingin dilakukan itu sudah sesuai dengan teks wahyu di kitab suci, sastra maupun pendapat orang suci.
“Terakhir ada Upamana Pramana, membandingkan dengan hal yang relevan di lapangan. Jika tidak dibenarkan oleh empat cara pembuktian adi, maka apa yag dilakukannya itu salah dan tidak baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungan,” pungkas Prof. Sukayasa.
Editor : I Putu Suyatra